![]() |
| Puncak Argopiloso. |
Daerah
pantai utara Jawa memang miskin gunung, kebanyakan terletak di daerah tengah.
Ketika berkendara di jalur pantura, jangan kaget ketika melewati jalur
Kudus-Pati dan melihat sebuah rangkaian pegunungan di tengah bentangan sawah,
itulah Gunung Muria. Dengan tinggi 1.602 mdpl, Muria lebih dikenal sebagai
tempat pesanggrahan daripada lokasi pendakian.
Karena itu
pula, kebanyakan pengunjung gunung satu ini adalah para peziarah. Mereka mengunjungi
makam Sunan Muria dan pemuka-pemuka Islam yang dihormati oleh warga sekitar
gunung. Dengan berbagai macam tujuan, entah hanya sekedar berziarah, mencari ‘pertolongan’,
meminta ‘doa’, atau tujuan pribadi lainnya. Ada yang datang sendirian sebagai
sebuah laku spiritual ada pula yang beramai-ramai dalam satu rombongan bus
besar.
Selain tempat
pesanggrahan, di gunung cantik ini juga terdapat Air Terjun Montel. Pada musim
penghujan airnya akan mengguyur dengan deras, namun pada musim kemaru hanya
seperti curahan kecil dari tebing. Airnya
yang dingin asyik untuk mandi-mandi dibawa guyurannya. Di parkiran mobil dan
motor banyak terdapat penjual makanan dan aneka oleh-oleh seperti layaknya
lokasi wisata.
Jalur Pendakian
Muria
memiliki banyak puncak, diantaranya terdapat tiga puncak yang terkenal:
Songolikur, Argowiloso, dan Argojembangan. Saat pertama kali ke sana, saya
melalui Colo di Kudus sebagai pintu masuk pendakian. Belakangan saya ketahui
ternyata puncak yang saya tuju dari situ adalah Argowiloso. Colo hanya
berjarak satu jam dari pusat kota Kudus.
Colo adalah
kawasan wisata yang mirip dengan Tawangmangu namun lebih kecil, kita dapat parkir
motor di Colo kemudian berjalan ke Air Terjun Montel, lanjut ke atas ke Rejenu,
sebuah sumber air dengan tiga rasa yang berbeda, dan dilanjutkan perjalanan ke
puncak selama kurang lebih 3-4 jam.
Sampai Rejenu
jalan sudah diaspal karena memang masih termasuk di dalam kawasan wisata, cukup
rimbun dengan pepohonan besar di kiri kanan dan sungai yang mengalir di pinggir
jalan. Dari Rejenu jalan mulai menanjak, vegetasi cukup rapat, dan seringkali
kita harus berjalan di atas akar-akaran. Malah pada beberapa titik kita harus
memanjat akar-akaran pohon. Asyik sekali.
Dari rejenu
sampai puncak tidak ada lokasi untuk berkemah, untuk berkemah dapat di daerah
sekitar puncak yang lumayan landai. Air terakhir terdapat di Rejenu, yang di
situ juga banyak terdapat warung-warung penjual makanan. Tidak perlu kawatir
kehabisan air di puncak, setelah diajarin penduduk lokal yang saya temui di
puncak, batang bambu muda yang ada di puncak ternyata dapat kita jadikan alternatif.
Potong pada bagian paling bawah, dan pada ruas-ruas paling bawah tersebut
terdapat air untuk mengusir dahaga.
![]() |
| Jalur Pendakian. |
![]() |
| Memanjat Akar. |
![]() |
| Minum dari Batang Bambu. |
![]() |
| Meniti Akar. |
![]() |
| Curug Montel. |
-2.jpg)
-2.jpg)
-2.jpg)
-2.jpg)
-2.jpg)
-2.jpg)

kaka, aku ada rencana mau naik ke Muria setelah ziarah. masih sebulan lagi sih. ni lagi cari persiapan.
ReplyDeleteTotal perjalanan dari monthel berapa jam, Ka? bisa untuk one day trip ga? makasih btw.
Bisa kok one day trip.
DeleteKa, kalo boleh minta no hpnya buat komunikasi. Ini no hpku. 085776618462. Thanks. Dwi
ReplyDeletesalam lestari
boleh dunk...
Delete