| Bunga Daisy. |
Perjalanan ke Puncak
Untuk menuju
Basecamp Prau, start pendakian gunung 2.565 mdpl ini dimulai, kita harus menuju
Dieng terlebih dahulu. Dieng paling mudah dicapai dari Wonosobo, Jawa Tengah. Basecamp
gunung ini berupa gedung pemerintahan desa yang merangkap basecamp di bagian
belakangnya. Gedung ini terletak persis di pinggir jalan Wonosobo-Dieng. Kurang
lebih 500 meter dari pintu gerbang Kawasan Wisata Dieng.
Di situ kita
diharuskan untuk mendaftar dan membayar biaya retribusi sebesar 3.000 rupiah
per kepala. Motor atau mobil pun dapat diparkir di situ dengan biaya yang
relatif murah, 5.000 untuk motor per malam sedang harga mobil mengikuti. Bagi
yang takut tersesat dan membutuhkan pemadu lokal cukup mengeluarkan kocek 200
ribu rupiah untuk satu rombongan yang diantar.
| Basecamp Prau. |
![]() |
| Sunrise Prau 1. |
Jalur ke
puncak sebenarya cukup mudah, tidak ada percabangan. Yang membuat susah
hanyalah kita harus melewati jalur perkampungan yang berliku sebelum menuju
jalur ke puncak. Namun, warga Dieng yang ramah akan dengan senang hati
menunjukan jalur yang benar, asal kita rajin bertanya.
Jalur ke
puncak tidak begitu sulit, walau agak terjal tetapi masih bisa dilalui tanpa
bantuan alat. Tidak ada sumber air di sepanjang jalur. Setelah melewati
perkampungan, dilanjutkan dengan ladang penduduk baru masuk ke hutan yang tidak
begitu rimbun namun cukup teduh.
Setelah dua
jam menguras stamina dan energi, kita akan disuguhi padang bunga daisy di
puncak. Ya, padang bunga inilah yang membuatku kembali lagi ke sini. Inilah
yang membuat gunung ini spesial buatku. Yah, mungkin, bunga Eidelweis sudah terlalu
mainstream kali ya, hehe...
| Sunrise Prau 2. |
| Sunrise Prau 3. |
Makin Ramai Saja
Saat tahun
2011 menjejakan kaki di Puncak Prau, hanya kamilah manusia yang ada di puncak
kala itu. Sejauh mata memandang cuma padang bunga daisy dan bukit-bukit kecil
yang indah menawan. Hanya dalam waktu dua tahun berikutnya, Prau kian ramai
dengan pengujung. Hampir semuanya memilih Dieng karena kemudahan akses dan
waktu tempuh yang lebih pendek.
Menurut info
di Basecamp Prau, pada malam minggu
sebelum kami tiba di puncak, tercatat hampir seribu pendaki memadati Puncak
Prau. Entah angka itu dapat dipercaya atau tidak, yang jelas, setengah dari
angka itu saja sudah membuatku tercengang. Pastinya Puncak Prau menjadi seperti
pasar malam. Dan imbasnya tentu banyaknya sampah berserakan di puncak.
| Ladang Daisy di Puncak Prau. |
![]() |
| View Sindoro Sumbing dari Prau. |
Untungnya,
para pemuda pengurus basecamp sudah
menyadari potensi Prau yang menjadi primadona baru di Dieng. Pembersihan puncak
dan jalur dilakukan secara berkala, ungkap salah satu penjaga basecamp yang ramah. Dan ketika sampai
di puncak setelah keramaian di malam sebelumnya, puncak masih dapat dikatakan
bersih dari sampah. Walau di sana-sini terlihat sedikit sisa makanan dan
bungkus permen.
Mungkin juga
karena jarak tempuh yang pendek, para pengunjung juga membawa sedikit makanan
sehingga sampah yang dihasilkan pun sedikit. Mungkin berbeda dengan Semeru dan
Rinjani yang membutuhkan waktu lama, sampah yang dihasilkan pun berakumulasi
dari banyaknya logistik yang dibawa para pendaki.
![]() |
| Full Team. |
| Jalur Turun. |



No comments:
Post a Comment