![]() |
| Sandy. |
But this time someone I knew, someone my age, died so suddenly. Pikiranku
langsung terbayang ke masa kuliah dulu. Oke, aku memang termasuk mahasiswa yang
paling tidak betah di kampus. Jarang masuk, sering telat, kadang pulang lebih
dulu, dan kalaupun masuk selalu duduk di deretan tengah, buka buku komik, baca,
dan kemudian tidur. Meskipun begitu, sebagai orang yang suka baca, perpustakaan
adalah tempat favoritku di kampus. Dan nama yang disebut di pesan tersebut adalah
penjaga perpustakaan itu.
Namanya Sandy.
Singkat, padat, jelas. Semua pengunjung perpustakaan Teknik Industri Undip
periode 2004-2009 pasti ingat sama penjaga perpus satu ini: selalu ceria, tidak
pernah marah, suka banget sama yang berbau J-Pop, K-Pop, dan Agnes Monica, dan
yang jelas baik banget anaknya. Anaknya suka melucu dan murah senyum.
Sejak
pertama kali kenal, pikiran pertama yang terlintas hanya ‘Ini anak sepertinya
tidak cocok jadi anak teknik.’. Namun, dengan segala kelembutannya, Sandy
berhasil melalui segala macam penderitaan anak teknik yang terberat sekalipun,
dari ospek yang menyiksa sampai laporan kuliah yang tidak kenal ampun. Malahan,
terkadang hasil garapannya menjadi contekan sekelas kala mengerjakan tugas
dosen, hehe..
Umur manusia
memang tidak ada yang tahu. Kemarin masih asyik bercanda bersama, masih asyik
berbalas pesan di facebook, bisa jadi
hari ini sudah harus menghadap ke Sang Pencipta. Tidak peduli usia seseorang,
tidak peduli asal muasal, kaya miskin, ningrat jelata, semuanya sama di hadapan
kematian. Jika tombol sudah ditekan, maka selamat jalan. Tidak ada ucapan perpisahaan
ala sinetron yang berbusa-busa. Dan tentu akan jauh lebih berat jikau saat ajal
menjemput, kita jauh dari sosok yang kita sayangi.
Siang itu,
kabar Sandy meninggal sungguh membuka kenangan lama dan mengusik hati. Perasaan
senasib dan seperjuangan kala di kampus membuat sebuah ikatan tersendiri. Lebih
lagi, penggemar berat serial Detektif Conan ini meninggal jauh di perantauan.
Teringat
kala pertama menjejakan kaki di pelosok Sulawesi, aku harus menghabiskan 4 hari
di rumah sakit sendirian. Sampai tidak makan dan minum obat karena tidak ada
yang mengambilkan. Barang tentu, itulah salah satu resiko ketika merantau. Dan barang
tentu penderitaan Sandy jauh lebih berat dari yang kurasakan.
Selamat
jalan kawan. Sayonara Sandy. Semoga
surga menyambutmu dengan penuh ceria seperti kamu menceriakan RBTI, perpustakaan
kampus dulu. TI Undip 2004 tidak akan lengkap tanpamu.



Pertamax sya amankan... Tapi tep aj sedih bgtzzzz :'-(
ReplyDeleteiya, makasie Gill... :(
Delete