Jalan-jalan Gratis ke Pasar Apung Lok Baintan

Teringat tayangan jeda salah satu stasiun swasta yang ikonik sekali saat saya masih kecil, di mana terlihat ibu-ibu yang berjualan di atas sampan di sungai. Gambaran yang apik dari pasar apung tradisional masyarakat Banjarmasin yang masih melestarikan budaya leluhurnya. Sekarang, saya merasa sangat beruntung dapat menyaksikan itu semua, secara gratis pula.

Pasar Apung Lok Baintan.
Ibu-ibu tersebut atau dalam bahasa Banjar dipanggil acil mendayung sampan dengan santai saling menjajakan barang dagangan yang berwarna-warni. Meriah. Itulah yang gambaran yang saya rasakan, selidik punya selidik, ternyata kebanyakan yang dijual berupa aneka buah-buahan yang hampir sebagian besar belum saya ketahui. Lebih karena penasaran, saya membeli sedikit-sedikit dari buah-buahan tersebut hanya sekadar untuk mencicipi bagaimana rasanya.

Wisata Murah [Sekali] dengan Kereta Api

Minggu Senin kemarin, pertama kalinya saya mencoba berwisata murah dengan kereta api. Berada di Kota Cilegon yang lumayan jauh dari Ibukota membuat sarana transportasi menjadi bukan barang yang murah. Dari membuka beberapa laman internet, baru saya ketahui ternyata ada kereta api yang rutin beroperasi dari Merak ke Jakarta, malahan ada empat kali perjalanan setiap harinya. Dari situlah terbesit ide untuk jalan-jalan dengan kereta api.

Suasana di Dalam Commuter Line.
Tujuan jalan-jalan kali ini memang tempat wisata yang sudah terkenal umum dan berlokasi dekat dengan stasiun kereta. Iyalah, karena saya hendak menggunakan moda kereta api, tentunya lokasi tujuan pun harus disesuaikan, malas juga kalau harus berganti moda aspal selama berjam-jam. Terdapat dua lokasi yang menjadi tujuan saya: Kota Tua dan Kebun Raya Bogor kemudian sambil menikmati Kota Bogor di malam hari.

Terlena di Togean (Bagian 2)

Untuk membaca Bagian 1 silahkan buka link berikut.

Sengaja saya bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, bergegas menyambut keluarnya sang surya dari peraduan di dermaga depan resort. Tampaknya hanya saya sendiri yang bangun sepagi itu. Hanya duduk saja menikmati suasana pagi. Sayang saya berada pada sisi pulau “bagian senja”, sisi pulau yang tidak bisa melihat matahari terbit, hanya bisa melihat matahari tenggelam. Tetapi tidak menjadi soal, pagi itu tetap terasa nikmatnya.

Berfoto dengan Anak-anak Bajo.
Snorkeling Sepuasnya
Hari kedua di Togean saya niatkan dalam hati untuk snorkeling sepuasnya di sini. Sengaja saya ajak pasangan dari Luwuk tersebut untuk patungan, bayar setengah pun tidak mengapa, ajak saya. Kami menyewa perahu untuk setengah hari, karena siangnya sudah harus mengejar perahu Pelni yang berangkat jam dua siang dari Wakai menuju Ampana.

Terlena di Togean (Bagian 1)

Akhirnya ke Togean
Ya, akhirnya saya bisa ke Togean. Semenjak menginjakan kaki pertama kali di Luwuk, Banggai pada Juni 2013 baru Maret 2015 akhirnya impian ke sini tercapai juga. Hampir dua tahun lamanya. Bagi saya, Togean memang seindah yang diceritakan, bahkan lebih indah lagi. Dan selama ini, Togean cuma mengendap di dalam ingatan yang akhirnya hampir setahun berlalu, baru saya menuangkan dalam bentuk tulisan.

Perkampungan Suku Bajo.
Bagi saya, Togean adalah destinasi paling indah di semenanjung Sulawesi Tengah. Taman Nasional Togean ini masuk ke dalam Kabupaten Tojo Una-una. Untuk menuju ke sini kita dapat berlayar dari Ampana atau Gorontalo. Untuk menuju Ampana sendiri dapat melalui Luwuk, Banggai atau dari Palu. Sempatkan waktu yang cukup karena walau akses sudah lumayan gampang, jarak Ampana masih delapan jam dari Palu atau enam jam dari Luwuk. Belum lagi penyebrangan tiga jam menuju Wakai, pelabuhan terdekat untuk disambung speed boat atau perahu kecil menuju resort di Togean.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...