Kembang, Anakan Gunung Sindoro

Sebagai pendaki gunung yang suka ga tahan lihat gunung kece di Instagram, saya langsung ngiler melihat foto-foto Gunung Kembang yang akhir-akhir ini mulai banyak bersliweran di media sosial satu itu. Tingginya pun ternyata tidak begitu tinggi, hanya 2.340 mdpl, sehingga tipe gunung ini sangat cocok untuk trip sehari bagi kuli bangunan yang tidak punya hari libur lama macam saya.

Gunung Kembang dengan Latar Gunung Sindoro.

Tidak berpikir dan planning lama-lama, ketika ada long weekend di bulan November kemarin, langsung saja saya kontak teman-teman yang kira-kira masih di Semarang untuk pergi mendaki gunung cantik satu ini. Tidak butuh waktu lama, dapat dua mangsa yang siap menemani! Findi dan Hasan, teman zaman di kampus dulu.

Rencana kami sederhana saja, karena kami tidak ada yang pernah mendaki ke sana, berangkat siang dari Kampus Tembalang dengan perlengkapan lengkap, mencari basecamp dengan google maps, dan melakukan pendakikan, bermalam di tenda, pulang. Rupanya Hasan mengajak satu teman, sehingga kami berempat menuju Wonosobo dengan menggunakan roda dua. Mantaplah. Sudah cukup lama juga saya tidak naik gunung ramai-ramai begini.

Motor Mogok
Rencana berangkat siang, gagal karena satu dan lain hal, biasalah. Baru pada pukul tiga sore kami benar-benar meninggalkan Kota Semarang. Asyik juga, kangen juga naik gunung dengan menggunakan moda roda dua seperti zaman kuliah dulu melewati jalur Semarang Wonosobo via Sumowono yang berkelok-kelok serta penuh tanjakan dan turunan tajam. Memorable, hehe..

Setelah satu jam berkendara, tiba-tiba saja hujan mengguyur deras. Saat itu sedang melewati jalur hutan perkebunan di Suwmowo yang untungnya ada warung kopi yang seperti tiba-tiba muncul saja. Tanpa pikir panjang, langsung saja kami berteduh di sana. Hujan yang deras itu ditambah angin yang bertiup kencang sekali. Fiuh.. dalam hati saya berdoa semoga hujannya saat perjalanan ke kaki gunung saja, saat di gunung jangan hujan ya Allah…

Sebenarnya kami membawa jas hujan, namun dengan hujan macam itu, melihat jalan saja tentunya susah, apalagi ditambah jalur Sumowono yang aduhai. Sehingga berteduh adalah keputusan yang bijaksana. Sekitar tiga puluh menit menunggu, hujan mulai mereda dan kami melanjutkan perjalanan kembali.

Tidak terasa matahari sudah tenggelam, perut pun meminta diisi, sampai di Parakan kami berhenti sejenak untuk beribadah dan makan malam. Tidak lupa membeli logistik untuk pendakian, siapa tahu di basecamp tidak ada penjual makanan. Dalam bayangan saya, basecamp gunung-gunung di Jawa Tengah masih seperti awal tahun 2000an, cuma datang ke kepala dusun atau RT, isi buku pendaftaran yang seadanya, langsung cus naik gunung. Belakangan pikiran saya tersebut salah besar!

Tidak tahu jalan dan GPS tidak begitu dapat diandalkan, kami kembali ke metode mencari jalan paling kuno: tanya orang lokal! Rupanya tujuan kami tidak jauh lagi, malah sempat terlewat namun ada jalan lain yang dapat kami lewati dan rupa-rupanya jalur ini berbatu kasar dan menanjak. Motor Findi cukup kuat diajak melewati jalur ini, namun tidak buat motornya Hasan, beberapa kali Hasan harus turun dan berjalan kaki, sempat juga mendorong. Haha.. dasar motor tua, yang naik gede-gede pula.

Hingga akhirnya mereka berdua menyerah dan beristirahat cukup lama. Sempat bertanya lagi ke orang sekitar ternyata jarak basecamp tidak jauh lagi, kami sepakat untuk melangsir ke basecamp. Pergilah aku dan Findi menuju basecamp yang memang sudah tidak jauh lagi, lima menit berjalan ternyata ketemu dengan jalan aspal yang bagus banget, lima menit berikutnya kami sudah tiba di basecamp. Saat hendak menjemput Hasan, ternyata orangnya sudah tidak ada, mana tidak ada signal. Ternyata, sialan, dia sudah duduk manis di Basecamp, karena gelap, saya tidak tahu kalau sempat berpapasan di jalan.

Tektok ke Kembang
Awalnya kami memang hendak bermalam di tenda, sudah cukup lama tidak begitu. Namun, dari obrolan santai di Basecamp Kembang yang menurut saya sudah sangat terorganisir dengan baik ini, kami putuskan untuk menggapai puncak dengan tektok saja. Pendakian cuma 3-4 jam saja dan kebetulan tidak ada air di sepanjang jalur pendakian. Hehe.. males juga bawa beban berat untuk pendakian jarak pendek, di samping itu kami sedikit kecapkean setelah perjalan jauh dari Semarang.

Setelah packing untuk pendakian esok hari, setting alarm, buka sleeping bag, kami pun terlelap melepas lelah.

Pukul dua alarm mulai berbunyi dan satu demi satu kami bangun untuk mengecek persiapan akhir sebelum melakukan pendakian. Jam tiga pas kami mulai meninggalkan basecamp seperti yang sudah direncanakan, tumben ini on time. Ketika melakukan pendaftaran, pendaki akan dibekali peta pendakian dan dijelaskan secara detail jalur pendakian, jalurnya seperti apa, waktu tempu, dan informasi penting lainnya. Tidak perlu khawatir tersesat juga karena sepanjang jalur banyak petunjuk jalan yang dapat kita jadikan acuan.

Satu jam pertama kita akan melewati kebun teh Tambi yang tentunya penuh percabangan, di sini harus ekstra hati-hati jangan sampai salah jalan. Pastikan untuk memeriksa jalur jika sampai dalam 15 menit kita tidak menemukan petunjuk jalur di jalan.

Setelah kebun teh, kita akan sampai pada pintu masuk hutan atau Gerbang 290, dari sini jalur berganti hutan tropis khas gunung Indonesia. Jalur tanah biasa dengan vegetasi rapat. Setelah kurang lebih berjalan satu setengah jam, kami sampai di Sabana atau bisa dibilang batas vegetasi. Namun jangan bayangkan padang sabana yang datar. Jalur Gunung Kembang walau pendek namun jarang sekali ada bonus.

Matahari mulai keluar dari peraduannya ketika kami sampai di sini. Tidak ingin terburu-buru, kami pun asyik berfoto dan menjalankan ibadah subuh. Asyik sekali duduk di padang ilalang sambil menikmati matahari pagi yang masih malu-malu menampakan sinarnya.

Untuk menuju Puncak Kembang dari Sabana kita harus melewati satu jalur yang tampaknya menjadi maskot gunung satu ini: Tanjakan Mesra. Tanjakan yang memaksa para pendaki (yang berpasangan loh ya, jomblo ndak termasuk) untuk saling berpegangan tangan karena jalurnya yang menanjak hampir 45-70 derajat tanpa banyak pepohonan di kanan kiri selama kurang lebih 30 menit pendakian. Mesra kali kan? Dalam hati saya cuma berpikir, naik biasanya lebih mudah, lihat nanti pas turun, haha..

Sampai di puncak waktu sudah menujukan pukul enam lebih, matahari sudah tidak malu-malu lagi. Puncak Kembang tidak mengecewakan, malahan indah sekali dengan latar Gunung Sindoro yang tampak gagah di sisi timur-utaranya, menjadikan background foto yang ciamik. Asyik sekali kami berfoto sana-sini, puas rasanya.

Asyik berfoto, alat masak pun dikeluarkan, saatnya menyeduh segelas kopi dan membuat sarapan pagi sambil menikmati keindahan sekitar. Alhamdullillah cuaca juga sedang bersahabat, tidak ada kabut dan langit cerah. Nikmat manalagi yang kamu dustakan?
 
Tiket Masuk Gunung Kembang.

Sunrise dari Pos Sabana.

Full Team.

Kawah Gunung Kembang.

Puncak Gunung Kembang.

Tanjakan Mesra.

Pos Sabana.

Pos Akar.

Pos Simpang Tiga.

Pos Liliput.

Gerbang 290.

Ibu-ibu Pemetik Daun Teh.

Numpang Truknya Pak Joko.

Pos Istana Katak.

Penampakan Basecamp.

Kembali ke Basecamp Naik Truk Teh
Benar dugaanku tadi, turun melewati Tanjakan Mesra lebih sulit ketimbang menaikinya. Harus ekstra hati-hati karena selain licin juga tidak ada pegangan di kanan kiri, cocok sekali jika menggunakan trecking pole di sini. Beberapa pendaki malah ada yang berjalan dengan pantatnya karena tidak yakin dengan kedua kakinya, hehe..

Setelah sekitar satu jam berjalan kaki, sampailah di Gerbang 290, kebetulan saat itu sedang ada Ibu-ibu Pemetik Teh yang sedang melakukan penimbangan dan diangkut dengan truk untuk dibawa ke pabrik. Saya pun larut menikmati keceriaan Ibu-ibu tersebut walau mengangkat daun teh yang beratnya bisa satu kwintal. Luar biasa sekali ibu-ibu ini, walau harus berjibaku dengan beratnya daun teh namun masih bisa riang bercanda asyik mensyukuri hasil petikan hari ini.

Tiba-tiba, saya diajak ngobrol oleh Pak Joko, “Nanti naik di depan saja sama saya, Mas.”, kata beliau yang ternyata supir truk yang sedang saya lihati. Mungkin beliau pikir saya hendak naik ke atas bak belakang seperti beberapa pendaki yang sedang naik ke bak belakang, di atas tumpukan daun teh yang menggunung. Padahal saya tidak begitu tertarik, namun kalau duduk di bangku belakang? Wah, ayo sekali.

Sambil asyik bercerita ketika menuruni tanjakan yang esktrim, saya banyak mendapat banyak tambahan pengetahuan baru dari Pak Joko. Tentang  upah para pekerja yang kecil sekali, pengalaman beliau, dan lain-lain. Tidak terasa, sampai kami di basecamp, saatnya membersihkan diri dan bersiap untuk pulang ke Semarang. Sampai berjumpa lagi, Kembang.

Stay safe, clean, and fun climbing. 30 Desember 2018.

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...