Saat itu
kami sedang dalam perjalanan balik dari Tambora, ketinggalan bus
Calabai-Mataram, kami terpaksa putar haluan menuju Dompu. Dompu adalah kota
kecil yang berada di jalur trans Bima-Jakarta, tentunya dari sini lebih mudah
untuk mencari angkutan ke arah Mataram untuk turun di Pototano. Namun jangan
salah, tujuan kami bukanlah Pototano, namun pulau kecil nan cantik yang
terletak tidak jauh dari penyebrangan feri di Pulau Sumbawa tersebut. Namanya
Kenawa.
Yuk, Mampir ke Kenawa!
Bus yang
seharusnya berangkat jam delapan malam molor hingga dua jam. Entah alasan klise
apalagi yang bakal dilontarkan agen bus di Dompu ini. Aku tidak butuh alasan, aku
butuh tumpangan ke Pototano. Sejam yang lalu pun kami sempat dipindahkan dari
Terminal tempat kami menunggu bus dari jam lima sore, “Ada jembatan rusak
sehingga bus tidak bisa masuk terminal”, kata agennya berkilah.
Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua
Jika dilihat
dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil.
Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya
tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI.
Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi
menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra
saat menggapai puncaknya.
![]() |
| Pulau Dua dari Atas. |
Tepat
setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan
belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter
dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin
bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun?
Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah,
bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.
Lu Kapan ke Lukapan?
Tepat
setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung
Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat
memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang
kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk
membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali
melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!
![]() |
| Pulau Dua dari Lukapan. |
Pada kali
ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut
bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan.
Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu,
sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat
seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.
Subscribe to:
Posts (Atom)


