Saat itu
kami sedang dalam perjalanan balik dari Tambora, ketinggalan bus
Calabai-Mataram, kami terpaksa putar haluan menuju Dompu. Dompu adalah kota
kecil yang berada di jalur trans Bima-Jakarta, tentunya dari sini lebih mudah
untuk mencari angkutan ke arah Mataram untuk turun di Pototano. Namun jangan
salah, tujuan kami bukanlah Pototano, namun pulau kecil nan cantik yang
terletak tidak jauh dari penyebrangan feri di Pulau Sumbawa tersebut. Namanya
Kenawa.
Showing posts with label Tambora. Show all posts
Showing posts with label Tambora. Show all posts
Yuk, Mampir ke Kenawa!
Bus yang
seharusnya berangkat jam delapan malam molor hingga dua jam. Entah alasan klise
apalagi yang bakal dilontarkan agen bus di Dompu ini. Aku tidak butuh alasan, aku
butuh tumpangan ke Pototano. Sejam yang lalu pun kami sempat dipindahkan dari
Terminal tempat kami menunggu bus dari jam lima sore, “Ada jembatan rusak
sehingga bus tidak bisa masuk terminal”, kata agennya berkilah.
Tambora Bercerita (#3) Puncak!
Tepat pukul 9
lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851
mdpl. Finally I made it! Setelah
perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari
puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang
membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung
setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah
terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
![]() |
| Kawah Gunung Tambora. |
Memandang
keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam
yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung
inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim
panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya
satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti
hilang.
Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila
Kaget! Itu
adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis
yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya
berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang
lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya
sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”
“La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya
di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah
ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya
menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana,
sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak
gelap dan horor di mata saya.
Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai
Jarak antar
kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak
masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus:
kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa,
dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak
di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan
ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul
satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!
Saking
banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki
kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus
penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan
moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih
tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.
![]() |
| Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai. |
Subscribe to:
Posts (Atom)



