Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.
Menurut
KBBI, ekspedisi berarti perjalanan
penyelidikan
ilmiah
di
suatu
daerah
yg kurang
dikenal. Bagi saya kata itu berat sekali. Namun tampaknya sebagian pendaki suka
berhiperbola ria. Mendaki dua gunung, katakanlah Sumbing Sindoro, sudah bisa
dimasukan ke kategori ekspedisi. Tolong ya, itu gunung di pinggir jalan persis,
berhadapan pula. Dari mana bisa disebut ekspedisi? Rasanya ingin kujejalkan
KBBI yang tebal itu ke ranselnya.
Contoh lain
diambil di media sosial. Saya suka melihat foto-foto yang diunggah ke media
sosial seperti twitter, asyik karena bisa menambah khasanah keilmuan dan
sedikit mengobati rasa kangen akan gunung. Walau kadang malah memperparah seh sebenarnya. Namun, hal ini bisa
sedikit membuat jengkel ketika si pemilik akun yang upload foto menyatakan keindahan Gunung Ciremai, namun 50%-70%
malah wajah si pemilik akun yang terpampang. Mending ndak usah upload, ikutan
kontes selfie sana!
Males lagi ketika membaca
pertanyaan-pertanyaan yang sewajarnya tidak perlu ditanyakan. Pertanyaan itu
cuma membuktikan tingkat kemalasan si pendaki yang sudah akut. Maunya instan
langsung dilayani, secara gratis pula.
Ndak pernah diajari sama ibumu soal kerja keras ya? Pertanyaan seperti
berapa rupiah dari Bekasi ke Bromo? Sarana transportasi dari kota A ke gunung B
sejatinya sudah banyak di blog-blog para pendaki dan travellog para pejalan.
Apalagi untuk gunung-gunung favorit seperti Semeru, Cikuray, Ciremai, Merapi, dan
lain sebagainya. Usaha dikit napa?
Satu lagi
yang membuat malas melihat foto pendaki yang diupload ke media sosial, yakni
mengumbar kemesraan di gunung. Si pendaki A melamar pendaki B, pendaki C
menembak pendaki D, atau pendaki E foto berdua penuh romansa dengan pendaki F
di puncak gunung. Lain halnya jika yang menguload itu teman atau orang yang
menceritakan kisah mereka, tentu akan sedikit berbeda ceritanya. Namun ketika
pendaki ramai-ramai mengumbar kemesraan yang semestinya menjadi hal pribadi, bagi
saya itu menjengkelkan.
Terakhir
pendaki yang suka berpuitis ria. Entah dari mana inspirasinya, ketika mendaki
satu gunung saja bisa berderet-deret kalimat super bijak yang berbusa-busa bisa
dikeluarkan. Mencari jati diri yang hilang atau belum ketemulah, pencarian
jawabanlah, menceritakan kisah dengan penuh hiperbolis, atau bahasa lebay lainnya. Bagi saya, tujuan
pendakian ya untuk mendaki gunung, lain tidak. Gunung adalah medan ekstrem yang
tentu saja bukan untuk tempat orang labil bin
galau.
Mohon maaf
yang merasa tersinggung mengingat ini cuma persepsi pribadi saya. Mari menjadi
pendaki yang cerdas dan saling menginspirasi. Happy climbing, keep safe, fun, and clean climbing. (dm 052714)

Kalo ente bang pendaki kayak apa bang ? deskripsikan bang, hhe
ReplyDeleteASe
Kalau saya? Hmm... pendaki serabutan yang tetap memaksakan untuk mendaki di sela kesibukan jadi kuli pabrik, yang bercita-cita menjejakan kaki di setiap puncak yang ada, dan membagikan keindahannya ke sesama. Saya mendaki karena memang ingin mendaki gunung, lain tidak. :)
Deletenice post! boleh saya share ke twitter+fb saya?
ReplyDeletewah, terima kasih mas Agus. Silahkan kalau mau dishare. :)
Deletehihihi, keren tulisannya om, yang sabar aja om, namanya juga manusia, pasti beda2 kelakuannya,, terkecuali buat para pendaki yang hobi ngerusak alam, mereka wajib kita serang, hehe
ReplyDeletesalam..
Hei, salam kenal. Makasie ya. tapi masih kalahlah sama tulisan situ. hehe..
DeleteTulisannya masih kalah sama yg nulis di bebatuan sepanajang trek Pulosari hihi nice post kang.
ReplyDelete