![]() |
| Kawah Gunung Tambora. |
Memandang
keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam
yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung
inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim
panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya
satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti
hilang.
Jalur yang Rapat dan Panjang
Untuk
menghemat waktu, kami menggunakan jasa ojek untuk menuju pintu hutan seharga 35
ribu yang membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari basecamp rumah Pak
Saeful. Pintu hutan gunung satu ini biasa saja, hanya seperti percabangan
dengan plang kecil dari kayu yang dipaku di pohon. Papan penunjuk jalan pun
tidak begitu besar.
Kesan yang
mendalam saat di perjalanan yakni kondisi jalur yang rapat dan dan panjang. Sampai
pos 5, jalur didominasi oleh tumbuhan dan pepohonan yang rimbun namun
landai,tidak begitu banyak tanjakan. Asyiknya, di sepanjang jalan banyak
pohon-pohon besar yang tumbang sehingga mengharuskan kita berjalan merangkak di
bawahnya atau merayap di atasnya, menyenangkan sekali. Namun sialnya, dari pos
3 ke pos 5, banyak juga tanaman jelatang yang mengintai, pastikan tangan tidak
melambai-lambai sembarangan karena kalau tidak, hmm… rasakan sesasi panas menyengat
di kulit, hehe..
Setelah
seharian berjalan, kami memutuskan untuk bermalam di pos 3, selain tempat yang
lapang, jarak ke puncak sudah tidak begitu jauh lagi. Pos 3 berupa dataran pada
punggungan bukit dengan pepohonan yang tidak begitu rapat, cocok untuk lokasi
bertenda. Mengistirahatkan kaki di dalam tenda sambil menunggu malam rasanya
nikmat sekali.
Menuju Puncak!
Akhirnya,
pukul 3 pagi kami berangkat meninggalkan tenda setelah rencana pada pukul 1
cuma terbangun dan tidur lagi, kemudian baru membuka mata dan bangun pada pukul
2. Satu-satunya tim pendaki lain dari Kanada-Belgia yang kami temui sudah
berangkat duluan sejam yang lalu. Alhasil, pekatnya dini hari itu hanya milik
kami bertiga, tanpa antrian, tanpa suara bising pendaki lain. Sunyi. Nikmat.
Menurut
Arman, porter kami, jarak dari Pos 3 ke Pos 4 dapat ditempuh hanya dalam waktu
setengah jam. Yah, itu kan kaki porter, bagi kaki kami waktu tempuh tersebut
harus dikalikan 2, hehe.. Jalur sudah mulai sedikit menanjak dan jelatang makin
banyak saja. Pukul 5 pagi kami sampai di Pos 5, cuaca sudah mulai sedikit
terang walau masih remang-remang. Dari sinilah trek sesungguhnya dari Gunung
Tambora dimulai.
Sepanjang
tanjakan yang lumayan menyiksa tersebut masih dapat kita jumpai eidelweis dan
pepohonan walau sudah jarang. Sayangnya, rerumputan jalur ke puncak berwarna
hitam legam tanda sebelumnya sempat terjadi kebakaran di sini. Pada beberapa
sisi masih terlihat asap mengebul, untung saja kami datang setelah kebakaran
selesai. Tidak bisa kubayangkan jika kami terjebak di tengah kobaran api.
Sepertiga
jalur terakhir ke puncak, jalur berganti dengan bebatuan dan kerikil, agak
sedikit labil namun masih enak dilewati. Makin ke atas, jalur semakin susah,
nafas semakin kembang kempis dan lutut semakin berat melangkah. Entah karena
sudah lama tidak mendaki atau perut yang makin maju (sepertinya gegara kebanyakan
nasi padang) saya jauh tertinggal di belakang. Badan serasa sudah tidak kuat,
tetapi selangkah demi selangkah akhirnya sampai juga di pinggiran kawah.
Tapi jangan
senang dulu, dari pinggiran kawah ke puncak masih lumayan jauh melewati ‘padang
pasir’ dan melompati rekahan-rekahan puncak Tambora. Pada satu bagian kita
harus menuruni rekahan untuk naik kembali ke atas dan pada bagian lain kita
harus melompati rekahan dengan jarak yang lumayan jauh. Untuk kondisi tubuh
yang agak ngedrop, jalur ke puncak
benar-benar memacu andrenalin.
Pulang
Saat
berangkat menuju puncak dari Pos 3, kami membawa air 1 botol 1,5 liter, 1 botol 1 liter,
dan 1 botol 600 ml. setelah tiba di pinggiran kawah, jumlah air hanya tinggal
seteguk saja. Tampaknya kami harus turun dari puncak tanpa persediaan air.
Bagiku yang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak, perjalanan turun kala itu
benar-benar melelahkan dan menyiksa. Tertatih-tatih memilih pijakan yang kuat
dipijak benar-benar menguras tenaga. Sempat berkali-kali beristirahat cukup
lama, bahkan sempat tertidur.
Setelah
sampai di Pos 5, mendapatkan air yang agak keruh berwarana kemerahan serasa
minum fanta dingin, nikmat sekali, hehe… Lumayan untuk dapat mengembalikan
dahaga dan tenaga guna melanjutkan perjalanan. Sejam kemudian kami sampai di
Pos 3, tiduran sejenak, makan, dan packing
kembali untuk melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan bermalam sekali lagi
di Pos 2 yang sumbernya air melimpah, atau di Pos 1 jika masih tidak terlalu
malam.
![]() |
| Pos 5. |
![]() |
| Tepian Kawah. |
![]() |
| Pinggiran Kawah. |
![]() |
| Puncak Tambora. |
![]() |
| Jelatang. |
![]() |
| Air di Pos 5. |
![]() |
| Jalur yang Terbakar. |
![]() |
| Menyusur Pohon. |
![]() |
| Jalur yang Rimbun. |
Keep save, clean, and fun climbing! (dm
20Nov14)
















Gan boleh minta kontak pak saeful....berminat ke tambora ini....thanks
ReplyDeleteEmail yah gan tofan_tri@yahoo.co.id
082340693138 -- Pak Saiful.
Deletethanks catper ke Tambora..
ReplyDeletebtw apa ada info dari Desa Pancasila ke Pelabuhan Pototano harus kemana dulu?
Sepertinya ada saya bahas di chapter #3. Silahkan dibaca lagi. :)
Deleteralat, chapter #1.
DeleteKapok nggak kira"
DeleteKapok nggak kira"
Deletendaklah....
DeleteNggk kapok ke tambora lagi boss. . .
ReplyDeletendak dunk, hehe...
Delete