Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk

Setahun lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.

Air Jatuh Laumarang.
Untuk menuju kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum diaspal.

Tambora Bercerita (#3) Puncak!

Tepat pukul 9 lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851 mdpl. Finally I made it! Setelah perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
 
Kawah Gunung Tambora.
Memandang keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung  inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti hilang.

Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila

Kaget! Itu adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”

Foto Bertiga Bersama Arman, Porter Kami.
La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana, sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak gelap dan horor di mata saya.

Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai

Jarak antar kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus: kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa, dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!

Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai.
Saking banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...