Mengunjungi Laksamana Cheng Ho di Sam Po Kong

Pada abad ke-15, seorang Laksamana Tiongkok yang memeluk Islam terpaksa membuang sauh di Pantai Utara Jawa karena ada salah satu anak buahnya yang sakit keras. Laksamana yang dikenal dengan nama Cheng Ho ini mendarat di daerah Simongan, dekat dengan Kota Semarang. Tak hanya singgah, beliau juga membangun sebuah masjid dan mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga. Bekas petilasan atau tempat persinggahan Laksamana ini sekarang dikenal dengan nama Sam Po Kong.

Teras Bangunan Utama.
Uniknya, walau beragama Islam, Umat Tionghoa yang menganut Kong Hu Cu memuja Cheng Ho sebagai dewa. Memang, bagi mereka, orang  yang sudah meninggal dianggap dapat memberikan pertolongan. Maka tak heran lokasi yang dulunya masjid kini berubah fungsi menjadi kelenteng untuk ziarah dan bersembahyang. Sam Po Kong juga dikenal dengan nama Gedung Batu karena di bagian belakangnya yang merupakan bukit, terdapat sebuah gua batu.

Wisata Petualangan di Batu Tikar

Satu lagi tempat yang harus didatangi ketika berada di Luwuk yakni Batu Tikar. Siapa sangka, hanya berjarak sepuluh menit dari pusat Kota Luwuk, kita dapat menjumpai wisata petualangan yang asyik. Jalur yang masih asri, berbatu, pada beberapa ruas harus menyebrang sungai yang mengalir deras, memanjat di samping air jatuh (sebutan untuk air terjun), dan harus memanjat akar pohon menjadi tantangan untuk ke Air Jatuh Batu Tikar.

Berenang di Batu Tikar (doc. Doni).
Untuk menuju ke sini kita harus menuju Kelurahan Soho, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai terlebih dahulu kemudian dilanjutkan jalan kaki selama kurang lebih satu jam jika berjalan santai. Belum ada ticketing, karena itu dapat dipastikan tempat ini sama sekali belum tersentuh oleh Dinas Pariwisata Banggai. Jangankan pagar pengaman, plang penunjuk jalan pun tiada. Namun tidak perlu kuatir tersesat, hanya ada satu jalur saja, tinggal ikuti arah sungai.

Jalan-jalan ke Merapi

Sehabis Sholat Idul Fitri, langsung kutancap gas Bluemerry menuju Semarang untuk bertemu dengan kedua dua cewek ‘gila’ itu. Ya, dikala orang lain bergemberia merayakan Hari Kemenangan, kami malah jalan-jalan. Bukan berarti kami anak durhaka, hanya saya kami ingin merayakannya dengan sedikit berbeda, yakni jalan-jalan ke Gunung Merapi, hehe..

Menunggu Matahari Terbenam (doc. Lei).
Jadi ceritanya jalan-jalan kali ini hanya untuk melepas kangen akan aroma gunung. Lama bergulat dengan macet dan laporan membuat kepala makin penat saja. Nah, dipilihlah Gunung Merapi sebagai obat kangen dan pereda penat di kepala. Berangkatlah aku dan kedua temanku itu dengan hanya berbekal sepeda motor dan bekal seadanya. Tujuan kami memang bukan naik gunung, hanya sekedar trekking di jalurnya, di tengah rindangnya pepohonan.

Kemping Ceria di ‘Bukit Teletubies’ Gunung Hohoban

Kesan pertama ketika mendarat di sini, Luwuk adalah kota kecil tanpa bioskop yang membosankan. Hanya beberapa toko kecil dan besar yang disebut mall berjejer di sepanjang jalan, diapit lautan luas dan pegunungan sebagai latar belakang. Tapi siapa sangka, makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak pula tempat menarik yang dapat dikunjungi. Kali ini, aku ingin sedikit bercerita tentang ‘Bukit Teletubies’ di Luwuk.

Kemping di Bukit Teletubies Luwuk.
Berawal dari perkenalan secara spontan di satu tempat wisata, menjadi awal dari perjalanan kali ini. Memang betul, panduan paling ampuh tentu saja dari penduduk lokal. Kalau bahasa kerennya, GPS kepanjangan dari Guide Penduduk Sekitar, hehe.. Dan kalau ingin mendapatkan info yang lebih akurat tentang tempat-tempat menarik yang tersembunyi, tanyalah ke anak Pecinta Alam lokal. Dijamin tidak mengecewakan!

Nekat di Bromo (bagian 2)

Melanjutkan kisah sebelumnya, ketika kami sampai, para pengunjung sudah mulai meninggalkan tempat ini. Kian sepi. Wajar saja, jarum jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Setelah mendapatkan tempat untuk bermalam, berupa tanah lapang yang cukup jauh dari kerumunan pedagang, kaki-kaki ini sudah gatal minta diajak main ke pinggiran kawah. Okelah, kali ini kuturutin apa maumu, memutari kawah Gunung Bromo dalam satu lingkaran sempurna!

Bromo dari Plawangan.
Ketika hendak melaksanakan niat ini, Chuank, teman pendakiku yang kesehariannya menjadi loper koran ingin turut serta. Lumayanlah ada teman bercengkrama. Sedikit cerita, teman satu ini sangat luar biasa. Di tengah upah berjualan koran yang sedikit, dia menyempatkan menabung untuk dapat naik gunung setahun sekali. Dan tahun ini dia memilih Semeru. Salut!

Nekat di Bromo (bagian 1)

Sudah sedari dulu aku ingin mengunjungi tempat satu ini. Melihat keindahannya dari acara di televisi dan internet membuatku makin ngiler saja. Ah, kapan aku bisa ke sini? Naik apa aku ke sini? Menginap di mana? Uang dari mana? Namun, nampaknya Sang Maha Pengatur Waktu sedang berbaik hati padaku, di penghujung tahun 2008, seorang teman mengajaku ke sini. Mengunjungi kemegahan Kawah Gunung Bromo yang memikat hati.

Pura Luhur Poten di Kala Senja.
Tujuan utama ajakan temanku itu sebenarnya yakni Mahameru, puncak para dewata bersemayam. Sementara mengunjungi Bromo hanya bonus jikalau masih ada waktu sebelum mereka kembali ke Jakarta. Merasa inilah kesempatan terbaik untuk menuju gunung 2.392 mdpl tersebut, langsung kuiyakan tanpa pikir panjang. Tanpa memikirkan ketebalan dompet yang makin kian tipis dari hari ke hari.

Gotong-gotong Tenda di Talaga Bodas

Oke, semua pasti sudah pada tahu di mana itu Talaga Bodas. Kawah kecil yang berwarna putih yang katanya Kawah Putihnya Garut, pasti taulah ya. Sudah banyak artikel-artikel yang mengulas tempat ini, dank arena itu pula saat menginjakan kaki di sini, tempat ini sudah lumayan ramai. Sudah banyak took-toko di pinggirnya. “Ramainya baru-baru ini aja kok, mas.”, ujar ibu-ibu penjual di salah satu warung.

Talaga Bodas.
Walau kian ramai, tapi tak mengapa, rencana kami berdua untuk kemping di sini tetap tak tergoyahkan. Ohya, untuk menuju ke sini cukup mudah. Telaga cantik ini terletak di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat.  Dari Garut, naik angkot Terminal Guntur-Sukawening kemudian turun di pasar Sukamenak. Dari pasar naik ojek atau carter mobil sayur/angkot ke Talaga, belum ada rute angkutan umum ke sana. Lama perjalanan dari Terminal Guntur kurang lebih satu jam.

Peleisir ke Ratu Baka

Dalam Bahasa Jawa, ratu artinya raja, sedangkan baka mempunyai arti bangau. Sehingga kata Ratu Baka (dibaca ratu boko) secara leksikal berarti raja bangau. Konon ceritanya Ratu Baka adalah ayah dari Loro Jonggrang, salah satu tokoh sentral dari cerita Candi Prambanan. Benar atau salah, Ratu Baka hanya berjarak 3 km dari candi anaknya, Loro Jonggrang.

Dua Sepatu Lusuh Sehabis Perjalanan.
Penasaran akan pesona Ratu Baka, sehabis dari menjelajah deretan Pantai Gunung Kidul, kami sempatkan untuk mampir sebentar. Jika kawan dari Gunung Kidul, ambil belokan ke kanan di pertigaan pertama setelah melewati jalan yang menanjak. Sehabis jembatan, ketemu jalan lurus datar, ada lampu merah belok kanan. Haha.. ngasih petunjuk arahnya sangat Indonesia ya. :p

Di Toili ada Bendung Mentawa

Mendapat tugas dari kantor untuk bekerja di Kabupaten Banggai pastinya tidak kuhabiskan untuk menghadapi lembar laporan dan layar kotak 11 inch setiap hari. Di waktu senggang, selalu kusempatkan untuk menjajal daerah sekitar. Dan pada kesempatan kali ini aku pergi ke arah barat, tepatnya ke Kecamatan Toili, untuk mengunjungi Bendung Mentawa.

Jembatan Gantung Mentawa.
Bendungan yang dibangun pada era Soeharto ini berfungsi sebagai sarana irigasi sawah warga. Membentang  kurang lebih lima puluh meter, Bendungan Mentawa dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung. Dengan lebar hanya satu meter dan terbuat dari kayu, jembatan inilah yang membuatku bersemangat untuk ke sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...