Jika dipikir-pikir,
sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara
membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini
didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah
Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah
ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor
di proyek kilang gas ini.
Dalam hati
saya berucap, tampaknya apa yang diucapkan oleh inspektur upacara tersebut
salah. Penjajah belum pergi dari bumi Indonesia. Tujuannya tetap sama, mengeruk
sumber daya alam Indonesia. Mereka hanya bermetamorfosa menjadi bentuk lain. Dari
yang semula menggunakan kekuatan militer, kini menggunakan kekuatan ekonomi. Dari
yang semula dengan peluru timah panas, kini berubah menjadi lembar-lembar
rupiah yang tidak seberapa.
Apakah ini
salah mereka? Tentu tidak. Kitalah yang menjual tanah ke mereka, kitalah yang
menjual sumber daya alam ke mereka, dan kitalah yang mengemis untuk memberikan
tenaga ke mereka demi pundi-pundi rupiah. Kita belum mampu untuk mengelola
sumber daya alam kita sendiri baik dari skill
atau finansial, pahit, tapi begitulah apa adanya. Pahit, tapi memang kita
belum merdeka sebagai bangsa.
Sebuah
renungan untuk kita semua, putra putri Indonesia Raya. Namun, sudahlah, mari berbenah
diri untuk memerdekakan diri , sementara itu mari kembali ke upacara dan
perayaan ‘kemerdekaan’ kita..
Di pagi hari
itu untungnya hujan tidak turun. Upacara berlangsung khidmat. Upacara dimulai
pada pukul tujuh pagi, mungkin antisipasi pada hujan yang biasa mengguyur di
atas pukul delapan. Jika biasanya mengikuti upacara dengan peserta bertopi,
kini yang ada peserta dengan helm proyek. Upacara pun berlangsung tepat waktu,
pukul delapan lebih sedkiti sudah selesai. Uniknya, ketika petugas upacara yang
hendak mengumpulkan peserta untuk berfoto bersama, mereka malah sibuk selfie
sendiri-sendiri. Dampak adanya smartphone
memang luar biasa, hehe..
Di Banggai,
khususnya daerah Batui sampai Luwuk, pusat pemerintahan kabupaten,ramai oleh
semarak kemerdekaan. Dari lomba-lomba khas tujuh belasan yang diadakan oleh
warga, sampai arak-arakan gerak jalan dan tampilan gaya-gaya unik dan lucu tiap
desa. Tiap SD-SMP-SMA memperlihatkan kebolehannya dalam lomba gerak jalan. Sementara
tiap desa berdandan konyol untuk menghibur warga seperti berpura-pura menjadi waria
sampai berdandan bak layaknya pejuang kemerdekaan. Semarak!
![]() |
Dirgahayu Indonesia
dari Banggai! (dm 18 Agustus 2014)












HAHAHAHHAA itu "Janda Semakin di Depan" HAHAHA -__-
ReplyDeleteMungkin maksudnya sekarang itu jamannya emansipasi janda mas bro, hehe...
Delete