Yuk, Mampir ke Kenawa!

Bus yang seharusnya berangkat jam delapan malam molor hingga dua jam. Entah alasan klise apalagi yang bakal dilontarkan agen bus di Dompu ini. Aku tidak butuh alasan, aku butuh tumpangan ke Pototano. Sejam yang lalu pun kami sempat dipindahkan dari Terminal tempat kami menunggu bus dari jam lima sore, “Ada jembatan rusak sehingga bus tidak bisa masuk terminal”, kata agennya berkilah.
 
Pulau Kenawa.
Saat itu kami sedang dalam perjalanan balik dari Tambora, ketinggalan bus Calabai-Mataram, kami terpaksa putar haluan menuju Dompu. Dompu adalah kota kecil yang berada di jalur trans Bima-Jakarta, tentunya dari sini lebih mudah untuk mencari angkutan ke arah Mataram untuk turun di Pototano. Namun jangan salah, tujuan kami bukanlah Pototano, namun pulau kecil nan cantik yang terletak tidak jauh dari penyebrangan feri di Pulau Sumbawa tersebut. Namanya Kenawa.

Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua

Jika dilihat dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil. Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI. Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra saat menggapai puncaknya.

Pulau Dua dari Atas.
Tepat setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun? Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah, bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.

Lu Kapan ke Lukapan?

Tepat setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!

Pulau Dua dari Lukapan.
Pada kali ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan. Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu, sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.

Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk

Setahun lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.

Air Jatuh Laumarang.
Untuk menuju kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum diaspal.

Tambora Bercerita (#3) Puncak!

Tepat pukul 9 lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851 mdpl. Finally I made it! Setelah perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
 
Kawah Gunung Tambora.
Memandang keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung  inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti hilang.

Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila

Kaget! Itu adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”

Foto Bertiga Bersama Arman, Porter Kami.
La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana, sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak gelap dan horor di mata saya.

Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai

Jarak antar kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus: kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa, dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!

Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai.
Saking banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.

Muria, Gunung Kecil dari Kudus

Jika orang mendengar kata ‘Muria’, mungkin yang terbayang pertama kali di benaknya adalah salah satu nama sunan dari Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Tapi, taukah kawan kalau Muria adalah nama sebuah gunung kecil di Kudus dan membentang sampai Pati dan Jepara? Sunan tersebut mendapat julukan demikian karena pusat pengajarannya berada di lereng Gunung Muria.

Puncak Argopiloso.
Daerah pantai utara Jawa memang miskin gunung, kebanyakan terletak di daerah tengah. Ketika berkendara di jalur pantura, jangan kaget ketika melewati jalur Kudus-Pati dan melihat sebuah rangkaian pegunungan di tengah bentangan sawah, itulah Gunung Muria. Dengan tinggi 1.602 mdpl, Muria lebih dikenal sebagai tempat pesanggrahan daripada lokasi pendakian.

Suka Duka menjadi Promopacker

Eh, jalan-jalan yuk ke Thailand, ada promo neh dari maskapai A*r*sia. Tapi tahun depan jalannya.”, ajak seorang teman. Di lain kesempatan seorang teman mengajak jalan ke Vietnam dengan tiket promo juga. Backpacking sedang booming akhir-akhir ini pada destinasi Asean yang murah meriah dan semakin digenjot dengan promo-promo dari berbagai maskapai budget. Ada yang menawarkan bayar sekali jalan untuk tiket pulang pergi, free seat, sampai diskon yang gila-gilaan.

On the Plane.
Belakangan ini gaya berpergian dengan mengandalkan tiket promo memang makin marak. Para promopacker makin banyak bermunculan dari kalangan muda, pekerja yang masih lajang, dengan penghasilan kelas menengah. Dengan tiket promo, biaya perjalanan bisa sangat murah dan waktu perjalanan yang dapat di-planning jauh-jauh hari.

Tips Membeli Sepatu di Mayestik

Ingin membeli sepatu berkualitas tapi murah? Baik sepatu untuk keperluan olahraga, kantor, atau bahkan trekking ke gunung. Semua jenis sepatu dari berbagai brand terkenal dapat kita dapati, sebut saja Nike, Addidas, Hi-Tech, atau Karrimor. Memang, tidak semua sepatu yang dijual asli. Ada yang seratus persen bajakan, ada yang fifty-fifty, ada pula yang ori. Semua bisa kita dapatkan di Mayestik, area khusus untuk menjual berbagai jenis sepatu.

Sepasang sepatu Berpasangan.
Mayestik terletak persis di sebelah Taman Puring, Kebayoran Lama. Dengan areal yang tidak lebih besar dari setengah lapangan bola, Mayestik selalu ramai oleh pengunjung. Apalagi di akhir pekan, beuh, penuh sesak di dalam. Biasanya puncak keramain hanya berlangsung saat sore hari. Ohya, rata-rata kios-kios penjual sepatu di sana sudah tutup menjelang magrib, jadi jangan sampai kemalaman kalau hendak ke sana.

Bagaimana Menangani Korban Hipotermia?

Bagi penggemar olahraga outdoor, terutama mounteneering tentu tidak asing dengan kata hipotermia. Kata serapan yang berasal dari bahasa asing Hypothermia ini diartikan sebagai kondisi suhu tubuh yang turun di bawah suhu normal (36.5- 37.5 derajat Celcius). Kondisi ini bisa terjadi karena dua faktor, suhu lingkungan yang turun drastis dan atau kondisi tubuh kita yang menurun sehingga tidak bisa menyesuaikan suhu lingkungan sekitar.
 
Ilustrasi Orang Menggigil Kedinginan di Puncak.

Oleh karena itu, kasus hipotermia tidak hanya dapat terjadi di pegunungan dengan suhu yang ekstrem. Pada kaum manula yang kondisi tubuhnya tentu sudah menurun, dapat juga mengalami hipotermia di atas ranjang. Orang yang terlalu lama berenang di siang hari yang terik, korban kebakaran, atau bayi mudah terkena hipotermia.

Tips Memasak Mie Instan yang Lezat

Oke, kita semua tahu yang namanya mie instan itu tidak baik buat kesehatan karena katanya di dalamnya mengandung bahan karsinogen. Mie instan juga sangat tidak dianjurkan sebagai bekal logistik kegiatan outdoor mengingat ketika sudah di dalam tubuh akan banyak menyerap cairan tubuh yang sangat kita butuhkan. Namun, siapa seh yang dapat menolak kepraktisan dan kenikmatan menyantap mie instan? Jelas aku tidak bisa, hehe..

Semangkuk Mie.
Kalau membahas soal makanan tentu akan kembali ke selera masing-masing. Ada yang suka sedikit pedas, ada yang suka manis, ada pula yang suka sedikit asam. Dan ini pula salah satu keunggulan mie instan: tersedia dalam aneka pilihan rasa yang menggiurkan! Namun, di sini aku tidak ingin membandingkan satu rasa dengan rasa lainnya, tetapi cara mengolahnya untuk mendapatkan hasil yang pas. Sekali lagi, ini soal selera, dan ini seleraku. :)

Tips Ikut Pendakian Massal

Mengikuti pendakian massal (penmas) atau bersama memang memudahkan kita yang tidak mengenal medan atau kurang pengalaman dalam mendaki gunung idaman. Bagi perseorangan yang tidak memiliki relasi atau kenalan namun takut mendaki sendirian, penmas adalah salah satu pilihan yang umum ditempuh. Keuntungan lain yang diperoleh adalah kita mendapat kenalan baru, teman baru, bahkan pacar baru (eh) sambil merencanakan pendakian selanjutnya.

Beriringan.
Beberapa pendaki memperdebatkan pendakian massal, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menentang. Dari yang alasan konyol seperti ‘bukan pendaki sejati’ sampai alasan masuk akal yang berkaitan dengan ekosistem gunung. Setuju atau tidak itu sah-sah saja, tergantung pendapat masing-masing mengingat tujuannya sama, cuma caranya yang berbeda.

Tips Saat Membeli Tenda

Bagi pecinta kegiatan outdoor, tenda adalah perlengkapan utama yang penting. Tenda dapat melindungi dari terpaan hujan atau membantu menahan dinginnya udara pegunungan. Di siang hari yang terik, tenda akan melindungi kita dari sengatan sinar matahari. Memilih tenda yang sesuai untuk keperluan memang gampang-gampang susah. Di post kali ini, aku ingin share cara memilih tenda sehingga tidak salah beli.

Bertenda di Pinggir Danau Gunung Tujuh.
1.       Perjelas Tujuan Pemakaian
Pertama-tama penting sekali untuk mengetahui tujuan pemakaian tenda yang hendak kita beli. Apakah di daerah tropis, gurun, salju, atau hanya untuk piknik di kebun belakang rumah. Tentu tiap kondisi iklim mempunyai spesifikasi tenda yang berbeda. Tidak perlu mengeluarkan uang berjuta-juta untuk tenda khusus salju jika kita hanya memakainya untuk piknik di kebun belakang rumah.

Yuk ke Pulau Untung Jawa

Yey, akhirnya sampai juga di sini.”, teriak Lei, teman perjalanan saya, sewaktu menginjakan kaki di Pulau Untung Jawa. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Dermaga kecil ini masih ramai pengunjung, maklum saja, malam itu bertepatan dengan malam tahun baru. Pulau yang masuk ke dalam gugusan Kepulauan Seribu ini menjadi serbuan wisatawan yang ingin menikmati suasana malam tahun baru di pulau.
Dermaga Pantai Untung Jawa.
Pulau Untung Jawa secara geografis masuk ke dalam Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Namun paling mudah ditempuh dari Kota Tangerang, kira-kira satu setengah jam dari pusat kota, disambung naik perahu wisata setengah jam. Pun kita tidak perlu mengeluarkan banyak biaya, kurang lebih 10 ribu untuk transportasi darat dan 10 ribu untuk menyebrang ke pulau sekali jalan. Dekat dan murah sekali.

Semarak Kemerdekaan dari Banggai

Sudah berhari-hari Banggai diguyur hujan, bahkan dua hari terakhir hujan turun dari pagi sampai pagi lagi. “Ntar kalau bendera sudah dikerek, sudah, berhenti hujannya.”, kata orang lokal. Semoga saja benar, tentu upacara peringatan kemerdekaan bakal menjadi amburadul jika tiba-tiba hujan datang. Pukul tujuh pagi itu, saya sudah berada di dalam barisan upacara di kilang gas Donggi Senoro. Inilah pertama kalinya mengikuti upacara dalam nuansa perusahaan.
 
 

Jika dipikir-pikir, sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor di proyek kilang gas ini.

Pengalaman Rental Sepeda Motor di Bali

Bagi yang ingin menikmati Bali hanya dalam rentang waktu tiga empat hari tentu mendambakan sarana transportasi yang aman dan cepat. Menggunakan transportasi umum akan menjadi sangat tidak efisien dan boros waktu jika dalam waktu yang hanya beberapa hari tersebut ingin mengunjungi banyak tempat sekaligus. Menjelajah pantai-pantai yang belum terjamah, menyusur jalur pedesaan sambil menikmati persawahan, atau sekedar jalan-jalan di kota tentu akan mudah dilakukan jika menggunakan sarana transportasi sendiri.

Menanyakan Arah.
Di Bali, magnet bagi wisatawan Indonesia bahkan mancanegara, rental sepeda motor atau mobil adalah pilihan yang tepat, praktis, dan nyaman. Pada kesempatan berkunjung ke Bali tempo hari saya memilih sepeda roda dua ini sebagai sarana transportasi selama di sana. Dan benar saja, mudah sekali. Praktis dan fleksibel. Memudahkan untuk berpergian ke tempat tujuan dan tentunya sangat menghemat biaya.

Lawu, antara Bunga dan Banjir

Gunung Lawu adalah gunung ketiga bagi saya, yang waktu itu masih belia dan tanpa dosa (#uhuk). Kini setelah sembilan tahun lamanya dengan sedikit memaksa pada kesempatan cuti yang kesekian kali, akhirnya dapat bertemu kembali. Nostalgic rasanya. Waktu itu mendaki dengan teman-teman kuliah yang masih sepantaran, sekarang bersama dua gadis kuliahan yang cantik jelita (#uhuk).

Pos 1 Gunung Lawu.
Selepas mendaki Gunung Rinjani, dengan mengawali naik ojek di jam tiga pagi buta dari Senaru, perjalanan menuju Lawu dimulai. Di hari yang sama, terlambat dua jam dari perkiraan semula, pada pukul tujuh malam sudah bisa menginjakan kaki di Solo. Bus Surabaya-Solo yang saya tumpangi cukup nyaman, melaju dengan kencang dan hanya berhenti sekali di Ngawi untuk makan.

Lima Gunung dengan Danau Menawan

Tentu semua setuju, danau dan gunung adalah perpaduan yang ciamik! Bayangkan saja, pemandangan alam pegunungan yang indah ditambah permukaan danau yang bak kaca. Tambahkan di imaji tadi dengan kawan mendirikan tenda di pinggirannya, berkemah dan bersantai memancing ikan. Aih, siapa yang bisa menolak pesonanya? Maka tidak heran, perpaduan gunung dan danau seringkali dipotret untuk foto landscape kalender atau background wallpaper.

Menyusur Danau.
Nah, pada tulisan kali ini, izinkan saya untuk mengupas beberapa gunung di Indonesia yang memiliki danau di dalam kawasannnya. Danau-danau ini tentu sayang untuk dilewatkan untuk lokasi bertenda yang strategis. Selain menjadi sumber air minum yang mudah, feel berkemah di pinggir danau itu lo.. yang.. ah, rasakan sendiri ya, hehe..

Bersantai di Danau Segara Anak

Di luar tenda mulai terdengar hiruk pikuk para pendaki walau udara masih dingin menusuk. Sinar mentari pagi sedikit terlambat sampai ke tempat ini, terhalang tebing-tebing tinggi. Tak ingin ketinggalan menikmati suasana pagi di pinggir danau, kulepas sleeping bag, dan membuka pintu tenda. Hanya berjarak kurang dari sepuluh meter, Danau Segara Anak menjadi santapan nan lezat bagi mata yang lapar. Ah, akhirnya, yang dulu cuma angan kini menjadi nyata.

Heaven.
Di pinggir danau, para pendaki dan warga sekitar sudah asyik memancing ikan. Berbagai jenis joran menjulur ke tengah danau, mencoba peruntungan di pagi itu. Danau yang indah ini memang terkenal akan ikan mas dan mujair sebagai penghuninya. Dari sebesar jari sampai lengan orang dewasa dapat kita pancing. Mau digoreng atau dibakar, sama enaknya, sama gurihnya.

Beach Hopping di Bali Selatan

Siapa yang tidak kenal Bali? Destinasi favorit wisata ini menjadi primadona bagi Indonesia bahkan dunia. Malahan, saking terkenalnya, kadang kala turis mancanegara salah mengira bahwa Bali dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda. Segala jenis wisata dapat kita temukan di Bali, tidak terkecuali pantai. Pulau Dewata ini banyak menyimpan pantai-pantai yang menawan hati. Nah, kali ini saya ingin sedikit menulis pengalaman tempo hari beach hopping di pantai bagian selatan Bali.

Pantai Padang-padang.
Hampir di sepanjang pinggiran pantai telah menjadi spot wisata yang dikelola dengan baik. Dengan berbekal rental sepeda motor lima puluh ribu sehari, menyusuri jalanan di pesisir selatan Bali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Lupakan saran-saran tempat tujuan favorit, terkadang kita bisa menemukan pantai yang indah dengan tidak terduga-duga.

Menengok Perkampungan Bajo di Pagimana

Jarum alroji sudah menunjuk ke arah angka sebelas, cuaca cukup terik walau saat di jalan hujan sedikit mengguyur malu-malu. Di kiri jalan terlihat gapura besar ‘Pelabuhan Pagimana’ yang memberitahukan bahwa saya sudah sampai di Kecamatan Pagimana. Tidak ada objek wisata yang menarik di sini, tidak ada pula pusat perbelanjaan atau tempat hiburan. Sebenarnya, hanya rasa penasaran yang membawa langkah kakiku ke sini, lain tidak.

Pemandangan di Pinggir Jalan.
Berawal dari obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana. Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik feri setiap harinya.

Cidera yang Sering Terjadi Saat Travelling dan Penanganannya

Saat melakukan perjalanan tentu kita tidak berharap akan mengalami suatu kecelakaan, baik kecil maupun besar, dari sekedar luka lecet atau bahkan sampai patah tulang. Tentu alangkah baiknya pula jika kita mengerti dan dapat melakukan pertolongan yang baik dan benar. Kadangkala bentuk pertolongan pertama yang tepat dan cepat dapat menentukan hidup mati kita atau orang lain.

Ilustrasi.
Ketika melakukan trekking yang jauh masuk ke hutan atau daerah yang sepi tanpa ada peradapan, bantuan akan susah didapatkan. Jangankan mengharap bantuan medis,  desa terdekat terkadang baru dapat ditemui sehari dua hari perjalanan. Berikut adalah beberapa cidera yang sering ditemui saat berpergian dan bagaimana untuk pertolongan pertamanya.

Pendaki [yang kian] Lebay

Tulisan ini hanya melihat realita yang ada dari kaca mata saya. Melihat tingkah polah pendaki di alam nyata dan alam media sosial. Menarik—atau lebih tepat dikatakan parah, untuk diamati. Mungkin saja ini cuma pesimisme saya yang berlebihan atau bisa jadi ini cuma rasa jengkel yang ingin saya wujudkan dalam tulisan kali ini. Apapun itu, semoga saya dan kita tidak seperti itu.


Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.

Uwe Molino Tontouan

Satu lagi tempat wisata di Luwuk yang menarik dikunjungi di akhir pekan yakni Uwe Molino Tontouan. Uwe molino dalam bahasa lokal berarti air yang menggenang, mungkin sama artinya dengan telaga. Penasaran, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat satu ini. Makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak tempat-tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi. Asyiknya lagi, lokasi ini di seputaran Kota Luwuk, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan ke sana.
 
Uwe Molino Tontouan.
Kurang lebih sepuluh menit dari pusat kota ke arah barat daya kita akan menemui sebuah plang kecil di pinggir jalan. Tulisan di plang tersebut yakni: Pemandian Wisata Uwe Molino Tontouan. Dinamakan demikian karena berada di Desa Tontouan. Dari pintu masuk, kita masih harus berjalan kurang lebih 300 meter menuruni tangga. Pemandian yang kita tuju ada di ujung tangga. Ohya, tidak ada penjaga pintu yang menjual tiket di sini, bebas alias free.

Masjid Agung Jawa Tengah

Jika kawan hendak berwisata religi di Kota Semarang, tentu sayang jika melewatkan Masjid Agung Jawa Tengah. Sebuah masjid yang didesain dengan perpaduan gaya Islami, Jawa, dan Romawi ini merupakan masjid terbesar di Jawa Tengah. Yang menarik, di sini juga dibangun 6 payung raksasa di halaman masjid yang menyerupai Masjid Nabawi di Arab sana. Payung ini hanya dibuka saat sholat Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri bagi jamaah yang berada di halaman masjid.
 
Masjid Agung Jawa Tengah.
Selain itu, kita juga dapat menikmati pemandangan Semarang dari atas Menara Asma Al-Husna yang memiliki ketinggian 99 meter. Tidak perlu kuatir membayangkan menaiki tangga sampai ke atas karena sudah disediakan lift untuk para pengunjung dengan membayar biaya masuk yang sangat terjangkau. Dari atas menara kita dapat melihat Kota Semarang dengan pandangan 360 derajat. Hati-hati, terkadang angin lumayan kencang di atas.

Solotrip ke Gunung Padang


Jumat, 14 Febuari 2014, Gunung Kelud yang selama ini batuk-batuk kecil mengeluarkan letusannya yang besar. Untungnya, dampak yang dihasilkan tidak sedahsyat Gunung Merapi di Yogyakarta. Namun, cakupan imbas dari letusan Kelud lebih luas dari Merapi. Semua ini berkat abu vulkanik yang mengangkasa sampai ke Banten, di ujung lain dari Pulau Jawa. Gara-gara ini pula akhirnya dengan berat hati aku harus membatalkan trip ke Kiluan bersama teman-teman karena penerbangan dari Semarang ikut ditutup.

Mari Belajar Sejarah.
Pusing harus ke mana, kuputuskan untuk mengunjungi Gunung Padang, lokasi yang sedari dulu ingin kudatangi. Dengan berbekal jaringan paket internet yang sebentar lagi habis, kutemukan titik cerah transportasi ke sana. Lumayan gampang ternyata. Sarana yang kuambil dari Semarang yakni kereta Menoreh ke Jatinegara, disambung angkot-metromini-busway-plus nyasar ke Terminal Rambutan untuk mencari bus menuju Kabupaten Cianjur.

Menuju Salakan

Waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, peluit Kapal El Savador baru berbunyi satu kali, pertanda masih ada cukup waktu bagi penumpang untuk menyelesaikan urusannya di darat. Itu pula yang membuatku menyempatkan diri mampir ke toko jajanan untuk sekedar membeli cemilan dan air minum sebagai bekal perjalanan malam itu. Atas bantuan teman pejalan dari Luwuk, akhirnya keinginan untuk mengunjungi Salakan dapat terwujud. Dari yang setiap hari hanya melihatnya dari Banggai daratan, kini aku akan dapat menginjakan kaki di sana.

Kapal El Savador.
Salakan adalah ibukota untuk Kabupaten Banggai Kepulauan, salah satu ‘kota’ yang lumayan ramai pada semenanjung Sulawesi bagian timur. Terdapat tiga kabupaten yang menyandang nama Banggai, yakni Banggai yang beribukota di Luwuk, Banggai Kepulauan dengan pusat di Salakan, dan paling timur terdapat Banggai Laut dengan ibukota Banggai. Salakan yang terletak di Pulau Peling, pulau terbesar di Banggai Kepulauan juga terkenal akan hasil alamnya terutama ikan, mutiara, coklat, dan durian.

Luwuk Dalam Sehari

Terletak di salah satu ujung peninsula Pulau Sulawesi, Luwuk dapat dibilang cukup ramai. Sebagai ibukota Kabupaten Banggai, Luwuk mempunyai bandara sendiri yang sebagian besar rutenya melayani penerbangan dari Makasar. Di beberapa sudut kota pun sudah mulai berjamuran tempat makan fast food yang kuanggap sebagai salah satu indikator ‘kota’ yang ramai. Universitas dan beberapa akademi pun ikut menghidupkan perputaran sendi-sendi kota.

Air Jatuh Salodik.
Walau belum memiliki bioskop dan belum terjamah toko waralaba, banyak toko-toko yang menawarkan segala jenis barang di sepanjang jalan. Pada hari minggu, mungkin disebabkan banyak warganya yang menjalankan ibadah, suasana jalan akan sedikit lengang dan sebagian pertokoan menutup dagangannya. Nah, jika kawan pejalan sempat singgah barang sehari di kota kecil ini, inilah beberapa lokasi wisata yang dapat dikunjungi dalam sehari.

Life Just a Click, Goodbye Our Librarian

Saat sedang asyik menyelesaikan laporan yang menggunung, smartphone satu-satunya berdering sekali, pertanda ada pesan masuk. Ah, paling itu hanya pesan dari salah satu group berisik yang kuikuti. “Temans, emang Sandy meninggal?”, sebaris pesan itu langsung mengusik fokus dari laporan yang menuntut untuk dikirim siang itu juga. Jikalau ada kabar orang tua atau saudaranya teman yang meninggal tersiar, jujur aku hanya melihat sekilas, lalu turut mengucapkan belasungkawa, dan kembali ke rutinitas, that’s all.

Sandy.
But this time someone I knew, someone my age, died so suddenly. Pikiranku langsung terbayang ke masa kuliah dulu. Oke, aku memang termasuk mahasiswa yang paling tidak betah di kampus. Jarang masuk, sering telat, kadang pulang lebih dulu, dan kalaupun masuk selalu duduk di deretan tengah, buka buku komik, baca, dan kemudian tidur. Meskipun begitu, sebagai orang yang suka baca, perpustakaan adalah tempat favoritku di kampus. Dan nama yang disebut di pesan tersebut adalah penjaga perpustakaan itu.

Mendaki Gunung Slamet

Berdiri menjulang setinggi 3.428 meter dari permukaan laut menjadikan Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah. Rumornya, Slamet dianggap gunung suci pada masa Kerajaan Majapahit sehingga kawasan ini tetap tidak terjamah. Hal ini pula yang menyebabkan dialeg penduduk di kakinya sedikit (baca: tetap) berbeda dengan penduduk Jawa yang lain. Kalau di Bayuwangi ada Bahasa Osing, di kaki Slamet di kenal dengan nama Bahasa Ngapak.

Di Puncak Slamet.
Bersama dengan Sindoro dan Sumbing, Slamet terkenal dengan sebutan triple S. Kesamaan huruf awal dan lokasi yang berdekatan mungkin menjadi latar belakang adanya istilah ini. Keindahan gunung satu ini sayang untuk dilewatkan. Jalur dengan vegetasi hutan yang lebat dan terkesan mistis. Sementara selepas Pos 5 kita akan disuguhi pemandangan di atas awan yang luar biasa. Indah sekali. Namun seperti kedua saudaranya, di sepanjang jalur Gunung Slamet tidak memiliki sumber air.

Pesta Durian Banggai

Mulai bulan Maret, suasana pasar-pasar di Banggai akan ramai dengan para pedangan durian. Tidak hanya itu, di sepanjang jalan Luwuk-Toili dengan mudah buah berkulit duri ini kita temui. Tak terkecuali di Batui, tempat saya singgah, setiap malam di pasar – di sini pasar beroperasi sampai larut malam – suasana makin meriah oleh penjual dan penikmat buah beraroma tajam ini. Ya, bulan Maret adalah saatnya warga Banggai untuk berpesta durian.

Belah Durian.
Mungkin yang membedakan durian di sini dengan di Jawa atau Sumatra yakni ukurannya yang tergolong imut. Kecil. Rata-rata hanya berdiameter 10-15 cm saja, daging buahnya pun tidak begitu tebal, biasa saja. Namun yang jelas, selama merasakan durian-durian imut itu hampir tidak pernah menemukan durian yang rasanya tidak enak. Semua enak, manis! Apalagi kalau tinggal makan, hehe..

‘Berkunjung’ ke Nusakambangan

Bagi kebanyakan orang, Nusakambangan tentu bak Alcatraznya Indonesia. Sebuah penjara yang dibangun di sebuah pulau ‘tak berpenghuni’ membuat tahanan terisolasi di tengah lautan. Karang, obak, dan laut menjadi batas yang hampir mustahil ditembus. Namun bagi warga Cilacap, selain sebagai tempat para napi menjalani masa hukuman, pulau kecil ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Tidak percaya?

Benteng Pendem.
Untuk menuju Pulau Nusakambangan yang berada di Kabupaten Cilacap ini, kita dapat melalui berbagai jalur. Pengalaman saya hendak menuju ke pulau ini sedikit mengalami penolakan. Mungkin karena faktor ketidaktauan saja. Ketika hendak menyebrang dari dermaga Departemen Perhubungan, ditolak. Tidak menyerah mencoba peruntungan dari Departemen Kehakiman, itupun juga di tolak. Akhirnya pergi ke Pantai Teluk Penyu, ternyata bisa menyebrang dengan harga murah dan disambut oleh plang Departemen Pertahanan.

LOST

Pernah tersesat di gunung? Saya pernah. Untungnya tidak sampai berhari-hari, hanya beberapa jam saja. Kebingungan saat mencari jalan naik walau sudah beberapa kali mendaki gunung yang sama atau kebingungan saat mencari jalan turun membikin frustasi memang. Ketika kondisi fisik sudah mulai menurun dan kondisi lingkungan yang tidak begitu bersahabat bertemu maka secara psikologis akan membuat kita makin panik.

Mencari Jalan.
Jika dilihat dari ketinggiannya, Gunung Ungaran yang memiliki puncak 2.050 mdpl memang tidak terlalu tinggi. Pun gunung ini mudah dijangkau dan masih terdapat perkampungan dekat dengan puncaknya. Namun di gunung ini pula saya beberapa kali sempat tersesat. Entah kebingungan mencari jalur naik hingga harus sedikit memutar ataupun terjebak di rimbunnya pepohonan hingga tidak bisa tembus. Rencana berfoto di puncak pun kandas karena terlalu meremehkan medan.

Menghilangkan Pening di Rawa Pening

Jika kawan melintas dari arah Jogya atau Solo menuju Semarang, pastinya pernah melewati sebuah rawa luas yang mencakup beberapa kecamatan. Dengan luas 2.670 ha, Rawa Pening membentang dari Ambarawa, Banyubiru, bahkan sampai Salatiga. Untuk menuju kesini kita tidak perlu bersusah-susah. Ada tiga titik wisata yang dapat dituju, di Tuntang ada Rawa Permai yang ramai, di Banyubiru ada Bukit Cinta yang katanya lebih teduh, dan tempat terakhir yang menjadi tujuan saya: Wisata Apung Kampung Rawa di Ambarawa.

Karamba.
Kampung Rawa sejatinya adalah hasil paguyuban warga Ambarawa untuk menarik wisatawan ke Rawa Pening. Di samping dapat menciptakan lapangan kerja baru, hal ini dapat mempermudah dan memberikan alternatif untuk para wisatawan. Terdapat perkumpulan perahu yang dapat di sewa untuk menjelajah Rawa Pening, kios-kios oleh-oleh, warung-warung jajanan dan makanan, dan restoran apung yang menawarkan aneka menu lokal.

Alam Liar dan Kisah Argopuro

Embun pagi dan bau tanah pagi hari menyeruak masuk ke sanubari. Gerimis yang semalam iseng menyapa sekitaran tenda menambah harum pagi ini. Tidak mau kalah, dingin yang menusuk tulang ikut datang tidak mau ketinggalan. Di kejauhan, kabut pekat masih belum rela melepas pelukan dari permukaan danau yang jernih bak kaca. Pagi itu, Danau Taman Hidup seperti menyambut kami dengan segala keindahannya yang hendak menuju Puncak Argopuro.

Cikasur.
Dikisahkan, Argopuro adalah tempat pelarian Dewi Rengganis karena tidak merasa diakui oleh ayahnya Prabu Brawijaya. Bersama patih dan pengikutnya yang setia beliau melarikan diri dari istana. Hal ini mungkin bukan hanya cerita isapan jempol, di puncaknya masih dapat kita lihat sisa-sisa seperti pura dan bangunan lainnya. Mungkin karena itu pula, gunung ini disebut demikan. Dari kata argo yang berarti gunung dan puro berarti pura.

Piknik di Hutan Belakang Kampus

Ingat kisah Nobita dan kawan-kawan yang suka bertualang di hutan belakang sekolah? Mencari serangga, berkemah, atau melakukan hal-hal yang menegangkan. Aku yakin kawan pasti ingat. Jika Nobita melakukannya saat masih di Sekolah Dasar, aku melakukannya ketika sudah menginjak bangku kuliah. Hehe.., bersenang-senang tidak mengenal umur kawan. Beruntunglah di belakang kampusku dulu terdapat ‘hutan’ yang masih permai sehingga aku dapat sedikit merasakan kecerian sahabat Doraemon ini.

Memasak Mie.
Berada di lokasi yang berbukit-bukit, kampusku  dibangun di tempat yang dulunya hutan. Kini, di belakangnya masih menyisakan sedikit bekas hutan. Sebagian telah berubah menjadi perkerbunan penduduk sekitar. Sebagian lagi menjadi tempat berlatih tentara sehingga kesan ‘hutan’nya masih terpelihara dengan baik. Mungkin malah sengaja dipelihara.

Asyik Naik Becak di Kotagede

Gerimis sedikit menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang, rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja. Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!

Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang.
Memasuki kawasan Heritage Kotagede terdapat sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.

Teringat Akan Kereta K3

Sumpek, harus berdesak-desakan, dan gelesotan di lantai gerbong karena tidak kebagian tiket mungkin adalah pemandangan yang lumrah pada kereta K3 dulu. Kereta api bak supermarket berjalan yang menawarkan segala jenis barang dan jajanan kepada penumpang. Portable charger, boneka, baju batik, pecel, gorengan, hingga oleh-oleh khas tiap daerah yang dilewati dapat kita peroleh tanpa keluar gerbong. Bahkan tanpa berdiri dari kursi. Ya, itulah sedikit gambaran kereta api ekonomi atau yang dikenal dengan kereta K3.

Adek-adek Penumpang K3.
Nama K3 ini sebenarnya berasal dari sistem penomoran tingkatan kereta api. Kelas ekonomi dikategorikan ke dalam kelas tiga. Oleh karena itu di gerbongnya tertulis K3, semisal K3 99207 mempunyai arti kereta kelas ekonomi dengan tahun pembuatan 1999. Digit ketiga dan empat adalah tahun pembuatan, sedangkan digit kelima adalah jenis bogie dan dua digit terakhir adalah nomer urut.

Menyisir dan Menelisik Mitos Maninjau

Alkisah hiduplah sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau Maninjau.

Mengayuh Sampan di Maninjau.
Begitulah sepenggal mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita berkunjung ke Sumatera Barat.

My First CPR in Real

Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.

Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja).
CPR (Cardio Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.

Fotografi Buta di Arjuna Welirang

Yang aku maksud dengan fotografi buta ini bukan fotografi oleh orang buta, bukan pula memoto orang buta. Namun ketika kita memotret dalam kondisi tidak bisa melihat objek yang hendak kita foto. Bukan tidak ada view finder, bukan pula karena sedang aksi. Hal ini semata-mata disebabkan layar lcd kamera pocket yang rusak sehigga kita tidak bisa melihat objek yang hendak kita ambil, hehe..

Menyusur Gunung Arjuna.
Awal kisah sebagai mahasiswa kere yang agak narsis, ketika jalan-jalan yang pertama kali dicari yakni pinjaman kamera. Setelah cari sana-sini tiada hasil, tinggal kamera pocket Nikon Coolpix temen yang dapat dipinjam. Sialnya, lensa kameranya rusak dan memang desain kamera tersebut tidak menyediakan view finder. Okelah, daripada tidak ada dokumentasi sama sekali, foto-entah-bagaimana-hasilnya pun tak mengapa.

Kesialan-Kesialan Saat Naik Motor

Terkadang, jalan-jalan akan lebih asyik jika ditempuh dengan menggunakan sarana roda dua. Lebih flesibel dalam melewati rute yang kita tuju, lebih irit ongkos, dan tentunya lebih leluasa melihat pemandangan sekitar. Motor juga lebih lihai dalam menyusup di tengah kemacetan jalan raya. Namun, kadang kala, atau bagiku sering kali, kita mengalami kesialan saat naik motor. Kesialan yang semestinya dapat kita hindari.
 
Baluran (doc. Erika).
Hal-hal kecil dapat terjadi karena kelalaian atau terlalu bersemangat saat touring. Tapi, justru terkadang hal ini menjadi bumbu yang asyik saat perjalanan kita. Apa seh yang menarik dari perjalanan yang berjalan 100% lancar sesuai rencana? Bagiku jelas tidak ada. Bumbu-bumbu kejutan dan kesialan menjadi pemanis sekaligus asamnya perjalanan yang lezat.

Da, Dha, dan Arti Sebuah Nama

Ada pepatah yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama?”. Aku bilang pepatah tersebut 100% keliru! Nama sangat penting artinya. Coba bayangkan nama Anda diganti kambing atau babi, dan ketika Anda komplain, orang yang memanggil cuma berkata “Kawan, apalah arti sebuah nama?”. Di beberapa kultur budaya, seperti Jawa, nama sangat penting artinya.

By the Name of D.
Sri Baginda Sunan Paku Buwana II membalik nama Kartasura menjadi Surakarta karena dianggap nama yang pertama banyak menimbulkan musibah dan bencana. Pada beberapa daerah, anak kecil yang sering sakit-sakitan harus diganti namanya agar sakitnya sembuh. Dianggap nama yang sebelumnya tidak cocok atau membawa sial.

Cidaon versus Sadengan

Bagi yang sudah pernah ke Ujung Kulon tentu tidak asing dengan nama Cidaon. Padang penggembalaan banteng yang terletak persis di depan Pulau Peucang ini memang menjadi salah satu daya tarik wisata utama Taman Nasional Ujung Kulon. Serupa di ujung satunya Pulau Jawa, yakni di Taman Nasional Alas Purwo, terdapat Padang Penggembalaan Sadengan. Bak de ja vu, kedua tempat tersebut mirip sekali.
 
Pagar Pembatas Sadengan.
Di kedua padang penggembalaan tersebut kita dapat melihat banteng liar dan merak yang sedang asyik merumput. Namun, jika kawan membandingkan antara keduanya, tentu akan sedikit kaget. Walau sama-sama Taman Nasional, namun kondisinya bak langit dan bumi. Yang di ujung barat tampak kumuh dan tidak terawat, sementara ujung timur terlihat teratur dan terpelihara.

Mengunjungi Laksamana Cheng Ho di Sam Po Kong

Pada abad ke-15, seorang Laksamana Tiongkok yang memeluk Islam terpaksa membuang sauh di Pantai Utara Jawa karena ada salah satu anak buahnya yang sakit keras. Laksamana yang dikenal dengan nama Cheng Ho ini mendarat di daerah Simongan, dekat dengan Kota Semarang. Tak hanya singgah, beliau juga membangun sebuah masjid dan mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga. Bekas petilasan atau tempat persinggahan Laksamana ini sekarang dikenal dengan nama Sam Po Kong.

Teras Bangunan Utama.
Uniknya, walau beragama Islam, Umat Tionghoa yang menganut Kong Hu Cu memuja Cheng Ho sebagai dewa. Memang, bagi mereka, orang  yang sudah meninggal dianggap dapat memberikan pertolongan. Maka tak heran lokasi yang dulunya masjid kini berubah fungsi menjadi kelenteng untuk ziarah dan bersembahyang. Sam Po Kong juga dikenal dengan nama Gedung Batu karena di bagian belakangnya yang merupakan bukit, terdapat sebuah gua batu.

Wisata Petualangan di Batu Tikar

Satu lagi tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.

Berenang di Batu Tikar (doc. Doni).
Untuk menuju ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam jika berjalan santai. Belum ada ticketing, karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada. Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti arah sungai.

Jalan-jalan ke Merapi

Sehabis Sholat Idul Fitri, langsung kutancap gas Bluemerry menuju Semarang untuk bertemu dengan kedua dua cewek ‘gila’ itu. Ya, dikala orang lain bergemberia merayakan Hari Kemenangan, kami malah jalan-jalan. Bukan berarti kami anak durhaka, hanya saya kami ingin merayakannya dengan sedikit berbeda, yakni jalan-jalan ke Gunung Merapi, hehe..

Menunggu Matahari Terbenam (doc. Lei).
Jadi ceritanya jalan-jalan kali ini hanya untuk melepas kangen akan aroma gunung. Lama bergulat dengan macet dan laporan membuat kepala makin penat saja. Nah, dipilihlah Gunung Merapi sebagai obat kangen dan pereda penat di kepala. Berangkatlah aku dan kedua temanku itu dengan hanya berbekal sepeda motor dan bekal seadanya. Tujuan kami memang bukan naik gunung, hanya sekedar trekking di jalurnya, di tengah rindangnya pepohonan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...