Pernah mendengar istilah via ferrata? Mungkin pendakian gunung ini masih jarang ada di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Salah satunya dan yang pertama ada di Indonesia yakni Via Ferrrata Gunung Parang di Purwakarta. Gosipnya sih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara dengan ketinggian 900 mdpl, wah, tentunya sayang sekali untuk dilewatkan bukan?
![]() |
| Via Ferrata Gunung Parang |
Untuk mendaki Gunung Parang sangat mudah, tinggal menghubungi operator pendakian, mau on the spot atau open trip. Bebas dipilih. On the spot artinya kita berangkat sendiri menuju lokasi, ketemuan di tempat dan tinggal melakukan pendakian. Satu orang pun jadi. Kalau Open trip berarti kita berangkat dalam kelompok yang diadakan setiap hari sabtu/minggu, kumpul di Semanggi, Jakarta, dijemput, mendaki, dan diantar pulang lagi.
Karena aku tidak terlalu berminat mengikuti open trip atau pendakian di akhir pekan dikarenakan tentunya akan sangat ramai, tentu saja memilih On the Spot. Untuk menuju ke Gunung Parang, kita bisa menggunakan moda Kereta Api Serayu seharga 64k yang berangkat pukul 9 pagi dari Stasiun Pasar Senen kemudian turun di Stasiun Plered, disambung naik ojek seharga 50k ke basecamp. Atau bisa juga menggunakan bis dari Kampung Rambutan, turun di Purwakarta, sambung angkot ke Plered dan naik ojek ke basecamp.
Awalnya kupikir hanya ada satu EO untuk via ferrata di Gunung Parang, jadi ketika tukang ojek berhenti di salah satu ‘basecamp’ pendakian aku pun langsung turun dan membayar. Tidak tahunya sekarang sudah ada 5 EO! Luar biasa sekali anemo via ferrata Gunung Parang. Setiap EO punya jalur via ferrata masing-masing. Jadi, kalau on the spot pastikan tidak salah basecamp seperti yang kualami, harus berjalan kaki menuju basecamp tujuan, kurang lebih 500 meter.
Beberapa EO yang mengakomodir pendakian via ferrata yakni Badega, Skywalker, Taman Langit, dua lagi tidak tau. Kebetulan, saat itu aku menggunakan jasa Skywalker yang dipunyai Kang Bibin.
Sampai di kaki Gunung Parang, kita diarahkan ke rumah Kang Bibin yang dijaga ibunya. Lokasi basecamp dekat dari situ, kurang lebih berjalan 50 meter saja, berada di belakang rumah Kang Bibin, atmosfernya serasa piknik di kebun belakang rumah saja. Di basecamp terdapat lapangan yang sudah didirikan tenda-tenda untuk beristirahat dan juga terdapat toilet serta mushola. Banyak juga kursi dan amben dari bambu yang enak untuk bersantai.
Tidak berlama-lama, setelah melakukan persiapan pendakian, langsung saja saya menuju tebing Gunung Parang tempat titik mula pendakian. Besi roundbar ditancapkan ke tebing batu satu demi satu membentuk semacam tangga sampai ke puncak. Kita dilengkapi sepasang safety rope yang ujungnya terdapat karabiner/hook untuk mencantol ke tali pengaman di sepanjang jalur via ferrata. Pastikan selalu mencantol 2 hook ketika sedang berjalan, jaga-jaga ketika kepleset dan jatuh.
Menapaki pegangan besi satu demi satu sangat memacu andrenalin. Jika melihat ke bawah, langsung mulai berkunang-kunang. Awal-awal pendakian terasa susah sekali, namun kelamaan mulai terbiasa dan bisa menikmati pemandangan yang ada. Untuk jalur lurus ke atas lebih mudah dilalui, yang susah ketika harus bergerak horisontal atau agak miring ke kiri/kanan, susah mencari pegangan atau pijakan kaki.
Sebagai satu-satunya pengunjung hari itu, saya ditemani guide yang masih belia, baru tamat SMA kalau tidak salah. Orangnya sedikit pendiam namun sigap membantu dan mengarahkan ketika aku mengalami sedikit masalah. Dari ceritanya, guide ini dibayar per trip, satu kali trip mendapat upah 100k rupiah ditambah tip dari pendaki jika ada. Jadi upah mengantar tamu satu atau sepuluh orang sama saja dapatnya.
Tidak terasa hari semakin sore, angin di tebing makin terasa. Kira-kira satu setengah jam melakukan pendakian, sampailah aku di puncak via ferrata, jalur sepanjang 400 meter. Santai sejenak menikmati cemilan sambal memandang pemandangan dari atas.
Salah satu paket yang andalan yang ditawarkan oleh Skywalker adalah turun dengan sistem rapelling, kita akan diturunkan dengan tali dari ketinggian 150 meter. Sangat mendebarkan dan membuat jantung serasa mau copot. Nyawa kita tergangung pada seutas tali karmantel dan keahlian guide yang masih belia. Bagi yang tidak terbiasa dengan dunia rock climbing sepertiku, tentunya akan menjadi pengalaman yang cukup mendebarkan. Apalagi saat itu aku sendirian.
![]() |
| Tangga di Tebing. |
![]() |
| Puncak Gunung Bongkok. |
![]() |
| Gunung Parang. |
![]() |
| Rapelling 150 meter. |
![]() |
| Turun dari Puncak. |
![]() |
| Matahari Tenggelam. |
Kira-kira pukul lima
sore, aku sudah sampai bawah dan kembali ke basecamp. Hari sudah mulai malam,
kembali ke Kota Purwakarta untuk mencari penginapan tentunya lebih susah karena
moda transportasi umum yang tidak ada. Karena itu kuputuskan untuk bermalam di
basecamp saja malam ini, besok lanjut mendaki Gunung Bongkok yang tidak jauh
dari Gunung Parang.
Keep safe, clean, and fun climbing! (dm 7 Juli 2021)







No comments:
Post a Comment