Seperti yang
sudah-sudah, saya tidak membutuhkan perencanaan jauh-jauh hari untuk mendaki
gunung sejenis Lembu, Pulosari, atau Karang. Gunung-gunung lokal ini sudah
lumayan ramai dikunjungi sehingga akses menuju ke titik mulai pendakian dan
jalur ke puncak sudah tergambar dengan jelas. Keterangan pun sudah dengan mudah
dapat kita peroleh di internet. Semenjak membaca bukunya Clement Steve berjudul
Menyusuri Garis Bumi, saya ingin sekali mendaki gunung satu ini. Karena itu,
ketika ada teman yang bisa menemani, sore itu kami putuskan untuk mendaki
Gunung Karang.
![]() |
| We made it! |
Seharusnya
jika membaca keterangan di internet, akses ke sana cukup mudah, ada beberapa
jalur yang dapat dilewati seperti Kaduengang
dan Pagerwatu/Ciekek. Seharusnya
gunung ini pun cukup mudah didaki karena sering ‘dijamah’ oleh pendaki,
tentunya jalur pendakian jelas dan tidak harus membuka jalan. Seharusnya pula,
bagi kami berdua yang belum pernah mendakinya tentu tidak akan banyak mengalami
kendala, tetapi…
Tersesat Berkat GPS
Jika dari
tempat kami bertolak, Anyer-Cilegon, Gunung Karang tidak terlalu jauh. Untuk
memastikan jarak dan jalur yang hendak ditempuh untuk menuju Kaduengang, kami memakai bantuan
aplikasi sistem GPS di smartphone
kami. Merunut peta yang ditampilkan, lebih dekat jika kami lewat jalur Mancak-Ciomas-Karang.
Sempat ragu karena kami memulai perjalanan dari pukul tujuh malam, sementara
pastinya jalur tersebut pasti jelek dan gelap. Apalagi lampu Bluemerry, sepeda
motor kesayangan sedang tidak sehat (jika dipikir lagi, kapan ya, pernah
sehatnya? Hehe..).
Dengan jarak
hampir 44 km, GPS memberikan estimasi waktu tempuh 1 jam 25 menit. Sepertinya
menjanjikan, bukan? Nyatanya tidak semanis itu, baru pukul 12 malam kami sampai
di titik mulai pendakian. Satu jam pertama kondisi jalan masih bagus, walau
berlubang di sana-sini namun dengan bantuan lampu jalan menjadi tidak begitu
parah. Masalah datang ketika sampai di Ciomas, GPS memberitahukan bahwa kami
harus keluar dari jalan utama dan masuk ke jalan desa. Tidak ada rumah sama
sekali, entah itu kebun atau hutan, yang jelas gelap dan penuh genangan.
Sekitar
sepuluh menit menembus pekat malam, ada satu sepeda motor yang mengekor di
belakang. Tidak menyelip, hanya mengekor di belakang. Mungkin saya cuma
paranoid, namun rasa was-was mulai melanda. Jangan-jangan itu begal kampung.
Mana sudah lewat pukul sepuluh malam, tidak jelas jarak perkampungan terdekat.
Jujur saja saya panik.
Lima belas
menit kemudian, mulai tampak secercah cahaya. Untunglah. Setiba di semacam pos
kampling yang tutup, saya memberhentikan sepeda motor untuk memastikan
pengendara di belakang. Ternyata hanya pemuda desa yang habis bermalam
mingguan. Tampaknya saya memang terlalu paranoid, hehe..
Ketika jarak
tinggal sepuluh menit lagi, kami merasa ada sedikit hal yang aneh. Jika
mengikuti GPS maka ambil jalur lurus, namun plang menunjukan ke kanan untuk
‘Gunung Karang’. Kami mencoba mengambil jalur kanan, melewati perkampungan dan menanjak
ke atas. Meski ada beberapa rumah namun kondisinya sepi dan senyap. Bimbang,
kami memeriksa kembali GPS dan mencari penduduk lokal untuk bertanya. Tak lama
kami menjumpai Bapak-bapak yang sedang berjalan pulang dari masjid. Usut punya
usut, ternyata benar jalan ini menuju Gunung Karang namun dari sisi yang lain,
jalur untuk ke atas pun tersedia namun harus diantar oleh penduduk lokal karena
jarang dilalui. Sial. Mengikuti petunjuk Bapak tadi kami putar arah ke
pertigaan tadi.
Seharusnya
jika mengikuti GPS, Desa Kaduengang
yang hendak kami tuju seharusnya tidak jauh lagi. Di sepanjang jalan kami juga
tidak melihat ada percabangan ke kanan (posisi gunung berada di kanan kami).
Entah kenapa pula, tiba-tiba GPS selalu merubah arah sehingga kami seperti
memutari gunung. Merasa trauma dengan kejadian dibuntuti dari belakang, sekarang
kami membuntuti rombongan sepeda motor yang membawa bertumpuk-tumpuk pete.
Ahaha… gantian sekarang. Kami pun berjalan pelan membelah malam, menghindari
lubang dan genangan air.
Rasa heran
kembali muncul ketika tiba-tiba kami muncul di jalan raya Serang-Pandeglang. Lo
kok bisa? Entahlah, mungkin karena GPSnya error
dipakai di pegunungan atau memang teman saya tidak bisa membaca peta. Puncaknya,
kami sampai di ujung titik koordinat GPS kami yang ternyata sebuah sekolah
dasar. Damn! Mana melewati jalan
berbatu yang terjal nan licin hingga berkali-kali tidak kuat nanjak. Bosan dan
bingung, kami kembali mengandalkan GPS paling akurat, Guide Penduduk Sekitar, hehe..
Gunung yang Penuh Nuansa Mistis
Ternyata,
Desa yang hendak kami tuju baru saja dimekarkan dan GPS masih mengarah ke Desa
yang lama. Dari Bapak-bapak yang tiba-tiba muncul dari gelap malam, kami
mendapat informasi Desa yang hendak kami tuju hanya ‘beberapa meter’ saja.
Ingat tulisan saya soal kacaunya skala ukuran jarak orang pegunungan? Nah, ini
salah satunya.
Tepat pukul
dua belas malam kami sampai di Desa Kaduengang,
titik mula pendakian. Suasana masih agak ramai, namun kami lagi-lagi dibuat
bingung akan lokasi basecamp Gunung Karang. Hmm.. ternyata Gunung satu ini
memang sering didaki, namun bukan oleh pendaki, penziarahlah pengunjung
utamanya. Pantas saja sejak tadi terasa suasana yang agak mistis. Dua kali kami
ditanyai hendak ziarah atau tidak. Dua kali kami menjawab tidak. Untuk mencari
info lebih lanjut, kami putuskan untuk mampir di warung kopi sekalian
mengistirahatkan badan sehabis lima jam berkendara motor.
Gunung
setinggi 1.778 mdpl ini adalah lokasi ziarah favorit bagi warga lokal
Pandeglang, mereka berziarah ke makam Pangeran
TB. Jaya Raksa yang berada di pintu masuk Gunung Karang atau yang lebih
dikenal dengan nama Kramat. Ada lagi lokasi ziarah yang berada di Puncak Gunung
dengan nama Sumur Tujuh. Di puncak terdapat mushola kecil yang kurang terawat
dan tempat untuk bersemedi. Dan setiap pengunjung yang hendak naik ke atas
diharuskan berziarah terlebih dahulu di Kramat. Untuk berziarah kita
“disarankan” dipandu warga lokal, hmm.. sepertinya jelas ujungnya kemana,
hehe..
Kami
memutuskan untuk jalan saat itu juga, tidak seperti biasanya kami juga membayar
penduduk lokal untuk mengantar (plus menjadi porter sebagai kompensasi harga
yang terlalu mahal, hehe..) sampai ke pondok perkebunan terakhir, lokasi kami
mendirikan tenda. Menghomarti adat budaya lokal, kami juga masuk ke Kramat
untuk berziarah terlebih dahulu. Baru kali ini naik gunung harus berziarah terlebih
dahulu.
Secara total
kami membutuhkan tiga jam untuk sampai ke atas, berbeda dengan beberapa artikel
yang menyebutkan enam sampai delapan jam perjalanan. Untuk menuju pondok lokasi
bertenda kami membutuhkan waktu 45 menit melewati jalur tanah yang curam dan
licin. Menurut penunjuk jalan kami, dari jalur ke puncak, bagian inilah yang
paling berat. Lelah dan mengantuk, segera kami membuka tenda dan merebahkan
badan.
Jalur
selanjutnya sebenarnya tidak berbeda jauh, tetap menanjak dengan sesekali
landai. Bagi saya, jalur Gunung Karang ini mengingatkan akan jalur Gunung
Kerinci sampai shelter tiga. Vegetasi yang lebat dan sedikit berlumpur
menjadikannya sebuah tantangan tersendiri. Sepuluh menit sebelum puncak kita
akan sampai di sebuah pertigaan di puncak punggungan, dari sini ambil jalan
turunan ke kiri, jangan yang lurus. Puncak sudah tidak jauh lagi.
Puncak
Karang jauh dari kata indah bagi saya, lebih terkesan mistis. Mushola kecil
yang tampak tidak terawat dengan mata air kecil di depannya. Kemudian di depan
mushola ada bangunan kecil yang bagi saya tampak seperti tempat bersemedi yang
tiang-tiangnya dibungkus kain kafan. Pohon-pohon pun dibungkus kain kafan,
entah apa tujuan dari itu, saya tidak mengerti. Di sebelah atas mushola,
berdekatan dengan tugu triangulasi, beradalah Sumur Tujuh yang berupa mata air
berjumlah tujuh (enam kalau hitungan saya, hehe..).
![]() |
| Jalur Gunung Karang (1). |
![]() |
| Jalan yang Penuh Dedaunan. |
![]() |
| Jalur Gunung Karang (2). |
![]() |
| Jangan Lupa Belok Kanan. |
![]() |
| Jalur Gunung Karang (3). |
![]() |
| Mushola di Puncak Gunung Karang. |
![]() |
| Jalur yang Berkabut. |
![]() |
| Pondokan di Perkebunan. |
Pulang ke
Cilegon kami memutuskan untuk tidak lagi mengikuti GPS, menyesatkan! Kami
mengambil jalan utama, tidak masuk-masuk ke jalan kecil lagi. Dari Pandeglang
ke Serang terlebih dahulu baru dilanjut ke Cilegon lewat jalan Raya
Pandeglang-Serang-Merak. Dan ternyata jauh lebih cepat, hanya satu jam setengah
saja. Sialan, tahu gitu semalam lewat Serang saja.










wah asyik dibacanya, jadi kangen naik gunung lagi....
ReplyDeleteYuk... naik gunung lagi. :D
DeleteKalau naik ikut gabung ya mas
Deleteyuk...
Deletememang banten kota seribu keramat...ada sepenggal cerita ketika kami ber5 naik ke g.karang saat itu kami naik dari pasir angin...pager batu...sebelum naik kami sejenak berziarah ke syekh rakko....jam 9 malam kami langsung naik lewat jalur makam putri....tiba di sumur putri sekira jam 10.20...istirahat sejenak...untuk melepas lelah..sambil berziarah di makam putri...mengingat sudah sangat lelah karena dari habis jumat star dari kronjo ..maka kami bersepekat untuk memasang tenda...belum selesai nemasang tenda kemah tiba tiba sontak...teman yg berada di samping..loncat seperti di sanbar seseorang berguling..dan lgsung berkata kata..ternyata teman kami kesurupan ya ..kesurupan...sesuatu yang tidak kami anggap aneh....sebab kami yg hidup di tatar babten..sudah terbiasa..dengan hal2 gaib ..dulu ketika madih belua ketika kami menuntut ilmu di tpa tpa ..ada dua disiplin ilmu yg terus kami pelajari di samping belajar ilmu agama membaca qur'an kami juga di ajari sesuatu yg bersifat kebatinan..dan biasanya selepas kami belajar baca Alqur'an dan dua hal itu tidak bisa di lepaskan ibarat sisi mata uang jadi sesuatu yg wajib di pelajari oleh setiap pribadi orang2 banten!! saat itu kami mencoba berdialog...kami mencoba menanyakan nama,asal usul..maksud menyambangi kami...dan ada tanda apa.....pada saat itu tepat jam 12.00...dialog di buka dengan bahasa sunda..oleh teman yg kesurupan tadi..teman sy itu tidak bisa bahasa sunda...sama sekali..sebab kami dari kronjo berbahasa jawa serang...namun ketika itu teman kami sangat lancar dan halus berbahasa sunda banten selatan..kami mencoba masuk sebentar kedunia astral..untuk melihat sosok yg berada diteman kami...agar dialog nanti bisa membayangkan dengan dan sosok model apa yg kita ajak bicara...samar samar terlihat..itu kake tua yg janggutnya tidak terlalu panjang..menggunakan tunggangan harimau..dengan pakaian jawara baju komprang hitam dengan tas slipi terbuat dari anyaman daun sejenis alang2!!hanya siluet itu yg bisa kami tangkap...sahabat..smpe disini dulu yah...nanti ceritanya di sambung besok..udah ngantuk..jarinya dah kriting...tobe continoe di part II
ReplyDeletehmm... panjang commenntnya...
Deleteizin buat saya cerita kan ulang di chanell youtube saya bang ...
ReplyDeleteasal dikasih kredit ambil dari tulisan saya mah gapapa.
Delete