My First CPR in Real

Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.

Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja).
CPR (Cardio Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.

Berawal dari perjalanan dengan angkot (mobil elf) biasa ketika hendak menuju pusat Kota Cianjur guna mencari bus ke Jakarta, tiba-tiba ada seorang pria dengan motor memberhentikan angkot untuk meminta bantuan mengantar temannya yang sedang terluka. Darurat, supir angkot menuju rumah si korban yang ternyata tidak begitu jauh. Korban adalah seorang lelaki dua puluhan yang tampak kesakitan, kesulitan mengambil nafas, dan yang membuatku was-was, selalu memegangi dada sebelah kiri.

Proses evakuasi ke dalam angkot berjalan normal. Mengingat tenaga laki-laki cuma tiga orang (teman si korban, supir, dan aku), kubantu teman korban untuk menstabilkan si korban. Memposisikan korban setengah duduk agar lebih enak bernafas, korban sangat kesusahan dalam mengambil nafas. Pun tidak bisa diajak berkomunikasi secara lancar.

Perjalanan ke rumah sakit serasa berjam-jam rasanya, lama sekali walau sudah beberapa kali kuminta pak supir untuk mempercepat lajunya. Sempat kutanya ke teman korban tentang penyebabnya, mereka pun tidak tahu. Ternyata mereka bukan keluarga ataupun teman dekatnya. Ada juga tiga perempuan di dalam angkot tersebut selain saya dan teman lelaki korban, yang satu sibuk menangis sambil menelpon entah siapa. Satunya duduk di pojok tampak bingung, dan seorang lagi tampak tenang dan hendak menghubungi keluarga korban.

Di tengah perjalanan, kondisi korban makin parah. Terlihat tubuh korban seperti mengejang, tangan dan kaki tampak kaku. Seperti menahan sakit yang teramat sangat. Nafas yang dengan mudah dapat kita lakukan, seperti menjadi perjuangan yang teramat sakit baginya. Mata korban menjadi putih karena pupil bergerak ke atas. Sekarat! Ya, itulah yang menurutku terjadi padanya. Mungkin seperti inilah detik-detik sakaratul maut itu.

Tiba-tiba, korban tampak lemas. Dia berhenti bernafas!

Reflek, mungkin karena seringnya berlatih pertolongan pertama saat di kampus, kuperiksa nadi korban (yang seharusnya tidak perlu pada CPR keluaran terbaru). Nadi pun tidak teraba! Langsung kedua lenganku mengambil posisi CPR dan memulai pijatan dada. Untuk melakukan di dalam angkot memang agak susah mengingat ruangan yang sempit sehingga tidak dapat bergerak dengan bebas. Tubuh korban pun tidak dapat telentang dengan sempurna, kepala sedikit menekuk sehingga menyulitkan untuk memberikan bantuan nafas. Seringkali nafas yang kuberikan tidak masuk ke paru.

Walau sadar nafas tidak masuk, namun tetap kupaksakan untuk tanpa jeda memberikan pijatan dada. Teman-teman korban sepertinya tidak menyadari kalau temannya sudah tidak bernafas, sementara aku makin tegang. Masih belum sampai juga di rumah sakit, supir angkot makin ngebut, aku pun terbanting-banting saat melakukan CPR. Edan!

Saat sampai di UGD, yang sedikit membuatku jengkel, si petugas rumah sakit tampak santai sekali saat mengambil tandu. Itupun tandu biasa, tanpa roda yang seperti biasa ada di rumah sakit. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami segera memindahkan korban dari dalam angkot ke tandu. Korban masih belum bernafas.

Merasa bukan siapa-siapa dari mereka, setelah korban ditangani oleh pihak rumah sakit, kuputuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Cuma satu doaku, semoga yang kulakukan sudah benar dan dapat membantunya barang sedikit. Semoga dia masih bisa pulang kembali ke rumah. (dm 021914)

3 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...