Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila

Kaget! Itu adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”

Foto Bertiga Bersama Arman, Porter Kami.
“La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana, sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak gelap dan horor di mata saya.

Setelah pikiran kembali sadar sepenuhnya, baru kusadari bis ini mengantar semua penumpang door to door, masuk ke gang-gang desa sampai di depan rumah. Segera saja kutanya penumpang sebelah apa solusi terbaik untuk ke Desa Pancasila, tujuan saya berikutnya dari Kadindi karena tentu saja sudah tidak ada lagi tukang ojek di jam segini.

Di beberapa sudut perkampungan yang kami lewati, tampak bapak-bapak sedang meronda dengan membawa obor. Pemandangan yang mungkin hanya terlihat di desa yang jauh dari perkotaan. Perasaan makin was-was ketika salah satu rombongan memberhentikan bis dan bercakap-cakap seru dengan supir kami. Mereka melakukan percakapan dengan bahasa setempat sehingga saya hanya dapat ikut berkomunikasi dengan senyuman. Ternyata hendak meminta rokok, baru kusadari setelah mereka pergi dan si supir menunjukan rokok simpanannya yang aman dari “razia”.

“Oh, sekarang di Kadindi sedang banyak rampok, Pak.” ujar pemuda berambut jabrik, supir bus Mataram-Calabai yang kami tumpangi. Jelas jawaban itu menambah rasa was-was dan mempercepat detak jantung kami malam itu. Prediksi sampai di Kadindi saat subuh ternyata meleset, pukul satu malam kernet bus sudah membangunkan untuk bertanya hendak turun di mana. Kata orang lebih cepat lebih baik, namun pada saat itu kami berharap sebaliknya.
 
Persediaan Minum Selama di Jalan.
Akhirnya, Desa Pancasila!
Horor dengan cerita rampok di Kadindi, kupaksakan untuk dapat turun di Desa Pancasila yang artinya harus merayu-rayu supir untuk mengantar kami yang cuma berdua.  Melihat ekspresi capek si sopir, kuikhlaskan selembar warna biru berpindah tangan. Naik ojek pun dua puluh ribu seorang, itupun kalau ada ojek, kalau tidak ada? Tidak begitu rugilah.

Kira-kira pukul dua pagi, kami diturunkan di depan sebuah SD Impres yang katanya adalah Desa Pancasila. Entah ini benar atau tidak, semoga Pak Supir tidak mengerjain kami. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing, badan semakin menggigil, bukan karena kedinginan, tetapi perasaan takut. Mana tidak ada orang yang bisa ditanya. Berkali-kali mencoba menghubungi Pak Saeful, kontak kami di Desa Pancasila yang sekaligus menjadi semacam ketua/perantara pendaki dengan guide Gunung Tambora, tidak membuahkan hasil. Semenjak dari Kadindi nomer beliau tidak bisa dihubungi. Sialnya, sampai Desa Pancasila, signal ikut menghilang, pantas saja telpon saya tidak bisa tersambung, lawong di sini tidak ada signal.
 
Rumah Pak Saeful.
Daripada terkatung-katung di tengah jalan atau dikejar-kejar anjing liar, masjid yang terletak tidak jauh dari kami sepertinya menjadi opsi paling bijaksana saat itu. Untung saja pintu gerbangnya dapat dibuka dari luar dan untung saja pintu masjid tidak dikunci. Kami putuskan untuk tidur di dalam masjid, daripada diomeli orang yang kebetulan lewat, lebih baik diomeli penjaga masjid saat subuh. Minimal bisa tidur barang dua atau tiga jam sebelum ngetrek, hehe..

Untungnya warga sekitar tidak gusar dengan tingkah kami yang nyelonong masuk masjid tanpa izin untuk numpang tidur. Hanya suara adzan super keras saja yang membuatku kaget bukan kepalang untuk kedua kalinya dalam dini hari itu. Setelah sholat subuh berjamah dan meminta maaf atas ketidak sopanan kami, di luar dugaan mereka tampak sudah maklum dan ramah sekali. Dari bapak-bapak itu pula kami ketahui ternyata rumah Pak Saeful hanya selemparan batu dari masjid, di ujung lapangan bola dengan kamar-kamar homestay di depannya.
 
Ketemu Arak-arakan di Jalan.
Porter dan Persiapan Sebelum Pendakian
Untuk mendapatkan porter Tambora pada hari biasa tidaklah susah, namun lain cerita saat musim pendakian atau long weekend. Porter sejumlah lima puluh lebih terkadang tidak dapat melayani semua permintaan yang ada. Porter-porter tersebut tergabung dalam satu komunitas dengan sistem bergantian sesuai nomer urut. Dan Pak Saeful adalah perantaranya.

Untuk menyewa satu porter per harinya, kita harus rela mengeluarkan uang sejumlah 150.000 rupiah. Berbeda dengan porter rinjani yang biasanya sudah termasuk membawakan logistik, alat masak, memasak, dan mendirikan tenda, porter Tambora hanya membawakan barang bawaan kita, untuk urusan lainnya dikerjakan bersama-sama, seperti memasak dan mendirikan tenda.

Memang porter dapat kita mintai bantuan untuk mengambil air dan memasak nasi. Sudah barang tentu, makan porter selama pendakian menjadi tanggung jawab penyewa. Beda lagi jika kita menyewa porter yang termasuk melakukan semua pekerjaan tadi, harganya tentu berbeda. Asyiknya, berbeda dengan di Rinjani, porter-porter ini dapat merangkap sebagai guide kita, sehingga jangan takut ditinggal di belakang.

Mengenai logistik seperti spirtus, tabung gas kecil, sayuran, bumbu masak, atau cemilan dapat kita peroleh di sini. Namun jika ingin mencari cemilan yang lebih yahut seperti agar-agar dan coklat sebaiknya membeli di Mataram atau Bima. Setelah bersih-bersih badan; membeli logistik dengan diantar Arman, porter kami; mengatur ulang barang-barang yang hendak dibawa naik; pukul delapan pagi kami pun siap berangkat.

Let’s hike!

Untuk kisah sebelumnya dapat dibaca pada tautan ini dan untuk kisah pendakian selanjutnya akan saya posting pada postingan berikutnya. (dm 10 November 2014)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...