Raung Puncak Sejati

Delapan tahun yang lalu saya menggapai Puncak Raung dari jalur Sumber Waringin, sebuah pendakian yang benar-benar memacu adrenalin, merangkak dan berjalan di hutan lebat dengan nama-nama pos yang membuat bulu kuduk berdiri, sebut saja Pos Pondok Mayit atau Pondok Demit. Pendakian kala itu diakhiri dengan meniti pinggiran kawah Raung yang ekstrem, tanpa tali dan pengaman, dahsyat sekali rasanya.

Raung!
Kini, saya menjajal lagi mendaki salah satu Puncak Raung yang belakangan sempat nge-hits: Puncak Sejati, konon katanya adalah titik tertinggi Gunung 3.441 mdpl ini. Dengan jalur pendakian yang paling ekstrem se-Pulau Jawa, dibutuhkan peralatan SRT (Single Rope Technique) untuk menuju puncaknya, Puncak Sejati.

                                                             
Transport and Guide
Untuk mendaki Puncak Sejati kita harus mendaki via Jalur Kalibaru yang cukup mudah dicapai. Patokannya yakni Stasiun Kalibaru, tentunya paling mudah dicapai dengan kereta, baik dari Surabaya, Jogya, Purwokerto, Cirebon, atau Malang. Soal harga dan jam keberangkatan, mudah sekali dicek di berbagai situs booking tiket kereta api.

Opsi kedua dengan moda aspal, tinggal naik bus menuju Kota Banyuwangi dan dilanjut ke Kalibaru jika lewat Jalur Pantura atau langsung turun di Stasiun Kalibaru (Stasiun berada tepat di Jalur Selatan) jika lewat Jalur Selatan dari arah Jember. Opsi ketiga yakni dengan pesawat terbang Jakarta-Banyuwangi dan tinggal dilanjut ke Kalibaru.

Tinggal tentukan sendiri moda pilihanmu, perihal datang terlalu cepat tidak perlu khawatir, banyak basecamp di jalur ini yang dapat dijadikan tempat bermalam gratis (Warung Bu Soeto contohnya) sembari menunggu waktu pendakian yang biasanya dimulai pagi hari. Ohya, dari Stasiun Kalibaru tinggal naik ojek kurang lebih 15 menit ke basecamp, tarifnya 35k per orang. Bonceng berdua tetap dikenakan 35k per orang, Bapak-bapak ojeknya suka maksain mengangkut penumpang dua sekaligus sekali jalan. Jangan mau!

Untuk urusan guide (termasuk peralatan panjat dan pasang jalur) kembali ke masing-masing, boleh tidak memakai jasa guide, bawa sendiri alat panjat, dan tinggal pasang ke anchor yang sudah ada atau mendaki manis ditemani abang guide yang siap memandu sepanjang jalan. Lewat teman saya, Lei, saya ikut tripnya Mas Yudi pada pendakian kali ini. Ramah dan supel, pm jika butuh nomor teleponnya.

Secara jalur, sampai Camp 9, jalur pendakian seperti normalnya jalur pendakian gunung di Pulau Jawa lainnya, jalur yang jelas, tanah tanpa bebatuan, kadang sedikit menanjak, kadang harus melewati pohon yang tumbang atau sedikit merambat di akar pohon, kadang penuh lumpur ketika hujan. Nah, mulai Camp 9 ke atas, di sinilah dibutuhkan skill pendakian yang sedikit berbeda di mana jasa guide diperlukan, yakni ditambah dengan ilmu panjat tebing. Jadi, ukur sendiri kemampuanmu, jangan terlalu memaksakan diri.

Jalur Pendakian
Seperti yang saya jelaskan di atas, pada awal pendakian sampai Camp 9 jalur masih biasa saja dan untuk lebih memudahkan memahami jalur dan lama pendakian, saya jabarkan dalam bentuk tabel di bawah. Ohya, timeline yang saya gunakan yakni waktu yang kemarin saya alamin sendiri sehingga sangat mungkin berbeda-beda tiap individu, bisa jadi lebih lama, mungkin sekali teman-teman lebih cepat, hehe..

  
Bagi saya pribadi, Jalur Kalibaru sampai Camp 9 masih lebih mudah dari pada Jalur Sumber Waringin sampai batas vegetasi, mungkin karena dulu masih jarang didaki sehingga lebih susah didaki. Masih teringat dulu harus merangkak, merambat, dan berjalan di atas pohon besar yang tumbang. Kesamaannya hanya sama-sama tidak ada mata air sepanjang jalur sehingga pastikan membawa air yang cukup.

Jika ingin pendakian lebih menyenangkan (seperti saya) dapat menggunakan jasa porter 400k untuk drop off barang satu keril atau 350k untuk drop off air sebanyak 15 liter. Sampai Camp 7 tinggal masuk tenda dan mengistirahatkan tubuh untuk perjalanan summit attack esok hari, hehe..

Summit Attack!
Dari Puncak Bendera ke Puncak Tusuk Gigilah jalur yang disebut jalur terekstrem se-Pulau Jawa, total terdapat 3 titik ekstrem yang harus dilalui dengan bantuan tali. Sebenarnya, tidak memakai tali pun menurut saya tidak masalah, namun tentu saja faktor keselamatan tidak dijamin. Ekstrem satu berupa tanjakan vertikal setinggi kurang lebih 5 meter sehingga harus dilalui dengan teknik ascending seperti dengan tali prusik atau bantuan jumar.

Sementara pada ekstrem kedua cukup dengan menyusur tali secara horizontal karena harus memutari tebing, cukup dengan mencantolkan karabiner ke jalur tali yang sudah dipasang. Pada ekstrem ketiga kita harus menuruni tebing sedalam kurang lebih 10 meter, tidak persis vertikal namun kemiringannya cukup terjal. Pada titik ini kita menggunakan teknik descending dengan bantuan figure eight atau karabiner jika tahu tekniknya. Sayangnya guide kami hanya menggunakan tali prusik sebagai pengaman yang tentunya kurang safe.

Pada satu jam terakhir pendakian menuju Puncak Sejati, kita harus melalui jalur bebatuan yang pada beberapa titik tidak begitu stabil, mirip dengan pendakian ke Gunung Merapi di Jawa Tengah. Di jarak tertentu ditaruh bendera sebagai petunjuk jalan agar tidak salah jalur. Ohya, saat turun sebaiknya agak bergeser ke kanan dari bendera agar tidak bertabrakan denganpendaki yang hendak naik, juga mengurangi bahaya jika ada batu yang jatuh di jalur.

Pukul 11.30 tepat, saya menginjakan kaki di Puncak Sejati Raung. Lega sekali rasanya. Seluruh jerih payah pendakian terbayar sudah. Puncak Sejati berada persis di pinggir kawah dan dari sana kita dapat memandang keseluruhan Kawah Gunung Raung yang luas dan masih mengeluarkan asap belerang. Untungnya saat kami sampai di atas, cuaca cerah tanpa kabut sehingga seluruh landscape dapat kami nikmati dari atas.

Tidak lama di puncak, pukul 12.00 siang kami mulai menuruni Puncak Raung. Untung saja, karena satu jam berikutnya kabut tebal mulai datang dan hujan gerimis mulai turun. Gara-gara hujan dan lama mengantri jalur pada ekstrem satu, teman saya, Lei, kena hipotermia ringan sehingga mau tidak mau harus saya kasih jaket dan kopi panas yang kami nikmati bersama-sama rombongan lain.

Pukul 4 sore, begitu saya dan Lei masuk tenda, hujan turun dengan lebatnya dan bertahan hampir sampai pukul 9 malam. Kasihan teman-teman satu rombongan Mas Yudi yang masih di belakang. Karena belakangan selalu panas, banyak teman-teman yang tidak persiapan membawa jas hujan dan tenda banyak yang bocor, pakaian dan sleeping bag menjadi basah. Malam itu, beberapa harus tidur dalam dingin dan basah. Pesan moral: always prepare for the worst.

Basecamp.

Pos Lapor.

Pos 1 sampai Camp 9 (Berurutan dari Kiri Atas sampai Kanan Bawah).

Jalur yang Cantik.

Camp 7, Tenda Kami, dan Mas Yudi.

Puncak Bendera.

Melalui Ekstrem 1.

Melalui Ekstrem 2.

Team Pengantri.

Estrem 3.

Jalur Raung.

Bendera Penunjuk Jalan.

Puncak Tusuk Gigi.

Puncak Sejati (Abaikan Jaket di Sebelah Kanan).

Pendakian Raung memang menguras stamina karena di samping tidak ada sumber mata air, jalur pendakian sangat menantang. Sampai bertemu lagi Raung. Keep safe, clean, and fun climbing!

Ohya, untuk membaca cerita pendakian Raung via Sumber Waringin dapat silahkan klik linkini. Untuk cerita bagian kedua artikel ini, silahkan klink link berikut.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...