Banyak jalur
untuk menuju Puncak Raung. Dua jalur yang paling terkenal yakni dari Glenmore
untuk menuju Puncak Sejati dan Sumber Waringin yang menjadi ‘jalur nasional’. Jalur
lain yang dapat dijadikan alternatif yakni dari Kalibaru dan Luwak. Banyaknya
jalur ini mafum terjadi mengingat puncak terdapat di sepanjang kaldera terluas
di Pulau Jawa dengan panjang lebih dari dua kilometer.
Raung dari Sumber Waringin
Gunung yang
terkenal dengan Puncak Sejatinya ini mungkin menjadi satu-satunya gunung berapi
di Indonesia yang membutuhkan peralatan SRT
untuk ke puncak. Sebagai gunung stratovolcano
yang masih aktif, gunung satu ini kerap menyemburkan asap dan api. Terletak di
ujung paling timur, Puncak Raung seperti menjadi pamungkas pendakian di Pulau
Jawa dengan jalur terekstrem.
Kawah Bulan Sabit?
Bukan! Bukan
sebuah kawah yang berbentuk bulan sabit. Bukan pula kawah sebuah gunung yang
bernama ‘Bulan Sabit’. Nama gunung tempat kawah ini berada yakni Gunung Merapi.
Tetapi bukan gunung berapi yang terletak di Jawa Tengah ataupun Sumatra Barat.
Lokasi persisnya berda di Kawasan Cagar Alam Kawah Ijen, di ujung timur Pulau
Jawa. Uniknya, pada kawahnya terdapat gundukan tanah dengan pepohonan di
atasnya yang menyerupai bulan sabit. Persis seperti bulan sabit.
Aturannya,
untuk menuju ke sini kita diharuskan mengantongi izin dari Dinas Perhutani
selaku pengelola Cagar Alam. Jalur untuk menuju ke sini pun tidak mudah
mengingat tiadanya akses yang jelas. Terdapat dua “rute” untuk menuju ke sini,
yang pertama dari Pos Paltuding, Banyuwangi, yang membutuhkan waktu enam hari.
Sementara jalur satunya cukup ditempuh dalam waktu 4 jam yakni dari bibir Kawah
Ijen, lokasi Blue Fire yang terkenal tersebut.
| Kawah Bulan Sabit dari Kejauhan. |
Tips Nyaman ke Kampung Semawis
Bagi
penggemar wisata kuliner, tentu tak lengkap jika belum mengunjungi tempat satu
ini jika bertandang ke Semarang. Terletak di kawasan Pecinan, ‘kampung’ yang
sebenarnya cuma sederet jalan yang dipenuhi aneka penjual makanan dapat
memuaskan selera kita soal makanan. Dari nasi goreng, siomai, sate babi, hingga
aneka olahan mie dapat kita jumpai di sini.
| Suasana Kampung Semawis. |
Dari Simpang
Lima, pusat Kota Semarang, ambil Jalan Gajah Mada ke arah Johar. Pada lampu
merah ketiga belok kanan untuk menuju ke kawasan Pecinan. Nah, Kampung Semawis
terletak persis di depan Gerbang Pecinan. Bagi yang menggunakan angkutan umum
mungkin dapat naik angkot ke arah Johar, dari Pasar Johar dapat dilanjut naik
ojek atau jalan kaki, Pecinan terletak bersebelahan dengan pasar terbesar
se-Semarang ini.
Mencumbu Puncak Prau dari Dieng
Pada tulisan
sebelumnya, aku mengupas pendakian Gunung Prau dari sisi utara, yakni dari
Kabupaten Kendal. Jika pada jalur Kendal membutuhkan waktu hampir enam jam,
dari Dieng kita hanya membutuhkan dua jam saja. Tidak perlu heran, hal ini
dikarenakan start pendakian yang
sudah tinggi. Di samping itu, pendakian ke puncak dari Dieng makin seru
mengingat jalurnya yang langsung menanjak ke atas, menuju padang bunga di
Puncak Prau.
| Bunga Daisy. |
Perjalanan ke Puncak
Untuk menuju
Basecamp Prau, start pendakian gunung 2.565 mdpl ini dimulai, kita harus menuju
Dieng terlebih dahulu. Dieng paling mudah dicapai dari Wonosobo, Jawa Tengah. Basecamp
gunung ini berupa gedung pemerintahan desa yang merangkap basecamp di bagian
belakangnya. Gedung ini terletak persis di pinggir jalan Wonosobo-Dieng. Kurang
lebih 500 meter dari pintu gerbang Kawasan Wisata Dieng.
Bunda Tuti dan Sampah
Saat turun
dari Puncak Prau, ada sesosok pendaki tipikal pendaki ibukota berduit: gear serba deuter dengan stick pole
di tangan. Jika biasanya pendaki (termasuk yang menulis) ingin turun
secepatnya, ibu satu ini malah dengan sabar memunguti sampah-sampah di
sepanjang jalur turun. Dari bungkus permen sampai botol air mineral beliau
pungut satu-satu. Ternyata, ibu itu adalah sosok yang selama ini hanya kukenal
lewat millist dan facebook.
| Bunda Tuti Saat Memunguti Sampah. |
Bermula dari
mailing list aku mengenal sosok satu
ini. Kala itu hendak mencari barengan buat ke Kerinci, namun sayang pada
akhirnya harus batal terlaksana karena waktu yang tidak sejalan. Dari millist berlanjut ke social media facebook. Kebetulan pula
ibu satu ini lumayan doyan bergentanyangan di dunia maya, sehingga komunikasi
tidak terputus walau tidak sempat naik gunung bareng. Beliau mengaku sebagai
Tuti Jail.
Subscribe to:
Posts (Atom)
