Saat itu
kami sedang dalam perjalanan balik dari Tambora, ketinggalan bus
Calabai-Mataram, kami terpaksa putar haluan menuju Dompu. Dompu adalah kota
kecil yang berada di jalur trans Bima-Jakarta, tentunya dari sini lebih mudah
untuk mencari angkutan ke arah Mataram untuk turun di Pototano. Namun jangan
salah, tujuan kami bukanlah Pototano, namun pulau kecil nan cantik yang
terletak tidak jauh dari penyebrangan feri di Pulau Sumbawa tersebut. Namanya
Kenawa.
Yuk, Mampir ke Kenawa!
Bus yang
seharusnya berangkat jam delapan malam molor hingga dua jam. Entah alasan klise
apalagi yang bakal dilontarkan agen bus di Dompu ini. Aku tidak butuh alasan, aku
butuh tumpangan ke Pototano. Sejam yang lalu pun kami sempat dipindahkan dari
Terminal tempat kami menunggu bus dari jam lima sore, “Ada jembatan rusak
sehingga bus tidak bisa masuk terminal”, kata agennya berkilah.
Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua
Jika dilihat
dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil.
Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya
tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI.
Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi
menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra
saat menggapai puncaknya.
![]() |
| Pulau Dua dari Atas. |
Tepat
setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan
belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter
dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin
bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun?
Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah,
bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.
Lu Kapan ke Lukapan?
Tepat
setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung
Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat
memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang
kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk
membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali
melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!
![]() |
| Pulau Dua dari Lukapan. |
Pada kali
ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut
bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan.
Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu,
sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat
seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.
Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk
Setahun
lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin
banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya
mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang
berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air
Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak
Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.
![]() |
| Air Jatuh Laumarang. |
Untuk menuju
kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik
Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau
empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan
moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari
Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak
dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum
diaspal.
Tambora Bercerita (#3) Puncak!
Tepat pukul 9
lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851
mdpl. Finally I made it! Setelah
perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari
puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang
membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung
setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah
terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
![]() |
| Kawah Gunung Tambora. |
Memandang
keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam
yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung
inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim
panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya
satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti
hilang.
Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila
Kaget! Itu
adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis
yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya
berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang
lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya
sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”
“La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya
di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah
ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya
menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana,
sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak
gelap dan horor di mata saya.
Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai
Jarak antar
kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak
masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus:
kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa,
dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak
di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan
ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul
satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!
Saking
banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki
kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus
penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan
moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih
tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.
![]() |
| Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai. |
Muria, Gunung Kecil dari Kudus
Jika orang
mendengar kata ‘Muria’, mungkin yang terbayang pertama kali di benaknya adalah
salah satu nama sunan dari Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Tapi,
taukah kawan kalau Muria adalah nama sebuah gunung kecil di Kudus dan
membentang sampai Pati dan Jepara? Sunan tersebut mendapat julukan demikian
karena pusat pengajarannya berada di lereng Gunung Muria.
![]() |
| Puncak Argopiloso. |
Daerah
pantai utara Jawa memang miskin gunung, kebanyakan terletak di daerah tengah.
Ketika berkendara di jalur pantura, jangan kaget ketika melewati jalur
Kudus-Pati dan melihat sebuah rangkaian pegunungan di tengah bentangan sawah,
itulah Gunung Muria. Dengan tinggi 1.602 mdpl, Muria lebih dikenal sebagai
tempat pesanggrahan daripada lokasi pendakian.
Suka Duka menjadi Promopacker
“Eh, jalan-jalan yuk ke Thailand, ada promo neh
dari maskapai A*r*sia. Tapi tahun depan jalannya.”, ajak seorang teman. Di lain
kesempatan seorang teman mengajak jalan ke Vietnam dengan tiket promo juga.
Backpacking sedang booming akhir-akhir ini pada destinasi Asean yang murah
meriah dan semakin digenjot dengan promo-promo dari berbagai maskapai budget.
Ada yang menawarkan bayar sekali jalan untuk tiket pulang pergi, free seat, sampai diskon yang
gila-gilaan.
![]() |
| On the Plane. |
Belakangan ini
gaya berpergian dengan mengandalkan tiket promo memang makin marak. Para promopacker makin banyak bermunculan
dari kalangan muda, pekerja yang masih lajang, dengan penghasilan kelas
menengah. Dengan tiket promo, biaya perjalanan bisa sangat murah dan waktu
perjalanan yang dapat di-planning
jauh-jauh hari.
Tips Membeli Sepatu di Mayestik
Ingin
membeli sepatu berkualitas tapi murah? Baik sepatu untuk keperluan olahraga,
kantor, atau bahkan trekking ke gunung. Semua jenis sepatu dari berbagai brand
terkenal dapat kita dapati, sebut saja Nike, Addidas, Hi-Tech, atau Karrimor.
Memang, tidak semua sepatu yang dijual asli. Ada yang seratus persen bajakan,
ada yang fifty-fifty, ada pula yang
ori. Semua bisa kita dapatkan di Mayestik, area khusus untuk menjual berbagai
jenis sepatu.
| Sepasang sepatu Berpasangan. |
Mayestik
terletak persis di sebelah Taman Puring, Kebayoran Lama. Dengan areal yang
tidak lebih besar dari setengah lapangan bola, Mayestik selalu ramai oleh
pengunjung. Apalagi di akhir pekan, beuh,
penuh sesak di dalam. Biasanya puncak keramain hanya berlangsung saat sore hari.
Ohya, rata-rata kios-kios penjual sepatu di sana sudah tutup menjelang magrib,
jadi jangan sampai kemalaman kalau hendak ke sana.
Labels:
Tips
Bagaimana Menangani Korban Hipotermia?
Bagi
penggemar olahraga outdoor, terutama mounteneering tentu tidak asing dengan
kata hipotermia. Kata serapan yang berasal dari bahasa asing Hypothermia ini diartikan sebagai
kondisi suhu tubuh yang turun di bawah suhu normal (36.5- 37.5 derajat Celcius). Kondisi ini bisa terjadi karena
dua faktor, suhu lingkungan yang turun drastis dan atau kondisi tubuh kita yang
menurun sehingga tidak bisa menyesuaikan suhu lingkungan sekitar.
Oleh karena
itu, kasus hipotermia tidak hanya dapat terjadi di pegunungan dengan suhu yang
ekstrem. Pada kaum manula yang kondisi tubuhnya tentu sudah menurun, dapat juga
mengalami hipotermia di atas ranjang. Orang yang terlalu lama berenang di siang
hari yang terik, korban kebakaran, atau bayi mudah terkena hipotermia.
Tips Memasak Mie Instan yang Lezat
Oke, kita
semua tahu yang namanya mie instan itu tidak baik buat kesehatan karena katanya
di dalamnya mengandung bahan karsinogen. Mie instan juga sangat tidak
dianjurkan sebagai bekal logistik kegiatan outdoor mengingat ketika sudah di
dalam tubuh akan banyak menyerap cairan tubuh yang sangat kita butuhkan. Namun,
siapa seh yang dapat menolak
kepraktisan dan kenikmatan menyantap mie instan? Jelas aku tidak bisa, hehe..
| Semangkuk Mie. |
Kalau
membahas soal makanan tentu akan kembali ke selera masing-masing. Ada yang suka
sedikit pedas, ada yang suka manis, ada pula yang suka sedikit asam. Dan ini
pula salah satu keunggulan mie instan: tersedia dalam aneka pilihan rasa yang
menggiurkan! Namun, di sini aku tidak ingin membandingkan satu rasa dengan rasa
lainnya, tetapi cara mengolahnya untuk mendapatkan hasil yang pas. Sekali lagi,
ini soal selera, dan ini seleraku. :)
Labels:
Tips
Tips Ikut Pendakian Massal
Mengikuti
pendakian massal (penmas) atau bersama memang memudahkan kita yang tidak
mengenal medan atau kurang pengalaman dalam mendaki gunung idaman. Bagi
perseorangan yang tidak memiliki relasi atau kenalan namun takut mendaki
sendirian, penmas adalah salah satu pilihan yang umum ditempuh. Keuntungan lain
yang diperoleh adalah kita mendapat kenalan baru, teman baru, bahkan pacar baru
(eh) sambil merencanakan pendakian
selanjutnya.
Beberapa pendaki
memperdebatkan pendakian massal, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menentang.
Dari yang alasan konyol seperti ‘bukan pendaki sejati’ sampai alasan masuk akal
yang berkaitan dengan ekosistem gunung. Setuju atau tidak itu sah-sah saja, tergantung
pendapat masing-masing mengingat tujuannya sama, cuma caranya yang berbeda.
![]() |
| Beriringan. |
Tips Saat Membeli Tenda
Bagi pecinta
kegiatan outdoor, tenda adalah perlengkapan utama yang penting. Tenda dapat
melindungi dari terpaan hujan atau membantu menahan dinginnya udara pegunungan.
Di siang hari yang terik, tenda akan melindungi kita dari sengatan sinar
matahari. Memilih tenda yang sesuai untuk keperluan memang gampang-gampang
susah. Di post kali ini, aku ingin share cara memilih tenda sehingga tidak
salah beli.
| Bertenda di Pinggir Danau Gunung Tujuh. |
1. Perjelas
Tujuan Pemakaian
Pertama-tama penting sekali untuk
mengetahui tujuan pemakaian tenda yang hendak kita beli. Apakah di daerah
tropis, gurun, salju, atau hanya untuk piknik di kebun belakang rumah. Tentu
tiap kondisi iklim mempunyai spesifikasi tenda yang berbeda. Tidak perlu
mengeluarkan uang berjuta-juta untuk tenda khusus salju jika kita hanya
memakainya untuk piknik di kebun belakang rumah.
Yuk ke Pulau Untung Jawa
“Yey, akhirnya sampai juga di sini.”,
teriak Lei, teman perjalanan saya, sewaktu menginjakan kaki di Pulau Untung
Jawa. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Dermaga kecil ini masih ramai
pengunjung, maklum saja, malam itu bertepatan dengan malam tahun baru. Pulau
yang masuk ke dalam gugusan Kepulauan Seribu ini menjadi serbuan wisatawan yang
ingin menikmati suasana malam tahun baru di pulau.
![]() |
| Dermaga Pantai Untung Jawa. |
Pulau Untung
Jawa secara geografis masuk ke dalam Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi
DKI Jakarta. Namun paling mudah ditempuh dari Kota Tangerang, kira-kira satu
setengah jam dari pusat kota, disambung naik perahu wisata setengah jam. Pun
kita tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, kurang lebih 10 ribu untuk
transportasi darat dan 10 ribu untuk menyebrang ke pulau sekali jalan. Dekat
dan murah sekali.
Semarak Kemerdekaan dari Banggai
Sudah
berhari-hari Banggai diguyur hujan, bahkan dua hari terakhir hujan turun dari
pagi sampai pagi lagi. “Ntar kalau
bendera sudah dikerek, sudah, berhenti hujannya.”, kata orang lokal. Semoga saja
benar, tentu upacara peringatan kemerdekaan bakal menjadi amburadul jika tiba-tiba hujan datang. Pukul tujuh pagi itu, saya
sudah berada di dalam barisan upacara di kilang gas Donggi Senoro. Inilah pertama
kalinya mengikuti upacara dalam nuansa perusahaan.
Jika dipikir-pikir,
sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara
membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini
didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah
Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah
ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor
di proyek kilang gas ini.
Pengalaman Rental Sepeda Motor di Bali
Bagi yang
ingin menikmati Bali hanya dalam rentang waktu tiga empat hari tentu
mendambakan sarana transportasi yang aman dan cepat. Menggunakan transportasi
umum akan menjadi sangat tidak efisien dan boros waktu jika dalam waktu yang
hanya beberapa hari tersebut ingin mengunjungi banyak tempat sekaligus.
Menjelajah pantai-pantai yang belum terjamah, menyusur jalur pedesaan sambil
menikmati persawahan, atau sekedar jalan-jalan di kota tentu akan mudah
dilakukan jika menggunakan sarana transportasi sendiri.
Di Bali,
magnet bagi wisatawan Indonesia bahkan mancanegara, rental sepeda motor atau
mobil adalah pilihan yang tepat, praktis, dan nyaman. Pada kesempatan
berkunjung ke Bali tempo hari saya memilih sepeda roda dua ini sebagai sarana
transportasi selama di sana. Dan benar saja, mudah sekali. Praktis dan
fleksibel. Memudahkan untuk berpergian ke tempat tujuan dan tentunya sangat
menghemat biaya.
![]() |
| Menanyakan Arah. |
Lawu, antara Bunga dan Banjir
Gunung Lawu
adalah gunung ketiga bagi saya, yang waktu itu masih belia dan tanpa dosa
(#uhuk). Kini setelah sembilan tahun lamanya dengan sedikit memaksa pada
kesempatan cuti yang kesekian kali, akhirnya dapat bertemu kembali. Nostalgic rasanya. Waktu itu mendaki
dengan teman-teman kuliah yang masih sepantaran, sekarang bersama dua gadis
kuliahan yang cantik jelita (#uhuk).
![]() |
| Pos 1 Gunung Lawu. |
Selepas mendaki
Gunung Rinjani, dengan mengawali naik ojek di jam tiga pagi buta dari Senaru,
perjalanan menuju Lawu dimulai. Di hari yang sama, terlambat dua jam dari
perkiraan semula, pada pukul tujuh malam sudah bisa menginjakan kaki di Solo. Bus
Surabaya-Solo yang saya tumpangi cukup nyaman, melaju dengan kencang dan hanya
berhenti sekali di Ngawi untuk makan.
Lima Gunung dengan Danau Menawan
Tentu semua
setuju, danau dan gunung adalah perpaduan yang ciamik! Bayangkan saja, pemandangan alam pegunungan yang indah
ditambah permukaan danau yang bak kaca. Tambahkan di imaji tadi dengan kawan
mendirikan tenda di pinggirannya, berkemah dan bersantai memancing ikan. Aih, siapa yang bisa menolak pesonanya?
Maka tidak heran, perpaduan gunung dan danau seringkali dipotret untuk foto landscape kalender atau background wallpaper.
![]() |
| Menyusur Danau. |
Nah, pada tulisan kali ini, izinkan saya
untuk mengupas beberapa gunung di Indonesia yang memiliki danau di dalam
kawasannnya. Danau-danau ini tentu sayang untuk dilewatkan untuk lokasi
bertenda yang strategis. Selain menjadi sumber air minum yang mudah, feel berkemah di pinggir danau itu lo.. yang.. ah, rasakan sendiri ya, hehe..
Bersantai di Danau Segara Anak
Di luar
tenda mulai terdengar hiruk pikuk para pendaki walau udara masih dingin
menusuk. Sinar mentari pagi sedikit terlambat sampai ke tempat ini, terhalang
tebing-tebing tinggi. Tak ingin ketinggalan menikmati suasana pagi di pinggir
danau, kulepas sleeping bag, dan
membuka pintu tenda. Hanya berjarak kurang dari sepuluh meter, Danau Segara
Anak menjadi santapan nan lezat bagi mata yang lapar. Ah, akhirnya, yang dulu
cuma angan kini menjadi nyata.
![]() |
| Heaven. |
Di pinggir
danau, para pendaki dan warga sekitar sudah asyik memancing ikan. Berbagai
jenis joran menjulur ke tengah danau, mencoba peruntungan di pagi itu. Danau
yang indah ini memang terkenal akan ikan mas dan mujair
sebagai penghuninya. Dari sebesar jari sampai lengan orang dewasa dapat kita
pancing. Mau digoreng atau dibakar, sama enaknya, sama gurihnya.
Beach Hopping di Bali Selatan
Siapa yang
tidak kenal Bali? Destinasi favorit wisata ini menjadi primadona bagi Indonesia
bahkan dunia. Malahan, saking terkenalnya, kadang kala turis mancanegara salah
mengira bahwa Bali dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda. Segala jenis
wisata dapat kita temukan di Bali, tidak terkecuali pantai. Pulau Dewata ini
banyak menyimpan pantai-pantai yang menawan hati. Nah, kali ini saya ingin
sedikit menulis pengalaman tempo hari beach
hopping di pantai bagian selatan Bali.
![]() |
| Pantai Padang-padang. |
Hampir di
sepanjang pinggiran pantai telah menjadi spot wisata yang dikelola dengan baik.
Dengan berbekal rental sepeda motor lima puluh ribu sehari, menyusuri jalanan
di pesisir selatan Bali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Lupakan saran-saran
tempat tujuan favorit, terkadang kita bisa menemukan pantai yang indah dengan
tidak terduga-duga.
Menengok Perkampungan Bajo di Pagimana
Jarum alroji
sudah menunjuk ke arah angka sebelas, cuaca cukup terik walau saat di jalan
hujan sedikit mengguyur malu-malu. Di kiri jalan terlihat gapura besar
‘Pelabuhan Pagimana’ yang memberitahukan bahwa saya sudah sampai di Kecamatan
Pagimana. Tidak ada objek wisata yang menarik di sini, tidak ada pula pusat
perbelanjaan atau tempat hiburan. Sebenarnya, hanya rasa penasaran yang membawa
langkah kakiku ke sini, lain tidak.
![]() |
| Pemandangan di Pinggir Jalan. |
Berawal dari
obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana.
Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten
Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah
jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan
Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik
feri setiap harinya.
Cidera yang Sering Terjadi Saat Travelling dan Penanganannya
Saat
melakukan perjalanan tentu kita tidak berharap akan mengalami suatu kecelakaan,
baik kecil maupun besar, dari sekedar luka lecet atau bahkan sampai patah
tulang. Tentu alangkah baiknya pula jika kita mengerti dan dapat melakukan
pertolongan yang baik dan benar. Kadangkala bentuk pertolongan pertama yang
tepat dan cepat dapat menentukan hidup mati kita atau orang lain.
![]() |
| Ilustrasi. |
Ketika
melakukan trekking yang jauh masuk ke
hutan atau daerah yang sepi tanpa ada peradapan, bantuan akan susah didapatkan.
Jangankan mengharap bantuan medis, desa
terdekat terkadang baru dapat ditemui sehari dua hari perjalanan. Berikut
adalah beberapa cidera yang sering ditemui saat berpergian dan bagaimana untuk pertolongan
pertamanya.
Pendaki [yang kian] Lebay
Tulisan ini
hanya melihat realita yang ada dari kaca mata saya. Melihat tingkah polah
pendaki di alam nyata dan alam media sosial. Menarik—atau lebih tepat dikatakan
parah, untuk diamati. Mungkin saja ini cuma pesimisme saya yang berlebihan atau
bisa jadi ini cuma rasa jengkel yang ingin saya wujudkan dalam tulisan
kali ini. Apapun itu, semoga saya dan kita tidak seperti itu.
Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.
Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.
Uwe Molino Tontouan
Satu lagi
tempat wisata di Luwuk yang menarik dikunjungi di akhir pekan yakni Uwe Molino
Tontouan. Uwe molino dalam bahasa lokal berarti air yang menggenang, mungkin
sama artinya dengan telaga. Penasaran, saya menyempatkan diri untuk berkunjung
ke tempat satu ini. Makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak tempat-tempat wisata
menarik yang dapat dikunjungi. Asyiknya lagi, lokasi ini di seputaran Kota Luwuk,
tidak butuh waktu lama untuk perjalanan ke sana.
| Uwe Molino Tontouan. |
Kurang lebih
sepuluh menit dari pusat kota ke arah barat daya kita akan menemui sebuah plang
kecil di pinggir jalan. Tulisan di plang tersebut yakni: Pemandian Wisata Uwe
Molino Tontouan. Dinamakan demikian karena berada di Desa Tontouan. Dari pintu
masuk, kita masih harus berjalan kurang lebih 300 meter menuruni tangga.
Pemandian yang kita tuju ada di ujung tangga. Ohya, tidak ada penjaga pintu
yang menjual tiket di sini, bebas alias free.
Masjid Agung Jawa Tengah
Jika kawan
hendak berwisata religi di Kota Semarang, tentu sayang jika melewatkan Masjid
Agung Jawa Tengah. Sebuah masjid yang didesain dengan perpaduan gaya Islami,
Jawa, dan Romawi ini merupakan masjid terbesar di Jawa Tengah. Yang menarik, di
sini juga dibangun 6 payung raksasa di halaman masjid yang menyerupai Masjid
Nabawi di Arab sana. Payung ini hanya dibuka saat sholat Jumat, Idul Adha, dan
Idul Fitri bagi jamaah yang berada di halaman masjid.
| Masjid Agung Jawa Tengah. |
Selain itu,
kita juga dapat menikmati pemandangan Semarang dari atas Menara Asma Al-Husna
yang memiliki ketinggian 99 meter. Tidak perlu kuatir membayangkan menaiki
tangga sampai ke atas karena sudah disediakan lift untuk para pengunjung dengan
membayar biaya masuk yang sangat terjangkau. Dari atas menara kita dapat
melihat Kota Semarang dengan pandangan 360 derajat. Hati-hati, terkadang angin
lumayan kencang di atas.
Solotrip ke Gunung Padang
Jumat, 14
Febuari 2014, Gunung Kelud yang selama ini batuk-batuk kecil mengeluarkan
letusannya yang besar. Untungnya, dampak yang dihasilkan tidak sedahsyat Gunung
Merapi di Yogyakarta. Namun, cakupan imbas dari letusan Kelud lebih luas dari
Merapi. Semua ini berkat abu vulkanik yang mengangkasa sampai ke Banten, di
ujung lain dari Pulau Jawa. Gara-gara ini pula akhirnya dengan berat hati aku
harus membatalkan trip ke Kiluan bersama teman-teman karena penerbangan dari
Semarang ikut ditutup.
| Mari Belajar Sejarah. |
Pusing harus
ke mana, kuputuskan untuk mengunjungi Gunung Padang, lokasi yang sedari dulu
ingin kudatangi. Dengan berbekal jaringan paket internet yang sebentar lagi
habis, kutemukan titik cerah transportasi ke sana. Lumayan gampang ternyata. Sarana
yang kuambil dari Semarang yakni kereta Menoreh ke Jatinegara, disambung
angkot-metromini-busway-plus nyasar ke Terminal Rambutan untuk mencari bus
menuju Kabupaten Cianjur.
Menuju Salakan
Waktu
menunjukan pukul setengah sembilan malam, peluit Kapal El Savador baru berbunyi
satu kali, pertanda masih ada cukup waktu bagi penumpang untuk menyelesaikan
urusannya di darat. Itu pula yang membuatku menyempatkan diri mampir ke toko jajanan
untuk sekedar membeli cemilan dan air minum sebagai bekal perjalanan malam itu.
Atas bantuan teman pejalan dari Luwuk, akhirnya keinginan untuk mengunjungi
Salakan dapat terwujud. Dari yang setiap hari hanya melihatnya dari Banggai
daratan, kini aku akan dapat menginjakan kaki di sana.
![]() |
| Kapal El Savador. |
Salakan
adalah ibukota untuk Kabupaten Banggai Kepulauan, salah satu ‘kota’ yang
lumayan ramai pada semenanjung Sulawesi bagian timur. Terdapat tiga kabupaten
yang menyandang nama Banggai, yakni Banggai yang beribukota di Luwuk, Banggai
Kepulauan dengan pusat di Salakan, dan paling timur terdapat Banggai Laut
dengan ibukota Banggai. Salakan yang terletak di Pulau Peling, pulau terbesar
di Banggai Kepulauan juga terkenal akan hasil alamnya terutama ikan, mutiara,
coklat, dan durian.
Luwuk Dalam Sehari
Terletak di
salah satu ujung peninsula Pulau
Sulawesi, Luwuk dapat dibilang cukup ramai. Sebagai ibukota Kabupaten Banggai,
Luwuk mempunyai bandara sendiri yang sebagian besar rutenya melayani
penerbangan dari Makasar. Di beberapa sudut kota pun sudah mulai berjamuran
tempat makan fast food yang kuanggap sebagai salah satu indikator ‘kota’ yang
ramai. Universitas dan beberapa akademi pun ikut menghidupkan perputaran
sendi-sendi kota.
![]() |
| Air Jatuh Salodik. |
Walau belum
memiliki bioskop dan belum terjamah toko waralaba, banyak toko-toko yang
menawarkan segala jenis barang di sepanjang jalan. Pada hari minggu, mungkin
disebabkan banyak warganya yang menjalankan ibadah, suasana jalan akan sedikit
lengang dan sebagian pertokoan menutup dagangannya. Nah, jika kawan pejalan sempat singgah barang sehari di kota kecil
ini, inilah beberapa lokasi wisata yang dapat dikunjungi dalam sehari.
Life Just a Click, Goodbye Our Librarian
Saat sedang
asyik menyelesaikan laporan yang menggunung, smartphone satu-satunya berdering sekali, pertanda ada pesan masuk.
Ah, paling itu hanya pesan dari salah
satu group berisik yang kuikuti. “Temans, emang Sandy meninggal?”, sebaris
pesan itu langsung mengusik fokus dari laporan yang menuntut untuk dikirim
siang itu juga. Jikalau ada kabar orang tua atau saudaranya teman yang
meninggal tersiar, jujur aku hanya melihat sekilas, lalu turut mengucapkan
belasungkawa, dan kembali ke rutinitas, that’s
all.
![]() |
| Sandy. |
But this time someone I knew, someone my age, died so suddenly. Pikiranku
langsung terbayang ke masa kuliah dulu. Oke, aku memang termasuk mahasiswa yang
paling tidak betah di kampus. Jarang masuk, sering telat, kadang pulang lebih
dulu, dan kalaupun masuk selalu duduk di deretan tengah, buka buku komik, baca,
dan kemudian tidur. Meskipun begitu, sebagai orang yang suka baca, perpustakaan
adalah tempat favoritku di kampus. Dan nama yang disebut di pesan tersebut adalah
penjaga perpustakaan itu.
Mendaki Gunung Slamet
Berdiri
menjulang setinggi 3.428 meter dari permukaan laut menjadikan Slamet sebagai
gunung tertinggi di Jawa Tengah. Rumornya, Slamet dianggap gunung suci pada
masa Kerajaan Majapahit sehingga kawasan ini tetap tidak terjamah. Hal ini pula
yang menyebabkan dialeg penduduk di kakinya sedikit (baca: tetap) berbeda
dengan penduduk Jawa yang lain. Kalau di Bayuwangi ada Bahasa Osing, di kaki
Slamet di kenal dengan nama Bahasa Ngapak.
| Di Puncak Slamet. |
Bersama
dengan Sindoro dan Sumbing, Slamet terkenal dengan sebutan triple S. Kesamaan huruf awal dan lokasi yang berdekatan mungkin
menjadi latar belakang adanya istilah ini. Keindahan gunung satu ini sayang
untuk dilewatkan. Jalur dengan vegetasi hutan yang lebat dan terkesan mistis.
Sementara selepas Pos 5 kita akan disuguhi pemandangan di atas awan yang luar
biasa. Indah sekali. Namun seperti kedua saudaranya, di sepanjang jalur Gunung
Slamet tidak memiliki sumber air.
Pesta Durian Banggai
Mulai bulan
Maret, suasana pasar-pasar di Banggai akan ramai dengan para pedangan durian.
Tidak hanya itu, di sepanjang jalan Luwuk-Toili dengan mudah buah berkulit duri
ini kita temui. Tak terkecuali di Batui, tempat saya singgah, setiap malam di
pasar – di sini pasar beroperasi sampai larut malam – suasana makin meriah oleh
penjual dan penikmat buah beraroma tajam ini. Ya, bulan Maret adalah saatnya
warga Banggai untuk berpesta durian.
| Belah Durian. |
Mungkin yang
membedakan durian di sini dengan di Jawa atau Sumatra yakni ukurannya yang
tergolong imut. Kecil. Rata-rata hanya berdiameter 10-15 cm saja, daging
buahnya pun tidak begitu tebal, biasa saja. Namun yang jelas, selama merasakan
durian-durian imut itu hampir tidak pernah menemukan durian yang rasanya tidak
enak. Semua enak, manis! Apalagi kalau tinggal makan, hehe..
‘Berkunjung’ ke Nusakambangan
Bagi
kebanyakan orang, Nusakambangan tentu bak Alcatraznya Indonesia. Sebuah penjara
yang dibangun di sebuah pulau ‘tak berpenghuni’ membuat tahanan terisolasi di
tengah lautan. Karang, obak, dan laut menjadi batas yang hampir mustahil
ditembus. Namun bagi warga Cilacap, selain sebagai tempat para napi menjalani
masa hukuman, pulau kecil ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Tidak
percaya?
| Benteng Pendem. |
Untuk menuju
Pulau Nusakambangan yang berada di Kabupaten Cilacap ini, kita dapat melalui berbagai
jalur. Pengalaman saya hendak menuju ke pulau ini sedikit mengalami penolakan.
Mungkin karena faktor ketidaktauan saja. Ketika hendak menyebrang dari dermaga
Departemen Perhubungan, ditolak. Tidak menyerah mencoba peruntungan dari Departemen
Kehakiman, itupun juga di tolak. Akhirnya pergi ke Pantai Teluk Penyu, ternyata
bisa menyebrang dengan harga murah dan disambut oleh plang Departemen
Pertahanan.
LOST
Pernah
tersesat di gunung? Saya pernah. Untungnya tidak sampai berhari-hari, hanya
beberapa jam saja. Kebingungan saat mencari jalan naik walau sudah beberapa
kali mendaki gunung yang sama atau kebingungan saat mencari jalan turun membikin frustasi memang. Ketika kondisi fisik sudah mulai menurun dan kondisi
lingkungan yang tidak begitu bersahabat bertemu maka secara psikologis akan
membuat kita makin panik.
| Mencari Jalan. |
Jika dilihat
dari ketinggiannya, Gunung Ungaran yang memiliki puncak 2.050 mdpl memang tidak
terlalu tinggi. Pun gunung ini mudah dijangkau dan masih terdapat perkampungan
dekat dengan puncaknya. Namun di gunung ini pula saya beberapa kali sempat
tersesat. Entah kebingungan mencari jalur naik hingga harus sedikit memutar
ataupun terjebak di rimbunnya pepohonan hingga tidak bisa tembus. Rencana
berfoto di puncak pun kandas karena terlalu meremehkan medan.
Menghilangkan Pening di Rawa Pening
Jika kawan
melintas dari arah Jogya atau Solo menuju Semarang, pastinya pernah melewati
sebuah rawa luas yang mencakup beberapa kecamatan. Dengan luas 2.670 ha, Rawa
Pening membentang dari Ambarawa, Banyubiru, bahkan sampai Salatiga. Untuk
menuju kesini kita tidak perlu bersusah-susah. Ada tiga titik wisata yang dapat
dituju, di Tuntang ada Rawa Permai yang ramai, di Banyubiru ada Bukit Cinta
yang katanya lebih teduh, dan tempat terakhir yang menjadi tujuan saya: Wisata
Apung Kampung Rawa di Ambarawa.
| Karamba. |
Kampung Rawa
sejatinya adalah hasil paguyuban warga Ambarawa untuk menarik wisatawan ke Rawa
Pening. Di samping dapat menciptakan lapangan kerja baru, hal ini dapat
mempermudah dan memberikan alternatif untuk para wisatawan. Terdapat
perkumpulan perahu yang dapat di sewa untuk menjelajah Rawa Pening, kios-kios
oleh-oleh, warung-warung jajanan dan makanan, dan restoran apung yang
menawarkan aneka menu lokal.
Alam Liar dan Kisah Argopuro
Embun pagi
dan bau tanah pagi hari menyeruak masuk ke sanubari. Gerimis yang semalam iseng
menyapa sekitaran tenda menambah harum pagi ini. Tidak mau kalah, dingin yang
menusuk tulang ikut datang tidak mau ketinggalan. Di kejauhan, kabut pekat
masih belum rela melepas pelukan dari permukaan danau yang jernih bak kaca. Pagi
itu, Danau Taman Hidup seperti menyambut kami dengan segala keindahannya yang
hendak menuju Puncak Argopuro.
| Cikasur. |
Dikisahkan,
Argopuro adalah tempat pelarian Dewi Rengganis karena tidak merasa diakui oleh
ayahnya Prabu Brawijaya. Bersama patih dan pengikutnya yang setia beliau
melarikan diri dari istana. Hal ini mungkin bukan hanya cerita isapan jempol,
di puncaknya masih dapat kita lihat sisa-sisa seperti pura dan bangunan
lainnya. Mungkin karena itu pula, gunung ini disebut demikan. Dari kata argo
yang berarti gunung dan puro berarti pura.
Piknik di Hutan Belakang Kampus
Ingat kisah
Nobita dan kawan-kawan yang suka bertualang di hutan belakang sekolah? Mencari
serangga, berkemah, atau melakukan hal-hal yang menegangkan. Aku yakin kawan
pasti ingat. Jika Nobita melakukannya saat masih di Sekolah Dasar, aku
melakukannya ketika sudah menginjak bangku kuliah. Hehe.., bersenang-senang
tidak mengenal umur kawan. Beruntunglah di belakang kampusku dulu terdapat
‘hutan’ yang masih permai sehingga aku dapat sedikit merasakan kecerian sahabat
Doraemon ini.
Berada di
lokasi yang berbukit-bukit, kampusku
dibangun di tempat yang dulunya hutan. Kini, di belakangnya masih
menyisakan sedikit bekas hutan. Sebagian telah berubah menjadi perkerbunan
penduduk sekitar. Sebagian lagi menjadi tempat berlatih tentara sehingga kesan
‘hutan’nya masih terpelihara dengan baik. Mungkin malah sengaja dipelihara.
| Memasak Mie. |
Asyik Naik Becak di Kotagede
Gerimis sedikit
menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru
Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari
halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang,
rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja.
Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan
jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!
Memasuki
kawasan Heritage Kotagede terdapat
sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai
dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya
makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang
kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati
selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.
| Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang. |
Teringat Akan Kereta K3
Sumpek,
harus berdesak-desakan, dan gelesotan
di lantai gerbong karena tidak kebagian tiket mungkin adalah pemandangan yang
lumrah pada kereta K3 dulu. Kereta api bak supermarket berjalan yang menawarkan
segala jenis barang dan jajanan kepada penumpang. Portable charger, boneka, baju batik, pecel, gorengan, hingga
oleh-oleh khas tiap daerah yang dilewati dapat kita peroleh tanpa keluar
gerbong. Bahkan tanpa berdiri dari kursi. Ya, itulah sedikit gambaran kereta
api ekonomi atau yang dikenal dengan kereta K3.
| Adek-adek Penumpang K3. |
Nama K3 ini
sebenarnya berasal dari sistem penomoran tingkatan kereta api. Kelas ekonomi
dikategorikan ke dalam kelas tiga. Oleh karena itu di gerbongnya tertulis K3,
semisal K3 99207 mempunyai arti kereta kelas ekonomi dengan tahun pembuatan
1999. Digit ketiga dan empat adalah tahun pembuatan, sedangkan digit kelima
adalah jenis bogie dan dua digit terakhir adalah nomer urut.
Menyisir dan Menelisik Mitos Maninjau
Alkisah hiduplah
sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu
yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung
Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan
Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis
karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada
Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan
Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau
Maninjau.
Begitulah sepenggal
mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di
Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah
kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam
dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa
adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita
berkunjung ke Sumatera Barat.
| Mengayuh Sampan di Maninjau. |
My First CPR in Real
Mungkin
sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya
sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak
pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap
untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau
kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis
sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang
harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.
| Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja). |
CPR (Cardio
Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan
istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan
untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini
dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa
bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung
karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.
Fotografi Buta di Arjuna Welirang
Yang aku
maksud dengan fotografi buta ini bukan fotografi oleh orang buta, bukan pula
memoto orang buta. Namun ketika kita memotret dalam kondisi tidak bisa melihat
objek yang hendak kita foto. Bukan tidak ada view finder, bukan pula karena sedang aksi. Hal ini semata-mata
disebabkan layar lcd kamera pocket yang rusak sehigga kita tidak bisa melihat
objek yang hendak kita ambil, hehe..
| Menyusur Gunung Arjuna. |
Awal kisah
sebagai mahasiswa kere yang agak narsis, ketika jalan-jalan yang pertama kali
dicari yakni pinjaman kamera. Setelah cari sana-sini tiada hasil, tinggal
kamera pocket Nikon Coolpix temen
yang dapat dipinjam. Sialnya, lensa kameranya rusak dan memang desain kamera
tersebut tidak menyediakan view finder.
Okelah, daripada tidak ada dokumentasi sama sekali,
foto-entah-bagaimana-hasilnya pun tak mengapa.
Kesialan-Kesialan Saat Naik Motor
Terkadang, jalan-jalan akan lebih
asyik jika ditempuh dengan menggunakan sarana roda dua. Lebih flesibel dalam
melewati rute yang kita tuju, lebih irit ongkos, dan tentunya lebih leluasa
melihat pemandangan sekitar. Motor juga lebih lihai dalam menyusup di tengah
kemacetan jalan raya. Namun, kadang kala, atau bagiku sering kali, kita
mengalami kesialan saat naik motor. Kesialan yang semestinya dapat kita
hindari.
Hal-hal kecil dapat terjadi karena
kelalaian atau terlalu bersemangat saat touring.
Tapi, justru terkadang hal ini menjadi bumbu yang asyik saat perjalanan kita.
Apa seh yang menarik dari perjalanan yang berjalan 100% lancar sesuai rencana?
Bagiku jelas tidak ada. Bumbu-bumbu kejutan dan kesialan menjadi pemanis
sekaligus asamnya perjalanan yang lezat.
Da, Dha, dan Arti Sebuah Nama
Ada pepatah
yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama?”. Aku bilang pepatah tersebut 100%
keliru! Nama sangat penting artinya. Coba bayangkan nama Anda diganti kambing
atau babi, dan ketika Anda komplain, orang yang memanggil cuma berkata “Kawan,
apalah arti sebuah nama?”. Di beberapa kultur budaya, seperti Jawa, nama sangat
penting artinya.
| By the Name of D. |
Sri Baginda
Sunan Paku Buwana II membalik nama Kartasura menjadi Surakarta karena dianggap
nama yang pertama banyak menimbulkan musibah dan bencana. Pada beberapa daerah,
anak kecil yang sering sakit-sakitan harus diganti namanya agar sakitnya
sembuh. Dianggap nama yang sebelumnya tidak cocok atau membawa sial.
Cidaon versus Sadengan
Bagi yang
sudah pernah ke Ujung Kulon tentu tidak asing dengan nama Cidaon. Padang
penggembalaan banteng yang terletak persis di depan Pulau Peucang ini memang
menjadi salah satu daya tarik wisata utama Taman Nasional Ujung Kulon. Serupa
di ujung satunya Pulau Jawa, yakni di Taman Nasional Alas Purwo, terdapat
Padang Penggembalaan Sadengan. Bak de ja vu, kedua tempat tersebut mirip
sekali.
| Pagar Pembatas Sadengan. |
Di kedua
padang penggembalaan tersebut kita dapat melihat banteng liar dan merak yang
sedang asyik merumput. Namun, jika kawan membandingkan antara keduanya, tentu
akan sedikit kaget. Walau sama-sama Taman Nasional, namun kondisinya bak langit dan bumi. Yang di ujung barat
tampak kumuh dan tidak terawat, sementara ujung timur terlihat teratur dan
terpelihara.
Mengunjungi Laksamana Cheng Ho di Sam Po Kong
Pada abad
ke-15, seorang Laksamana Tiongkok yang memeluk Islam terpaksa membuang sauh di
Pantai Utara Jawa karena ada salah satu anak buahnya yang sakit keras. Laksamana
yang dikenal dengan nama Cheng Ho ini mendarat di daerah Simongan, dekat dengan
Kota Semarang. Tak hanya singgah, beliau juga membangun sebuah masjid dan
mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga. Bekas petilasan atau tempat
persinggahan Laksamana ini sekarang dikenal dengan nama Sam Po Kong.
| Teras Bangunan Utama. |
Uniknya,
walau beragama Islam, Umat Tionghoa yang menganut Kong Hu Cu memuja Cheng Ho
sebagai dewa. Memang, bagi mereka, orang
yang sudah meninggal dianggap dapat memberikan pertolongan. Maka tak
heran lokasi yang dulunya masjid kini berubah fungsi menjadi kelenteng untuk
ziarah dan bersembahyang. Sam Po Kong juga dikenal dengan nama Gedung Batu
karena di bagian belakangnya yang merupakan bukit, terdapat sebuah gua batu.
Wisata Petualangan di Batu Tikar
Satu lagi
tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa
sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat
menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada
beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping
air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi
tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.
| Berenang di Batu Tikar (doc. Doni). |
Untuk menuju
ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai
terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam
jika berjalan santai. Belum ada ticketing,
karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas
Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada.
Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti
arah sungai.
Jalan-jalan ke Merapi
Sehabis Sholat
Idul Fitri, langsung kutancap gas Bluemerry menuju Semarang untuk bertemu
dengan kedua dua cewek ‘gila’ itu. Ya, dikala orang lain bergemberia merayakan
Hari Kemenangan, kami malah jalan-jalan. Bukan berarti kami anak durhaka, hanya
saya kami ingin merayakannya dengan sedikit berbeda, yakni jalan-jalan ke
Gunung Merapi, hehe..
| Menunggu Matahari Terbenam (doc. Lei). |
Jadi
ceritanya jalan-jalan kali ini hanya untuk melepas kangen akan aroma gunung.
Lama bergulat dengan macet dan laporan membuat kepala makin penat saja. Nah,
dipilihlah Gunung Merapi sebagai obat kangen dan pereda penat di kepala.
Berangkatlah aku dan kedua temanku itu dengan hanya berbekal sepeda motor dan
bekal seadanya. Tujuan kami memang bukan naik gunung, hanya sekedar trekking di
jalurnya, di tengah rindangnya pepohonan.
Subscribe to:
Posts (Atom)







-2.jpg)

-2.jpg)








-2.jpg)



