“La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya
di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah
ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya
menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana,
sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak
gelap dan horor di mata saya.
Setelah
pikiran kembali sadar sepenuhnya, baru kusadari bis ini mengantar semua
penumpang door to door, masuk ke
gang-gang desa sampai di depan rumah. Segera saja kutanya penumpang sebelah apa
solusi terbaik untuk ke Desa Pancasila, tujuan saya berikutnya dari Kadindi
karena tentu saja sudah tidak ada lagi tukang ojek di jam segini.
Di beberapa sudut
perkampungan yang kami lewati, tampak bapak-bapak sedang meronda dengan membawa
obor. Pemandangan yang mungkin hanya terlihat di desa yang jauh dari perkotaan.
Perasaan makin was-was ketika salah satu rombongan memberhentikan bis dan
bercakap-cakap seru dengan supir kami. Mereka melakukan percakapan dengan
bahasa setempat sehingga saya hanya dapat ikut berkomunikasi dengan senyuman. Ternyata
hendak meminta rokok, baru kusadari setelah mereka pergi dan si supir
menunjukan rokok simpanannya yang aman dari “razia”.
“Oh,
sekarang di Kadindi sedang banyak rampok, Pak.” ujar pemuda berambut jabrik, supir
bus Mataram-Calabai yang kami tumpangi. Jelas jawaban itu menambah rasa was-was
dan mempercepat detak jantung kami malam itu. Prediksi sampai di Kadindi saat subuh
ternyata meleset, pukul satu malam kernet bus sudah membangunkan untuk bertanya
hendak turun di mana. Kata orang lebih cepat lebih baik, namun pada saat itu
kami berharap sebaliknya.
Akhirnya, Desa Pancasila!
Horor dengan
cerita rampok di Kadindi, kupaksakan untuk dapat turun di Desa Pancasila yang
artinya harus merayu-rayu supir untuk mengantar kami yang cuma berdua. Melihat ekspresi capek si sopir, kuikhlaskan
selembar warna biru berpindah tangan. Naik ojek pun dua puluh ribu seorang,
itupun kalau ada ojek, kalau tidak ada? Tidak begitu rugilah.
Kira-kira
pukul dua pagi, kami diturunkan di depan sebuah SD Impres yang katanya adalah
Desa Pancasila. Entah ini benar atau tidak, semoga Pak Supir tidak mengerjain
kami. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing, badan semakin menggigil, bukan
karena kedinginan, tetapi perasaan takut. Mana tidak ada orang yang bisa
ditanya. Berkali-kali mencoba menghubungi Pak Saeful, kontak kami di Desa
Pancasila yang sekaligus menjadi semacam ketua/perantara pendaki dengan guide
Gunung Tambora, tidak membuahkan hasil. Semenjak dari Kadindi nomer beliau
tidak bisa dihubungi. Sialnya, sampai Desa Pancasila, signal ikut menghilang,
pantas saja telpon saya tidak bisa tersambung, lawong di sini tidak ada signal.
Daripada
terkatung-katung di tengah jalan atau dikejar-kejar anjing liar, masjid yang
terletak tidak jauh dari kami sepertinya menjadi opsi paling bijaksana saat itu.
Untung saja pintu gerbangnya dapat dibuka dari luar dan untung saja pintu
masjid tidak dikunci. Kami putuskan untuk tidur di dalam masjid, daripada
diomeli orang yang kebetulan lewat, lebih baik diomeli penjaga masjid saat
subuh. Minimal bisa tidur barang dua atau tiga jam sebelum ngetrek, hehe..
Untungnya
warga sekitar tidak gusar dengan tingkah kami yang nyelonong masuk masjid tanpa izin untuk numpang tidur. Hanya suara
adzan super keras saja yang membuatku kaget bukan kepalang untuk kedua kalinya
dalam dini hari itu. Setelah sholat subuh berjamah dan meminta maaf atas
ketidak sopanan kami, di luar dugaan mereka tampak sudah maklum dan ramah
sekali. Dari bapak-bapak itu pula kami ketahui ternyata rumah Pak Saeful hanya
selemparan batu dari masjid, di ujung lapangan bola dengan kamar-kamar homestay di depannya.
Porter dan Persiapan Sebelum Pendakian
Untuk
mendapatkan porter Tambora pada hari biasa tidaklah susah, namun lain cerita
saat musim pendakian atau long weekend. Porter sejumlah lima puluh lebih
terkadang tidak dapat melayani semua permintaan yang ada. Porter-porter
tersebut tergabung dalam satu komunitas dengan sistem bergantian sesuai nomer
urut. Dan Pak Saeful adalah perantaranya.
Untuk
menyewa satu porter per harinya, kita harus rela mengeluarkan uang sejumlah
150.000 rupiah. Berbeda dengan porter rinjani yang biasanya sudah termasuk
membawakan logistik, alat masak, memasak, dan mendirikan tenda, porter Tambora
hanya membawakan barang bawaan kita, untuk urusan lainnya dikerjakan
bersama-sama, seperti memasak dan mendirikan tenda.
Memang
porter dapat kita mintai bantuan untuk mengambil air dan memasak nasi. Sudah
barang tentu, makan porter selama pendakian menjadi tanggung jawab penyewa.
Beda lagi jika kita menyewa porter yang termasuk melakukan semua pekerjaan
tadi, harganya tentu berbeda. Asyiknya, berbeda dengan di Rinjani,
porter-porter ini dapat merangkap sebagai guide
kita, sehingga jangan takut ditinggal di belakang.
Mengenai
logistik seperti spirtus, tabung gas kecil, sayuran, bumbu masak, atau cemilan
dapat kita peroleh di sini. Namun jika ingin mencari cemilan yang lebih yahut
seperti agar-agar dan coklat sebaiknya membeli di Mataram atau Bima. Setelah bersih-bersih
badan; membeli logistik dengan diantar Arman, porter kami; mengatur ulang
barang-barang yang hendak dibawa naik; pukul delapan pagi kami pun siap
berangkat.
Let’s hike!
Untuk kisah sebelumnya dapat dibaca pada tautan ini dan untuk kisah
pendakian selanjutnya akan saya posting
pada postingan berikutnya. (dm 10 November 2014)




No comments:
Post a Comment