Andong, Gunung Kecil yang Hits

Sepuluh tahun lalu, saat masih kuliah di Semarang, tidak ada yang kenal gunung kecil satu ini. Saat itu memang demam pendakian tidak seramai sekarang yang mana para pendaki berlomba-lomba mendaki gunung-gunung kecil dengan medan yang tidak terlalu berat dengan view yang cantik untuk sekedar berfoto. Nah, salah satu gunung tersebut yakni Gunung Andong.


Pose Wajib Puncak Gunung, Untung Bawa Payung.

Gunung yang memiliki ketinggian 1,726 mdpl ini terletak di Dusun Sawit, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Lokasi persisnya saya sendiri sudah lupa karena waktu itu menggunakan kendaraan roda dua dari Semarang, kalau tidak salah cukup dekat dari pusat Kota Magelang, tidak sampai satu jam.


Bersama teman sependakian yang selalu setia menemani, Findi, saya naik motor dari Semarang pada hari ketiga lebaran 2017. Findi sudah pernah naik gunung satu ini yang katanya cuma 1.5 jam saja. Wah pendek sekali! Karena waktu tempuh yang pendek ini, saya tidak mau repot-repot membawa full gear alias mau tektok saja. Berangkat dari Semarang pun pagi hari dan rencananya sore harinya sudah kembali lagi.

Hanya berdua dari Semarang, kami berkendara santai saja. Kurang lebih pukul sembilan pagi kami sampai di Basecamp yang tampaknya banyak sekali motor yang parkir di situ. Untung saja tidak berkemah di atas, bisa dibanyangkan penuhnya lokasi tenda yang tentunya kurang nyaman bagi saya pribadi.

Membayar biaya retribusi, sarapan pagi, dan packing ulang barang-barang yang hendak dibawa mendaki, kami pun siap untuk berjalan pada pukul sepuluh pagi.

Pada awal pendakian kita akan disambut gerbang masuk pendakian Gunung Andong yang cantik dilanjutkan jalan setapak yang sudah dipaving. Memasuki hutan, jalanan digantikan jalan undak-undakan yang sudah diratakan dengan beton dan kayu. Hehe.. gunung atau lokasi piknik ini ya?

Setelah undakan yang lumayan menguras tenaga, jalur pendakian digantikan jalur tanah biasa dengan pepohonan di kiri kanan yang tidak begitu rapat. Pepohonan yang mendominasi Gunung Andong rupanya berjenis pinus sehingga tanpak cantik untuk dipandang.

Jalan ke atas rupanya ada dua, satu yang sudah diratakan, dibuat agak memutar namun landai. Satu lagi yang ke sisi sebelah kanan, langsung menanjak ke atas. Saya memilih yang kedua. Lumayan asyik juga berjalan di punggungan gunung dengan pemandangan yang terbuka tanpa pepohonan. Kadang-kadang kabut datang menambah asyiknya siang itu, menjadikan siang itu tidak begitu terik.

Findi rupa-rupanya ngos-ngosan melalui jalur ini, alhasil saya cukup lama bersantai menunggu di atas sambil foto pemandangan di kanan dan kiri. Di atas tanjakan ini, puncak sudah dapat terlihat. Kurang lebih satu jam pendakian, kami berdua sudah sampai di atas.

Kaget juga, rupanya di Puncak Gunung Andong yang juga lokasi untuk mendirikan tenda sudah ada dua atau tiga gubuk yang menjajakan makanan. Ada kopi, teh, mie rebus, gorengan, bahkan nasi goreng. Hehe.. ini mah namanya piknik beneran, tinggal bawa tenda, tidak perlu masak, cukup pesan ke simbok yang berjualan di situ. Praktis!

Setelah berfoto wajib di puncak gunung, kami berdua mampir ke salah satu warung untuk memesan mie rebus dan kopi hitam. Nikmat.
 
Retribusi Andong.

Jalan Setapak.

Undakan Beton.

Pos 2 Watu Gambir.

Undakan sebelum Jalur Tanjakan.

Jalur Tanjakan.

Kabut Menyerang.

Warung di Puncak Andong.

Petilasan di Gunung Andong.

Jalur Satunya.

Gerbang Masuk Gunung Andong.

Saat kami datang, puncak sudah tidak begitu ramai, para pendaki yang pada malam sebelumnya memenuhi puncak sudah pada berkemas dan turun. Untung saja! Tidak berlama-lama di puncak, setelah kenyang menyantap mie rebus kami putuskan untuk turun ke bawah, namun dengan jalur satunya agar bisa menjajal semua jalur yang ada. Tidak butuh waktu lama, kurang lebih satu jam berjalan tidak terasa kami sudah sampai di basecamp lagi.

Andong memang cocok untuk trip pendek pelepas rindu akan gunung. Sampai bertemu lagi di lain waktu. Dm, 1 Januari 2019.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...