| Gunung Kembang dengan Latar Gunung Sindoro. |
Tidak
berpikir dan planning lama-lama,
ketika ada long weekend di bulan
November kemarin, langsung saja saya kontak teman-teman yang kira-kira masih di
Semarang untuk pergi mendaki gunung cantik satu ini. Tidak butuh waktu lama,
dapat dua mangsa yang siap menemani! Findi dan Hasan, teman zaman di kampus
dulu.
Rencana kami sederhana saja, karena kami tidak ada yang pernah mendaki ke sana, berangkat siang dari Kampus Tembalang dengan perlengkapan lengkap, mencari basecamp dengan google maps, dan melakukan pendakikan, bermalam di tenda, pulang. Rupanya Hasan mengajak satu teman, sehingga kami berempat menuju Wonosobo dengan menggunakan roda dua. Mantaplah. Sudah cukup lama juga saya tidak naik gunung ramai-ramai begini.
Motor Mogok
Rencana
berangkat siang, gagal karena satu dan lain hal, biasalah. Baru pada pukul tiga
sore kami benar-benar meninggalkan Kota Semarang. Asyik juga, kangen juga naik
gunung dengan menggunakan moda roda dua seperti zaman kuliah dulu melewati
jalur Semarang Wonosobo via Sumowono yang berkelok-kelok serta penuh tanjakan
dan turunan tajam. Memorable, hehe..
Setelah satu
jam berkendara, tiba-tiba saja hujan mengguyur deras. Saat itu sedang melewati
jalur hutan perkebunan di Suwmowo yang untungnya ada warung kopi yang seperti
tiba-tiba muncul saja. Tanpa pikir panjang, langsung saja kami berteduh di
sana. Hujan yang deras itu ditambah angin yang bertiup kencang sekali. Fiuh..
dalam hati saya berdoa semoga hujannya saat perjalanan ke kaki gunung saja,
saat di gunung jangan hujan ya Allah…
Sebenarnya
kami membawa jas hujan, namun dengan hujan macam itu, melihat jalan saja tentunya
susah, apalagi ditambah jalur Sumowono yang aduhai. Sehingga berteduh adalah
keputusan yang bijaksana. Sekitar tiga puluh menit menunggu, hujan mulai mereda
dan kami melanjutkan perjalanan kembali.
Tidak terasa
matahari sudah tenggelam, perut pun meminta diisi, sampai di Parakan kami
berhenti sejenak untuk beribadah dan makan malam. Tidak lupa membeli logistik
untuk pendakian, siapa tahu di basecamp tidak ada penjual makanan. Dalam
bayangan saya, basecamp gunung-gunung di Jawa Tengah masih seperti awal tahun
2000an, cuma datang ke kepala dusun atau RT, isi buku pendaftaran yang
seadanya, langsung cus naik gunung. Belakangan pikiran saya tersebut salah
besar!
Tidak tahu
jalan dan GPS tidak begitu dapat diandalkan, kami kembali ke metode mencari
jalan paling kuno: tanya orang lokal! Rupanya tujuan kami tidak jauh lagi,
malah sempat terlewat namun ada jalan lain yang dapat kami lewati dan
rupa-rupanya jalur ini berbatu kasar dan menanjak. Motor Findi cukup kuat
diajak melewati jalur ini, namun tidak buat motornya Hasan, beberapa kali Hasan
harus turun dan berjalan kaki, sempat juga mendorong. Haha.. dasar motor tua,
yang naik gede-gede pula.
Hingga
akhirnya mereka berdua menyerah dan beristirahat cukup lama. Sempat bertanya
lagi ke orang sekitar ternyata jarak basecamp tidak jauh lagi, kami sepakat
untuk melangsir ke basecamp. Pergilah aku dan Findi menuju basecamp yang memang
sudah tidak jauh lagi, lima menit berjalan ternyata ketemu dengan jalan aspal
yang bagus banget, lima menit berikutnya kami sudah tiba di basecamp. Saat
hendak menjemput Hasan, ternyata orangnya sudah tidak ada, mana tidak ada
signal. Ternyata, sialan, dia sudah duduk manis di Basecamp, karena gelap, saya
tidak tahu kalau sempat berpapasan di jalan.
Tektok ke Kembang
Awalnya kami
memang hendak bermalam di tenda, sudah cukup lama tidak begitu. Namun, dari
obrolan santai di Basecamp Kembang yang menurut saya sudah sangat terorganisir
dengan baik ini, kami putuskan untuk menggapai puncak dengan tektok saja.
Pendakian cuma 3-4 jam saja dan kebetulan tidak ada air di sepanjang jalur
pendakian. Hehe.. males juga bawa beban berat untuk pendakian jarak pendek, di
samping itu kami sedikit kecapkean setelah perjalan jauh dari Semarang.
Setelah
packing untuk pendakian esok hari, setting alarm, buka sleeping bag, kami pun
terlelap melepas lelah.
Pukul dua
alarm mulai berbunyi dan satu demi satu kami bangun untuk mengecek persiapan
akhir sebelum melakukan pendakian. Jam tiga pas kami mulai meninggalkan
basecamp seperti yang sudah direncanakan, tumben ini on time. Ketika melakukan
pendaftaran, pendaki akan dibekali peta pendakian dan dijelaskan secara detail
jalur pendakian, jalurnya seperti apa, waktu tempu, dan informasi penting
lainnya. Tidak perlu khawatir tersesat juga karena sepanjang jalur banyak
petunjuk jalan yang dapat kita jadikan acuan.
Satu jam
pertama kita akan melewati kebun teh Tambi yang tentunya penuh percabangan, di
sini harus ekstra hati-hati jangan sampai salah jalan. Pastikan untuk memeriksa
jalur jika sampai dalam 15 menit kita tidak menemukan petunjuk jalur di jalan.
Setelah
kebun teh, kita akan sampai pada pintu masuk hutan atau Gerbang 290, dari sini
jalur berganti hutan tropis khas gunung Indonesia. Jalur tanah biasa dengan
vegetasi rapat. Setelah kurang lebih berjalan satu setengah jam, kami sampai di
Sabana atau bisa dibilang batas vegetasi. Namun jangan bayangkan padang sabana
yang datar. Jalur Gunung Kembang walau pendek namun jarang sekali ada bonus.
Matahari
mulai keluar dari peraduannya ketika kami sampai di sini. Tidak ingin
terburu-buru, kami pun asyik berfoto dan menjalankan ibadah subuh. Asyik sekali
duduk di padang ilalang sambil menikmati matahari pagi yang masih malu-malu
menampakan sinarnya.
Untuk menuju
Puncak Kembang dari Sabana kita harus melewati satu jalur yang tampaknya
menjadi maskot gunung satu ini: Tanjakan Mesra. Tanjakan yang memaksa para
pendaki (yang berpasangan loh ya, jomblo ndak termasuk) untuk saling
berpegangan tangan karena jalurnya yang menanjak hampir 45-70 derajat tanpa
banyak pepohonan di kanan kiri selama kurang lebih 30 menit pendakian. Mesra
kali kan? Dalam hati saya cuma berpikir, naik biasanya lebih mudah, lihat nanti
pas turun, haha..
Sampai di
puncak waktu sudah menujukan pukul enam lebih, matahari sudah tidak malu-malu lagi.
Puncak Kembang tidak mengecewakan, malahan indah sekali dengan latar Gunung
Sindoro yang tampak gagah di sisi timur-utaranya, menjadikan background foto
yang ciamik. Asyik sekali kami berfoto sana-sini, puas rasanya.
Asyik
berfoto, alat masak pun dikeluarkan, saatnya menyeduh segelas kopi dan membuat
sarapan pagi sambil menikmati keindahan sekitar. Alhamdullillah cuaca juga
sedang bersahabat, tidak ada kabut dan langit cerah. Nikmat manalagi yang kamu
dustakan?
| Sunrise dari Pos Sabana. |
| Full Team. |
| Kawah Gunung Kembang. |
| Puncak Gunung Kembang. |
| Tanjakan Mesra. |
| Pos Sabana. |
| Pos Akar. |
| Pos Simpang Tiga. |
| Pos Liliput. |
| Gerbang 290. |
| Ibu-ibu Pemetik Daun Teh. |
| Numpang Truknya Pak Joko. |
| Pos Istana Katak. |
| Penampakan Basecamp. |
Kembali ke Basecamp Naik Truk Teh
Benar
dugaanku tadi, turun melewati Tanjakan Mesra lebih sulit ketimbang menaikinya.
Harus ekstra hati-hati karena selain licin juga tidak ada pegangan di kanan
kiri, cocok sekali jika menggunakan trecking pole di sini. Beberapa pendaki
malah ada yang berjalan dengan pantatnya karena tidak yakin dengan kedua
kakinya, hehe..
Setelah
sekitar satu jam berjalan kaki, sampailah di Gerbang 290, kebetulan saat itu
sedang ada Ibu-ibu Pemetik Teh yang sedang melakukan penimbangan dan diangkut
dengan truk untuk dibawa ke pabrik. Saya pun larut menikmati keceriaan Ibu-ibu
tersebut walau mengangkat daun teh yang beratnya bisa satu kwintal. Luar biasa
sekali ibu-ibu ini, walau harus berjibaku dengan beratnya daun teh namun masih
bisa riang bercanda asyik mensyukuri hasil petikan hari ini.
Tiba-tiba,
saya diajak ngobrol oleh Pak Joko, “Nanti naik di depan saja sama saya, Mas.”,
kata beliau yang ternyata supir truk yang sedang saya lihati. Mungkin beliau pikir
saya hendak naik ke atas bak belakang seperti beberapa pendaki yang sedang naik
ke bak belakang, di atas tumpukan daun teh yang menggunung. Padahal saya tidak
begitu tertarik, namun kalau duduk di bangku belakang? Wah, ayo sekali.
Sambil asyik
bercerita ketika menuruni tanjakan yang esktrim, saya banyak mendapat banyak tambahan
pengetahuan baru dari Pak Joko. Tentang upah para pekerja yang kecil sekali, pengalaman
beliau, dan lain-lain. Tidak terasa, sampai kami di basecamp, saatnya membersihkan
diri dan bersiap untuk pulang ke Semarang. Sampai berjumpa lagi, Kembang.
Stay safe,
clean, and fun climbing. 30 Desember 2018.
cerita yang menarik. kita menuliskan hal yang sama
ReplyDeleteWah... nice...
Delete