| Jalur Gunung Manglayang. |
Otak atik
google maps dan surfing sana-sini, terbersit
ide yang sepertinya menyenangkan: Mendaki tiga gunung kecil di sekitaran
Bandung dalam tempo tiga hari. Satu gunung satu hari:
Manglayang-Tampomas-Puntang. Mengukur waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan
sepertinya memungkinkan sekali. Namun seperti kebiasaan saya dalam naik gunung,
menghindari meriset secara mendetail agar perjalanan jadi sedikit menyenangkan.
Gunung Manglayang
Sebenarnya
rencana gunung yang pertama saya daki yakni Gunung Puntang, namun karena
berpergian pada long weekend, kemacetan pun tidak bisa dielakan lagi, cuma bisa
dinikmati saja. Berangkat pukul sepuluh malam dari Terminal Rambutan, baru
pukul empat pagi saya masuk ke Bandung, sehingga langsung saja diputuskan
langsung ke Pintu Tol Cileunyi untuk naik ke Gunung Manglayang dulu.
Salah satu
kebiasaan saya yang lain, sebisa mungkin tidak melakukan pendakian secara solo,
apa enaknya? Selain itu juga menurut saya kurang aman. Pendakian kali ini, saya
ditemani oleh rekan pendaki dari Semarang, Findi si Jomblo. Hanya berdua saja,
lebih enak dan fleksibel, jika terlalu banyak orang malah merepotkan dan rempong,
hehe.. egois sekali memang.
Sampai di
Pintu Tol Cileunyi, bingung juga bagaimana menuju basecamp, sempat bertanya ke
beberapa pendaki yang banyak juga turun di situ, malah diacuhkan dengan muka
seperti merendahkan, “Memang ndak search dulu, Mas?”, kata salah satunya.
Haha.. yasudah kalau tidak mau menjawab, masih ada Bapak Tukang Ojek yang masih
mau menjawab dengan jawaban normal, bukan via google.
Untuk
mempersingkat waktu, karena angkot pun belum ada jam segitu, kami memilih naik
ojek sampai basecamp yang ternyata tidak begitu jauh, dengan waktu tempuh
kurang lebih dua puluh lima menit, kami harus membayar lima puluh ribu seorang.
Sampai di basecamp Batu Kuda, suasana juga masih sepi, hanya satu dua warung
yang buka. ‘Kantor’ basecamp juga masih tutup. Setelah beristirahat, sarapan
mie rebus, pukul tujuh pagi kami memulai pendakian.
Jalur
pendakian Gunung Manglayang sangat jelas, tidak perlu takut tersesat jika
mengikuti jalur yang sudah ada. Ohya, dari ketiga gunung tersebut, kami mendaki
tanpa tahu jalan, seperti biasa. Walaupun gunungnya kecil, hanya 1,818 mdpl,
namum jalur pendakian langsung menanjak ke atas. Vegetasi tidak terlalu rapat,
dan ada beberapa batu-batu besar di sepanjang jalan.
Tidak
terasa, satu setengah jam kami mendaki, puncak sudah dapat kami capai. Tidak
seperti umumnya gunung, Puncak Manglayang berupa lapangan luas dengan beberapa
pepohonan yang menutupi dari pemandangan sekitar. Sepertinya asyik buat dijadikan
tempat berkemah.
Untuk turun,
kami membutuhkan waktu satu jam saja dengan berjalan santai. Asyik sekali pagi
itu, tidak panas namun tidak hujan. Sesampai di basecamp, suasana sudah ramai
dengan banyaknya pengunjung yang menikmati long weekend dengan bersantai di
bawah pohon pinus, berkemah, atau aktivitas lainnya. Beristirahat sejenak, kami
mencari tukang ojek untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Tampomas.
Gunung Tampomas
Saat menuju
Gunung Tampomas, kami (baca: saya) diwarnai dengan sedikit drama kejar-kejaran
angkot karena kamera semata wayang tertinggal di angkot! Apes memang!
Menuju
Sumedang kami menggunakan elf dari pertigaan Batu Kuda, agak sedikit bingung
pada awalnya karena jujur saja kami tidak tahu harus turun di mana, membaca
petunjuk di internet tidak begitu menolong, alhasil kami bertanya ke Pak
Kondektur dan diarahkan turun di Pertigaan Legok dilanjut menuju Narimbang
sebagai titik awal pendakian.
Di sinilah
drama dimulai, sesudah turun dan – beruntunglah – pesan hotel murah meriah di dekat
situ, baru saya sadar kamera Nikon J5 yang belum lama dibeli tertinggal di elf.
Langsung saya lari balik, mencari angkot di tengah hujan mengejar elf tersebut.
Berdasar ingatan samar-samar, sepertinya warna elf adalah hitam sehingga saya
berhentikan dan tengok semua elf yang berwarna hitam. Tetap tidak ketemu!
Hingga satu jam lamanya naik ojek, sampailah saya di perempatan yang cukup
ramai, sudah dekat dengan Indramayu. Meminta bantuan preman sekitar, bertanya
apakah ada solusi.
Setelah
putus asa tetap tidak menemukan kamera kesayangan, lewatlah elf berwarna pink,
sekilas lihat, saya merasa kenal dengan salah satu penumpang berbaju merah,
kondekturnya juga tidak asing. Benar saja, alhamdullillah kamera masih ada di
bawah jok kursi belakang. Pak Kondektur berbaik hati menunjukan kamera
tersebut. Terima kasih Pak!
Lelah
kejar-kejaran, sesampai di hotel saya langsung tidur, menyiapkan stamina untuk
pendakian esok hari.
Narimbang
dapat ditempuh dengan naik angkutan desa berwarna kuning dari Pertigaan Legok,
kurang lebih 20 menit sampailah kami di pintu masuk Narimbang, dari situ kami
harus naik ojek kurang lebih 15 menit. Pukul tujuh pagi kami sampai di situ,
seperti basecamp Manglayang, Narimbang juga merangkap sebagai tempat wisata
alam. Rupanya di situ juga terdapat air terjun yang lumayan ramai dikunjungi
saat akhir pekan. Sama seperti hari sebelumnya, Narimbang masih sepi sekali
sewaktu kami datang.
Setelah
melakukan pendaftaran yang baru dibuka pukul delapan pagi, kami langsung
memulai pendakian. Menurut info Mas Petugas Basecamp, jalur aman untuk didaki
karena tidak ada percabangan, hanya satu saja. Yah, entah saya yang dudul atau
sebaliknya, jalur sampai ke Pos 2 banyak sekali percabangan. Baru setelah kami
bertemu dengan orang lokal yang sedang mencari kayu, kami diberitahukan arah
yang benar. Untuk mencapai Pos 2 Pasir Seleh, kita harus melewati hutan, kebun,
dan lading.
Dari Pos 2
ini, perjalanan mulai asyik karena hanya melewati hutan yang teduh namun tidak
terlalu lebat, secara keseluruhan sampai ke Pos 4, jalur sangat landai.
Kira-kira sepuluh menit sebelum sampai di Pos 4, Findi sudah merasa tidak kuat
lagi dan berucap sampai di sini saja. Saat itu kami sudah berjalan hampir tiga
jam namun masih belum tahu masih seberapa jauh lagi, apalagi ditambah ucapan
rombongan anak-anak yang juga hendak naik, “Wah, puncak masih jauh, aa’,
mungkin masih setengah perjalanan lagi.” Makin down si Findi ini. Untuk
menenangkan diri, kami beristirahat dan mulai mempersiapkan santap siang.
Setelah perut kenyang, saya putuskan untuk survey jalan terlebih dahulu,
ternyata baru 10 menit berjalan, sudah bertemu Pos 4.
Terpacu
semangat karena Pos 4 sudah tidak jauh di depan, kami memulai perjalanan lagi.
Dari Pos 4 ke Pos 5 dan ke Pos 6, jaraknya tidak terlalu jauh. Namun diganti
dengan trek yang tidak lagi landai. Setengah jam kemudian, sampailah kami di
Puncak Gunung Tampomas, sialan anak-anak itu, sama-sama tidak tahu jalan
rupanya.
Puncak
Tampomas biasa saja, terbuka dengan beberapa bagian yang bisa dijadikan tempat
mendirikan tenda. Luasannya kurang lebih sama dengan lapangan bola voli. Karena
puncak tertutup kabut saat itu, kami tidak bisa menikmati pemandangan sekitar.
Asyik berfoto, setengah jam kemudian kami putuskan untuk segera turun agar
tidak kemalaman di jalan menuju Bandung, menuju gunung ketiga: Puntang!
| Pos Batu Kuda (Pos Pendakian). |
| Jalur Gunung Manglayang (2). |
| Puncak Gunung Manglayang. |
| Pos Pendakian Gunung Tampomas. |
| Jalur Gunung Tampomas yang Landai. |
| (Ini) Kawah Gunung Tampomas. |
| Puncak Gunung Tampomas. |
| Puncak Gunung Tampomas (2). |
| Teras Cihampelas. |
| Ciwalk! |
Gunung Puntang
Kurang lebih
pukul sembilan malam, kami sampai lagi di Bandung, menuju ke kosan teman KSR
yang bekerja di Bandung untuk menumpang bermalam, Imma namanya. Seharusnya
pula, dia ikut saat dua pendakian sebelumnya, namun karena satu dan lain hal
tidak jadi. Setelah makan, mandi, dan beristirahat, Findi mengutarakan bahwa
dia cukup dua gunung saja. Besok tidak akan ikut mendaki ke Gunung Puntang.
Ah sial, sepertinya
rencana pendakian ke Puntang memang harus ditunda dulu. Memang stamina Findi
sudah ngedrop, saat ke Tampomas pun sudah hampir saja menyerah. Mendaki gunung
memang mengasyikan, tetapi memaksakan mendaki gunung adalah tindakan konyol,
malahan bisa jadi menjadi tindakan bunuh diri. Alhasil kami bertiga menikmati
hari ketiga di Bandung di pusat kota, jalan-jalan ke mall, jalan-jalan ke
Skywalk Cihampelas Walk yang baru, dan tentu saja menikmati makanan yang enak.
Kali ini,
saya memang belum kesampaian menjajal medan Gunung Puntang, tapi tidak mengapa,
masih ada kesempatan lain.
Keep safe,
clean, and fun climbing. (dm 6 Mei 2018)
No comments:
Post a Comment