![]() |
| Pemandangan di Pinggir Jalan. |
Berawal dari
obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana.
Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten
Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah
jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan
Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik
feri setiap harinya.
Bentor
Walau pada
awalnya tidak ada yang menarik, ternyata ada saja hal-hal kecil yang dapat kita
temukan. Hal biasa bagi warga sini, namun unik bagi mataku. Walau hanya sebuah
kecamatan kecil, angkutan yang laris di Pagimana yakni bentor, becak motor.
Tidak perlu jauh-jauh ke Gorontalo untuk naik becak motor. Di Pagimana yang
hanya satu jam setengah dari Kota Luwuk, kita dapat menjajal angkutan yang khas
Indonesia bagian timur ini.
Perkampungan Bajo
Sejatinya,
warga asli Pagimana adalah Suku Saluan. Bahkan masih ada Suku Saluan asli yang
hidup terasing di hutan dekat Pagimana. Mereka hidup tanpa listrik, tanpa
mengenal uang, dan mengandalkan hutan untuk mendapatkan makanan. Suku Saluan
tinggal di sebagian besar wilayah daratan Pagimana. Namun, seperti sebuah
anomali, terdapat sebuah desa yang seluruhnya tinggal di atas laut. Desa itu
adalah Desa Jayabakti, sebuah perkampungan Suku Bajo.
Yang
menarik, walau luas daratan yang saya yakin masih sangat cukup untuk dibangun seribu
rumah lagi, mereka rela mendirikan rumah berjejal-jejal di sini. Terdapat
sebuah jalan ‘utama’ selebar satu setengah meter sepanjang hampir setengah kilo
dan rumah-rumah dibangun di kanan-kirinya. Rata-rata, rumah dibangun dari kayu
yang setengah bagian ada di tanah dan setengahnya lagi terdapat di laut. Bahkan
ada yang seluruhnya di laut.
Tak pelak,
Desa Jayabakti menjadi desa terpadat di Pagimana. Kebetulan, saat ke sana
sedang ada perhelatan rakyat lima tahunan untuk menentukan para wakil rakyat.
Jika pada sepanjang perjalanan saya jarang-jarang melihat TPS di perkampungan
yang terletak berjauhan. Di sini terdapat tujuh TPS untuk mengakomodir satu
desa. Warga sangat antusias dalam pesta rakyat ini, semua TPS penuh dengan
warga yang mengantri. Anak-anak kecil pun tidak kalah dalam meramaikan suasana
berlarian ke sana-ke mari.
Ketika
menyusuri jalan satu-satunya di kampung bajo ini, ingatan menerawang ke perkampungan
kumuh di pinggir Sungai Ciliwung. Kondisi fisiknya mungkin tidak jauh beda,
terlihat padat dan kumuh. Namun, di tempat yang terlihat demikian, rasa
toleransi warga sangat besar. Saat mencapai ujung jalan, terlihat beberapa
warga menangis dan berteriak, sebagian berlarian menuju rumah salah satu warga.
Usut punya usut, ternyata ada seorang warga yang baru saja meninggal dunia.
Merasa tidak
ingin menganggu, saya niatkan untuk segera kembali, berkendara pelan-pelan
sambil menikmati suasana. Ternyata, kabar warga yang meninggal di ujung jalan
menyebar dengan cepatnya. Hampir di rumah-rumah yang saya lewati
membicarakannya dan sebagian bergegas ke rumah duka. Sampai pintu keluar Desa
Jayabakti pun masih terdengar warga yang membicarakan kematian hari itu. Begitu
cepat informasi menyebar dan tampak mereka saling mengenal satu sama lain
dengan baik.
Tidak ingin
berkendara di malam hari saat menuju Luwuk, pukul dua siang saya melanjutkan
perjalanan menyusur jalan di pinggir tebing pantai dan hutan. Di kiri jalan
kita dapat melihat laut luas yang membiru, indah sekali. Namun, tentu horor
rasanya jikalau harus berkendara malam hari sendirian di mana jarak antar
perkampungan sangat jauh dan tidak ada lampu penerangan jalan.
![]() |
| Kampung Bajo. |
![]() |
| Rumah Bajo. |
![]() |
| Bentor. |
![]() |
| Keramaian Pemilu. |
![]() |
| Laut di Jalan Menuju Pagimana. |
![]() |
| Tikungan. |
Sampai jumpa
Pagimana, semoga kita bisa bertemu lagi saat rencana menyebrang ke Gorontalo
dapat terlaksana. Happy travelling.
(dm 060214)







No comments:
Post a Comment