Showing posts with label Seven Summit of Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Seven Summit of Indonesia. Show all posts

Latimojong, Kekayaan Flora Hutan Lumut

Pada pendakian ke Gunung Latimojong memang aku lakukan cukup atau bahkan santai sekali. Mungkin lantaran memakai jasa guide dan porter sehingga dapat berjalan dengan bebas tanpa menguatirkan keril kulkas dua pintu yang membebani bahu. Karena itu pula ada banyak waktu untuk berhenti di tengah jalur hanya sekedar mengambil foto sembari menunggu, Iduk, porterku saat itu datang menyusul.

Hutan Lumut.

Sempat kaget dengan keunikan flora Gunung Latimojong, atau mungkin aku saja yang melewatkan pemandangan ini di gunung lainnya, namun di sini banyak sekali aku jumpai jamur! Hampir di sepanjang jalur bertebaran pada batang pohon yang masih hidup atau mati. Bentuknya pun unik-unik menarik hati untuk mengabadikannya dalam bentuk foto. 

Latimojong!

Latimojong adalah gunung tertinggi di Pulau Sulawesi dengan puncak tertinggi Rante Mario di ketinggian 3,478 mdpl. Adalah salah satu gunung yang bertahun-tahun selalu menjadi wacana buatku hingga akhirnya berhasil menggapai puncaknya pada 16 September 2020. Hingga tulisan ini dibuat, gunung ini menjadi gunung dengan berbiaya paling tinggi yang aku keluarkan, untuk biaya transport, logistik, porter, dan pemandu. Biaya ini di luar tiket pesawat pergi pulang dari Makasar, yang ini syukurlah bisa ditanggung oleh kantor karena kebetulan saat itu sedang ada perjalanan dinas, hehe..

Puncak Rantemario.

Ketika ditugaskan di Papua Barat, aku selalu transit di Bandara Sultan Hasanudin Makasar yang mana selalu ada hasrat untuk keluar dari bandara dan melancong ke Gunung Latimojong. Ditambah lagi, pada tahun kedua di Papua Barat, mulai ada pengetatan untuk melakukan penerbangan gara-gara pandemi. Makin pesimis saja dibuatnya. Namun, dengan segala upaya dan niat yang teguh, akhirnya pendakian ke puncak Pulau Sulawesi dapat terlaksana.

Bersantai di Danau Segara Anak

Di luar tenda mulai terdengar hiruk pikuk para pendaki walau udara masih dingin menusuk. Sinar mentari pagi sedikit terlambat sampai ke tempat ini, terhalang tebing-tebing tinggi. Tak ingin ketinggalan menikmati suasana pagi di pinggir danau, kulepas sleeping bag, dan membuka pintu tenda. Hanya berjarak kurang dari sepuluh meter, Danau Segara Anak menjadi santapan nan lezat bagi mata yang lapar. Ah, akhirnya, yang dulu cuma angan kini menjadi nyata.

Heaven.
Di pinggir danau, para pendaki dan warga sekitar sudah asyik memancing ikan. Berbagai jenis joran menjulur ke tengah danau, mencoba peruntungan di pagi itu. Danau yang indah ini memang terkenal akan ikan mas dan mujair sebagai penghuninya. Dari sebesar jari sampai lengan orang dewasa dapat kita pancing. Mau digoreng atau dibakar, sama enaknya, sama gurihnya.

[Catper] Rinjani

Matahari sudah mulai keluar dari peraduan ketika akhirnya aku berhasil menginjakan kaki di titik 3.767 mdpl yang amat terkenal ini. Hampir enam jam perjalanan kala pagi buta kutempuh dari pos terakhir. Jalur yang terjal berpasir, angin kencang, dan dingin menguji baik mental maupun fisik. Rinjani yang cuma ada di alam mimpiku selama tiga tahun terakhir ini akhirnya terwujud ke alam nyata pukul tujuh pagi yang cerah itu.
 
Danau Segara Anak.
Kesempatan untuk menginjakan kaki di Gunung Rinjani datang pada libur lebaran tahun 2010 setelah sempat dua tahun tertunda. Hanya berdua dari Jakarta kami menuju Lombok melalui jalur udara untuk mempersingkat waktu. Sebenarnya kalau hanya menuju puncak, cukup membutuhkan waktu dua hari satu malam (2D1N). Akan tetapi, jauh-jauh dari Jakarta rugi kalau cuma dua hari di Rinjani.

Semeru Semarak

Saat itu pukul tujuh malam, langit malam meneteskan gerimis kecil ketika kami tiba di Ranukumbolo. Di pinggiran danau yang luas itu telah ramai oleh ribuan pendaki. Ada yang tengah asyik memasak makan malam, mengobrol, atau berteriak-teriak mencari temannya. Atau ada juga yang seperti kami berdua, kebingungan mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Ratusan tenda di Ranukumbolo..
Tak bisa dipungkiri, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang menjadi primadona bagi para pendaki gunung. Selain dari segi keindahan alam yang tiada duanya, kisah tentangnya pun ikut mendongkrak popularitas gunung ini. Sebut saja kisah Soe Hok Gie yang menjadi semacam ‘dewa’ bagi para pecinta alam.  Kisah lain yang tak kalah serunya yakni cerita fiksi 5 cm yang memilih Semeru sebagai setting utama. Tentu, tidaklah bijak jika kita mencerca pendaki yang ke Semeru berkat kisah-kisah tersebut.

Mengunjungi Danau Vulkanik Tertinggi se-Asia Tenggara

Kawan, tahukah kalian kalau danau vulkanik tertinggi se Asia Tenggara berada di Indonesia? Ya, lokasi persisnya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dengan ketinggiannya, tak heran danau indah ini dikelilingi pegunungan, tepatnya ada tujuh gunung. Oleh karena itu mendapat nama Danau Gunung Tujuh. Danau ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga seringkali menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai sehabis trekking ke Puncak Kerinci.

Sunrise di Danau Gunung Tujuh.
Danau vulkanik yang berada di ketinggian ini memang asyik banget untuk kemping. Air danau yang jernih hingga sampai dasar dan pepohonan yang teduh membuat makin betah berkemah di sana. Saat sore atau pagi hari seringkali tupai-tupai yang usil menghampiri mencari remah-remah roti. Burung pun tak malu-malu berkicau di dekat tenda. Kepiting dan ikan, walau kecil-kecil, menanti untuk dipancing.

Trekking ke Puncak Negeri Andalas (2)

Sebagai gunung tertinggi di Sumatra, Kerinci mempunyai bentuk segitiga yang nyaris sempurna seperti layaknya gunung yang kita gambar sewaktu kecil. Trek menuju puncak sangat terjal dan ngetrek kalau anak gunung sering bilang. Karena hal itu pula, rata-rata pendaki menggapai puncak Kerinci cuma dalam sehari perjalanan, berbeda dengan temannya di Pulau Jawa dan Lombok. Akhirnya saya akan menjajal gunung satu ini, puncak yang saya idam-idamkan dari 3 tahun lalu.
 
 Gunung Kerinci dengan view Danau Gunung Tujuh.
Selama pendakian kita akan menemui 3 pos dan 3 shelter. Entah kenapa ada yang disebut pos dan ada yang dinamakan shelter, padahal dari luasnya juga sama saja. Dari pintu rimba ke pos 3 trek masih terbilang landai walau sedikit menanjak. Kenikmatan pendakian baru dirasakan dari pos 3 ke atas. Vegetasi hutan yang rimbun akan menemani kita sepanjang pendakian sampai shelter 3. Dari sini, jalur berganti dengan kerikil dan pasir seperti umumnya gunung berapi.

Trekking ke Puncak Negeri Andalas (1)

Siapa seh yang gak kenal dengan Gunung Kerinci? Puncak tertinggi di Pulau Sumatra dan juga merupakan puncak gunung berapi tertinggi di Indonesia. Menjulang 3.805 meter dari permukaan laut, Kerinci telah menjadi primadona bagi para pendaki gunung di Indonesia. Selain terkenal dengan ketinggiannya, trek gunung satu ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbeda dengan Semeru dan Rinjani yang memiliki tipikal trek yang landai dan panjang, jalur Kerinci seperti garis lurus yang terjal dan menanjak, langsung menuju puncak.

Pendakian Keluarga Mahendra.
Menuju Kersik Tuo
Walau terletak di Provinsi Jambi, tepatnya di  Kecamatan Kayu aro, Kabupaten Kerinci, rute paling cepat untuk menuju kesini yaitu dari Padang. Kersik Tuo terletak di tengah-tengah jalur antar provinsi Padang-Sungai Penuh. Namun belum ada angkutan umum untuk menuju Kersik Tuo dari Padang, yang ada hanya travel. Walau disebut travel tetapi mempunyai jadwal keberangkatan yang pasti tiap harinya seperti bus antarkota, yaitu pukul 09.00 dan 18.30 dari Padang dan juga sebaliknya dari Sungai Penuh.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...