Sesuai KBBI, gunung mempunyai definisi yakni bukit yang sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dari 600 m). sementara Anak Gunung Krakatau sekarang ini hanya memiliki ketinggian 388 mdpl (2017). Meskipun demikian, masyarakat masih saja menyebutnya dengan sebutan Gunung. Mungkin masih terbawa dari 'ibunya' yang dulu tinggi menjulang.
![]() |
| Batas Terakhir Pendakian. |
Anak Gunung Krakatau adalah sisa-sisa letusan Gunung Karakatau yang meletus pada 26 Agustus 1883, menyebakan korban jiwa hingga lebih dari 30,000 jiwa. Kebanyakan korban meninggal karena suhu panas atau tersapu tsunami raksasa setinggi 41 meter. Letusan gunung ini adalah yang terkuat dalam catatan sejarah modern, hingga dapat menurunkan suhu Bumi sebesar 1.2 derajat selama 5 tahun. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau saat itu.
Terletak di tengah Selat Sunda, secara administratif Anak Gunung Krakatau termasuk ke dalam Provinsi Lampung. Walau menjadi salah satu destinasi wisata yang populer, gunung ini masih sering erupsi hingga bahkan menyebabkan tsunami kecil beberapa tahun silam. Mungkin itulah yang menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang memikat para wisatawan datang berkunjung.
Mudahnya, untuk mengunjungi gunung satu ini, kita dapat mengikuti paket tur yang banyak diadakan oleh agen-agen wisata. Niat untuk mendaki gunung ini tercetus setelah aku mendaki Gunung Salak, berkenalan dengan pendaki ibukota, Rizki dan kekasihnya Ardinaldo, kami bertiga iseng untuk mengikuti paket trip ke Gunung Anak Krakatau. Walau aku serasa jadi obat nyamuk di antara pasangan ini, tapi tidak mengapa, ternyata mereka juga bukan jenis pasangan alay yang selalu minta berfoto berdua walau sedang berjalan-jalan dalam rombongan. Cukup seru dan asyik perjalanan kala itu.
Kami berkumpul di Pelabuhan Merak kira-kira pukul sepuluh malam di hari jumat. Banyak sekali rombongan yang berkumpul untuk mengikuti trip ke Krakatau atau ke destinasi wisata lainnya, seperti Kiluan dan Pulau Pahawang. Ternyata dari satu agen, kita akan digabungkan dengan peserta dari agen-agen yang lain, hingga menjadi satu rombongan 20-30 peserta. Cukup banyak, sesuai kapasitas perahu. Agen yang kita hubungi akan memberikan kontak pemandu yang akan menemani sepanjang perjalanan, agen yang aku hubungi bahkan tidak berada di pelabuhan. Sehingga, jangan sampai salah bergabung rombongan paket wisata.
Kira-kira pada tengah malam, kami bertolak dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera, untuk berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot kurang lebih satu jam menuju Dermaga Canti. Kira-kira pukul enam pagi kami sampai di dermaga kecil ini, dari sini perjalanan dilanjutkan dengan kapal kayu ke Pulau Sebesi yang juga menjadi tempat bermalam selama open trip.
Selama dua hari mengikuti paket wisata ini, kita akan diajak ke beberapa tempat wisata untuk melakukan snorkeling (ada dua lokasi untuk snorkeling), ke pulau kecil untuk menikmati matahari tenggelam, dan tentu saja mendaki Anak Gunung Krakatau (atau lebih tepatnya sampai pada titik tertinggi yang diperbolehkan untuk didaki). Aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan agenda paket wisata tersebut, tujuanku memang hanya untuk mengunjungi Anak Gunung Krakatau saja.
Destinasi ke gunung kecil ini dilakukan pada hari kedua open trip, subuh kami sudah dibangunkan untuk menuju ke sana, makan pagi sudah disiapkan untuk dimakan di bawah gunungnya. Pantai pulau lokasi Anak Gunung Krakatau berwarna hitam legam. Namun tidak segersang seperti yang aku bayangkan, kulihat banyak pepohonan cemara yang tumbuh memberikan keteduhan di pagi hari itu. Setelah sarapan pagi, kami mulai mendaki ke atas.
Jalur berpasir dan lumayan menanjak cukup menguras keringat di pagi hari itu. Kurang lebih 30-45 menit saja untuk berjalan menuju titik terakhir yang diperbolehkan, berupa punggungan kecil dengan latar belakang puncak Anak Gunung Krakatau. Makin tinggi, pepohonan mulai jarang dan digantikan perdu kecil yang tumbuh di beberapa bagian lereng.
Sayang saat kami sampai atas cuaca lumayan mendung dan gerimis kecil, walau tidak sampai hujan. Kami menghabiskan waktu di atas dengan berfoto dengan segala gaya dan model, serta tidak lupa untuk duduk manis sembari mengobrol dan menikmati kudapan kecil. Tidak lupa aku sedikit mempraktekan teknik fotografi levitasi yang belakangan sedang kusukai. Setelah ada aba-aba dari pemandu untuk turun, kami bergegas untuk segera turun ke bawah. Berbeda dengan ketika naik tadi, kami turun sedikit memutar ke sebelah kanan melewati jalur yang landai, lebih santai dan enak dilewati.
![]() |
| Menunggu Sunset. |
![]() |
| Pose Bertiga. |
![]() |
| Menuju ke Dermaga Canti. |
![]() |
| Turun dari Puncak. |
![]() |
| Menuju Sibesi. |
| Sunset. |
| Batas Pendakian. |
Selesai mendaki Anak Gunung Krakatau, kami menuju spot snorkeling yang kedua yang tidak jauh berbeda dari yang pertama. Lokasi untuk snorkeling di sini menurutku biasa saja, airnya tidak terlalu jernih dan terumbu karangnya kurang berwarna warni. Pernah snorkeling di Kepulauan Togean di Sulawesi Tengah membuatku selalu otomatis membandingkan suatu spot snorkeling dengan Togean, yang bagiku sangat membekas karena keindahan alam bawah airnya.
Kami tiba kembali di Dermaga Canti pukul tiga sore. Ketika di tengah perahu dalam perjalanan balik, terlihat Gunung Rajabasa yang melambai-lambai minta segera dikunjungi. Sabar ya. (dm 12 Juli 2021)






No comments:
Post a Comment