![]() |
| Pos 1 Gunung Lawu. |
Selepas mendaki
Gunung Rinjani, dengan mengawali naik ojek di jam tiga pagi buta dari Senaru,
perjalanan menuju Lawu dimulai. Di hari yang sama, terlambat dua jam dari
perkiraan semula, pada pukul tujuh malam sudah bisa menginjakan kaki di Solo. Bus
Surabaya-Solo yang saya tumpangi cukup nyaman, melaju dengan kencang dan hanya
berhenti sekali di Ngawi untuk makan.
Jalur Berbunga
Keesokan harinya,
dari Solo saya dan kedua teman menuju Tawangmangu untuk mampir sebentar membeli
logistik pendakian. Sayur mayur dan aneka bahan makanan dapat kita peroleh
dengan harga yang murah sekali, tak ketinggalan bumbu pecel untuk dijadikan
sambal, hm.. nikmat sekali tentunya. Perjalanan dilanjutkan menuju Cemoro Sewu,
basecamp Gunung Lawu.
Dari ketiga
jalur yang dikenal selain Cemoro Kandang dan Candi Cetho, Cemoro Sewu adalah
yang tercepat dan termudah. Dan bagi kami saat itu, terindah! Bagaimana tidak,
sepanjang perjalanan kami dimanjakan bunga-bunga yang bermekaran aneka warna. Jalur
pendakian yang sudah disusun rapi dari bebatuan dihiasi bunga di sepanjang kiri
kanannya. Putih, kuning, merah, dan warna-warna lainnya.
Aneka bunga
ini seakan kompak bermekaran sekaligus. Seperti menyambut kedatangan kami
bertiga di gunung yang menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini. Embun
pagi yang masih menempel membuat kesan yang makin kuat, segar dan menyenangkan.
Indah sekali.
Walau memulai
pendakian saat tengah hari, untungnya cuaca tidak terik. Sebailknya, mendung dan
sedikit berkabut, membuat suasana semakin syahdu. Selain bunga, kiri kanan
jalan juga banyak terdapat beri liar. Tampaknya Juni adalah saat yang pas untuk
mendaki Gunung Lawu. Dan karena mendaki tidak pada akhir pekan, saat itu tidak
begitu banyak pendaki yang kami temui, hanya dua-tiga kelompok saja.
Kebanjiran
Malamnya,
walau terdapat warung Mpok Yem dan beberapa rumah yang bisa dijadikan tempat
bermalam, kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Lagaknya seh ingin lebih menikmati pendakian di dalam tenda daripada
bermalam di bilik atau warung. Namun tak dinyana, walau melakukan pendakian
saat musim kemarau di bulan Juni, tampaknya Lawu tidak tersentuh oleh siklus
tahunan tersebut. Malam itu, hujan turun dengan derasnya.
Awal-awal
masih tidak masalah, air mengalir di kiri kanan tenda dengan lancar. Lama-kelamaan
terasa air mulai menggenang sehingga alas tenda bak kasur air saja. Empuk
rasanya, hehe… Makin lama, hujan semakin deras dan air makin meninggi, terpaksa
keluar dan membetulkan saluran air yang tersumbat ranting-ranting pepohonan. Gangguan
air sementara dapat teratasi, tinggal menunggu hujan reda.
Jika hanya
air, tidaklah menjadi masalah, tenda kami masih sanggup menahannya. Namun lain
soal jika terkena petir, mampus tentunya! Ya, tak berapa lama mulai terlihat
kilat dan bunyi geledek dari langit. Di awal-awal, jeda antara kilat dan bunyi
petir terpaut dua puluh hitungan, ah,
aman pikir saya, berarti lokasi petir tersebut jauh dari tempat kami bermalam.
Tiap kali
petir menyambar, saya selalu menghitung jeda antara kilat dan geledeknya. Inilah
yang membuat waswas, ternyata makin lama jedanya makin pendek, sampai hanya
lima hitungan. Teringat kabar di sejumlah portal online yang menyebutkan tiga
pendaki di Merbabu tersambar petir makin membuat dagdigdug saja. Tidak mau mengambil resiko, segera kami membuat
rencana perpindahan ke goa yang tidak jauh dari lokasi tenda.
Bayangkan saja
asyiknya kami malam itu, dalam hujan yang teramat deras memindahkan
barang-barang dan tenda. Brrr… dingin sekali. Dari ujung kaki sampai ujung jari
tidak berhenti menggigil. Namun di atas semua itu, nikmat sebenarnya adalah
kami masih bisa menertawakan kesialan dan kekonyolan malam itu, heuheuhue…
![]() |
| Plang Cemoro Sewu. |
![]() |
| Beri Liar. |
![]() |
| Embun Pagi. :) |
![]() |
| Putih. |
![]() |
| Puncak. |
![]() |
| Lokasi Tenda setelah Hujan. |
![]() |
| Jalan Berbunga. |








No comments:
Post a Comment