Wisata Petualangan di Batu Tikar

Satu lagi tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.

Berenang di Batu Tikar (doc. Doni).
Untuk menuju ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam jika berjalan santai. Belum ada ticketing, karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada. Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti arah sungai.

Jalur yang Memompa Andrenalin
Jalan setapak yang harus dilalui menuju Batu Tikar sangat menyenangkan untuk dilalui. Ketinggian lokasi ini paling berkisar 500-700 m di atas permukaan laut, namun kita akan menjumpai vegetasi yang sangat heterogen. Baru kali ini aku masuk ke hutan dan menjumpai beraneka ragam tanaman dari paku-pakuan sampai pohon kemiri. Walau aku tidak tahu semua namanya, menikmati keindahan bentuk dedauan yang beraneka adalah pengalaman yang tersendiri.

Pintu Masuk Jalan Setapak.
Menyebrang Sungai.
Memanjat Akar Pohon.
Mengingat jalan setapak tersebut mengikuti aliran sungai, maka tidak heran seringkali kita harus menyebrang untuk berpindah sisi sungai. Dari yang hanya sungai dengan dasar yang datar sampai bebatuan dengan aliran deras menjadi teman selama perjalanan. Batu-batuannya berwarna putih dan tidak licin, hal ini mungkin disebabkan adanya endapan kapur yang dibawa aliran sungai.

Siapkan tangan yang kuat, pada beberapa titik kita harus memakai kedua tangan untuk melewati jalan setapak tersebut. Di tengah perjalanan terdapat sebuah air terjun setinggi kurang lebih 20 meter, dan menariknya, kita harus mendaki di samping air terjun tersebut. Berpegang pada akar-akaran yang semoga saja kuat menahan beban tubuh kita.
 
Aneka Dedauan (1)
Aneka Dedaunan (2).
Aneka Dedaunan (3).
Kaki Seribu yang Berwarna Abu-abu.
Sumber Mata Air
Mendapat nama Batu Tikar karena air jatuh ini bak karpet panjang yang digelar di sepanjang alirannya. Berundak-undak sampai bawah membentuk tangga alami. Hebatnya lagi, air yang membentuk air jatuh ini berasal dari sumber mata air yang mengalir deras dari perut Bumi, bukan dari aliran sungai. Sumber air ini persis di samping aliran sungai, mengalir deras ke bawah.

Bentuk Batu Tikar yang unik ini berasal dari endapan kapur selama ratusan tahun yang keluar bersama mata air tadi. Di bagian atas kita dapat tiduran telentang sambil menikmati air yang mengalir. Sementara di tengah kita dapat bermain di bawah guyuran air yang tidak begitu deras. Dan di bagian bawah, kita dapat berenang-renang di sungai.  Mau berlompatan ke air pun dapat dilakukan.

Air Jatuh di Tengah Jalan.
Sumber Mata Air.
Memasak di Batu Tikar.
Berada di sini, baru aku sadari kenapa selama ini air isi ulang yang ada di luwuk seperti mengandung kapur. Ternyata sumber air yang diambil berasal dari Batu Tikar ini. Terdapat sebuah pipa yang berada di samping mata air untuk mengambil air langsung dari sumbernya. Pantas saja rasanya sedikit aneh. Saranku, jika tubuh kawan pejalan sensitif dengan air, beli saja air dalam kemasan yang sudah terjamin kualitasnya. Pengalaman pertamaku di Luwuk berakhir dengan diopname selama lima hari!
 
Batu Tikar.
Ohya, jangan lupa membawa makanan ringan karena tidak ada orang yang jualan. Tentu lebih asyik lagi kalau membawa alat masak dan memasak di pinggir air jatuh. Nikmat sekali. (dm 011614)

5 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...