| Raung! |
Kini, saya
menjajal lagi mendaki salah satu Puncak Raung yang belakangan sempat nge-hits:
Puncak Sejati, konon katanya adalah titik tertinggi Gunung 3.441 mdpl ini.
Dengan jalur pendakian yang paling ekstrem se-Pulau Jawa, dibutuhkan peralatan
SRT (Single Rope Technique) untuk menuju puncaknya, Puncak Sejati.
Transport and Guide
Untuk mendaki
Puncak Sejati kita harus mendaki via Jalur Kalibaru yang cukup mudah dicapai.
Patokannya yakni Stasiun Kalibaru, tentunya paling mudah dicapai dengan kereta,
baik dari Surabaya, Jogya, Purwokerto, Cirebon, atau Malang. Soal harga dan jam
keberangkatan, mudah sekali dicek di berbagai situs booking tiket kereta api.
Opsi kedua
dengan moda aspal, tinggal naik bus menuju Kota Banyuwangi dan dilanjut ke
Kalibaru jika lewat Jalur Pantura atau langsung turun di Stasiun Kalibaru (Stasiun
berada tepat di Jalur Selatan) jika lewat Jalur Selatan dari arah Jember. Opsi
ketiga yakni dengan pesawat terbang Jakarta-Banyuwangi dan tinggal dilanjut ke
Kalibaru.
Tinggal
tentukan sendiri moda pilihanmu, perihal datang terlalu cepat tidak perlu
khawatir, banyak basecamp di jalur ini yang dapat dijadikan tempat bermalam
gratis (Warung Bu Soeto contohnya) sembari menunggu waktu pendakian yang
biasanya dimulai pagi hari. Ohya, dari Stasiun Kalibaru tinggal naik ojek
kurang lebih 15 menit ke basecamp, tarifnya 35k per orang. Bonceng berdua tetap
dikenakan 35k per orang, Bapak-bapak ojeknya suka maksain mengangkut penumpang
dua sekaligus sekali jalan. Jangan mau!
Untuk urusan
guide (termasuk peralatan panjat dan pasang jalur) kembali ke masing-masing,
boleh tidak memakai jasa guide, bawa sendiri alat panjat, dan tinggal pasang ke
anchor yang sudah ada atau mendaki manis ditemani abang guide yang siap memandu
sepanjang jalan. Lewat teman saya, Lei, saya ikut tripnya Mas Yudi pada
pendakian kali ini. Ramah dan supel, pm jika butuh nomor teleponnya.
Secara jalur,
sampai Camp 9, jalur pendakian seperti normalnya jalur pendakian gunung di
Pulau Jawa lainnya, jalur yang jelas, tanah tanpa bebatuan, kadang sedikit
menanjak, kadang harus melewati pohon yang tumbang atau sedikit merambat di
akar pohon, kadang penuh lumpur ketika hujan. Nah, mulai Camp 9 ke atas, di
sinilah dibutuhkan skill pendakian yang sedikit berbeda di mana jasa guide
diperlukan, yakni ditambah dengan ilmu panjat tebing. Jadi, ukur sendiri
kemampuanmu, jangan terlalu memaksakan diri.
Jalur Pendakian
Seperti yang
saya jelaskan di atas, pada awal pendakian sampai Camp 9 jalur masih biasa saja
dan untuk lebih memudahkan memahami jalur dan lama pendakian, saya jabarkan
dalam bentuk tabel di bawah. Ohya, timeline yang saya gunakan yakni waktu yang
kemarin saya alamin sendiri sehingga sangat mungkin berbeda-beda tiap individu,
bisa jadi lebih lama, mungkin sekali teman-teman lebih cepat, hehe..
Bagi saya
pribadi, Jalur Kalibaru sampai Camp 9 masih lebih mudah dari pada Jalur Sumber
Waringin sampai batas vegetasi, mungkin karena dulu masih jarang didaki sehingga
lebih susah didaki. Masih teringat dulu harus merangkak, merambat, dan berjalan
di atas pohon besar yang tumbang. Kesamaannya hanya sama-sama tidak ada mata
air sepanjang jalur sehingga pastikan membawa air yang cukup.
Jika ingin pendakian
lebih menyenangkan (seperti saya) dapat menggunakan jasa porter 400k untuk drop
off barang satu keril atau 350k untuk drop off air sebanyak 15 liter. Sampai Camp
7 tinggal masuk tenda dan mengistirahatkan tubuh untuk perjalanan summit attack
esok hari, hehe..
Summit Attack!
Dari Puncak Bendera
ke Puncak Tusuk Gigilah jalur yang disebut jalur terekstrem se-Pulau Jawa,
total terdapat 3 titik ekstrem yang harus dilalui dengan bantuan tali. Sebenarnya,
tidak memakai tali pun menurut saya tidak masalah, namun tentu saja faktor keselamatan
tidak dijamin. Ekstrem satu berupa tanjakan vertikal setinggi kurang lebih 5 meter
sehingga harus dilalui dengan teknik ascending seperti dengan tali prusik atau bantuan
jumar.
Sementara pada
ekstrem kedua cukup dengan menyusur tali secara horizontal karena harus
memutari tebing, cukup dengan mencantolkan karabiner ke jalur tali yang sudah
dipasang. Pada ekstrem ketiga kita harus menuruni tebing sedalam kurang lebih
10 meter, tidak persis vertikal namun kemiringannya cukup terjal. Pada titik
ini kita menggunakan teknik descending dengan bantuan figure eight atau
karabiner jika tahu tekniknya. Sayangnya guide kami hanya menggunakan tali prusik
sebagai pengaman yang tentunya kurang safe.
Pada satu jam
terakhir pendakian menuju Puncak Sejati, kita harus melalui jalur bebatuan yang
pada beberapa titik tidak begitu stabil, mirip dengan pendakian ke Gunung
Merapi di Jawa Tengah. Di jarak tertentu ditaruh bendera sebagai petunjuk jalan
agar tidak salah jalur. Ohya, saat turun sebaiknya agak bergeser ke kanan dari bendera
agar tidak bertabrakan denganpendaki yang hendak naik, juga mengurangi bahaya jika
ada batu yang jatuh di jalur.
Pukul 11.30
tepat, saya menginjakan kaki di Puncak Sejati Raung. Lega sekali rasanya. Seluruh
jerih payah pendakian terbayar sudah. Puncak Sejati berada persis di pinggir
kawah dan dari sana kita dapat memandang keseluruhan Kawah Gunung Raung yang
luas dan masih mengeluarkan asap belerang. Untungnya saat kami sampai di atas,
cuaca cerah tanpa kabut sehingga seluruh landscape dapat kami nikmati dari
atas.
Tidak lama di
puncak, pukul 12.00 siang kami mulai menuruni Puncak Raung. Untung saja, karena
satu jam berikutnya kabut tebal mulai datang dan hujan gerimis mulai turun. Gara-gara
hujan dan lama mengantri jalur pada ekstrem satu, teman saya, Lei, kena
hipotermia ringan sehingga mau tidak mau harus saya kasih jaket dan kopi panas
yang kami nikmati bersama-sama rombongan lain.
Pukul 4 sore,
begitu saya dan Lei masuk tenda, hujan turun dengan lebatnya dan bertahan
hampir sampai pukul 9 malam. Kasihan teman-teman satu rombongan Mas Yudi yang
masih di belakang. Karena belakangan selalu panas, banyak teman-teman yang
tidak persiapan membawa jas hujan dan tenda banyak yang bocor, pakaian dan
sleeping bag menjadi basah. Malam itu, beberapa harus tidur dalam dingin dan
basah. Pesan moral: always prepare for the worst.
| Basecamp. |
| Pos Lapor. |
![]() |
| Pos 1 sampai Camp 9 (Berurutan dari Kiri Atas sampai Kanan Bawah). |
| Jalur yang Cantik. |
| Camp 7, Tenda Kami, dan Mas Yudi. |
| Puncak Bendera. |
| Melalui Ekstrem 1. |
| Melalui Ekstrem 2. |
| Team Pengantri. |
| Estrem 3. |
| Jalur Raung. |
| Bendera Penunjuk Jalan. |
| Puncak Tusuk Gigi. |
| Puncak Sejati (Abaikan Jaket di Sebelah Kanan). |
Pendakian
Raung memang menguras stamina karena di samping tidak ada sumber mata air, jalur
pendakian sangat menantang. Sampai bertemu lagi Raung. Keep safe, clean, and
fun climbing!
Ohya, untuk
membaca cerita pendakian Raung via Sumber Waringin dapat silahkan klik linkini. Untuk cerita bagian kedua artikel ini, silahkan klink link berikut.


No comments:
Post a Comment