Guntur Puncak 2: Solo Climbing

Setelah hanya bisa menggapai Puncak 1 Guntur pada pendakian sebelumnya dan bertekad untuk kembali lagi, tidak butuh waktu ternyata bagi saya untuk kembali lagi. Hanya dalam dua bulan, saya kembali lagi menjejakan kaki di Basecamp Citiis Gunung Guntur. Entah apa yang merasuki, sepertinya sedang jenuh luar biasa sehingga saya memutuskan naik gunung lagi walau sendirian saja.

Tugu Triangulasi.

Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya saya naik gunung sendirian. Sebelumnya saya selalu berpegang naik gunung jangan sendirian karena tidak aman, gunung bukanlah tempat berwisata. Kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita di atas sana. Biasanya memang saya selalu berdua atau bertiga. Saya berani memutuskan naik gunung sendiri karena sudah pernah tahu jalurnya, gunungnya selalu ramai di akhir pekan, dan berdoa saya bertemu teman baru di pendakian ini.

Sebenarnya saya mengajak Juan, pendaki asli Garut yang tempo hari mengantar saya mendaki Guntur dan sukses nyasar ke gunung sebelah, namun karena dadakan, Juan karena satu dan lain hal tidak bisa menemani. Sudah kepalang tanggung ingin naik Guntur lagi, saya memberanikan diri berangkat sendirian dari Jakarta. Sampai di Pom Bensin Tanjung sudah pukul sepuluh malam. Agak kemalaman memang.

Sampai di basecamp, tidak yang seperti saya harapkan ternyata sepi pendaki. Tanya penjaga yang keheranan saya sendirian saja, beberapa rombongan pendaki sudah naik tadi sore sampai petang. Berharap ada pendaki yang berniat sama seperti saya, saya tunggu beberapa saat di basecamp sambil packing ulang barang bawaan. Tidak banyak sebenarnya, karena kali ini juga saya berniat tek tok saja.

Setelah menunggu lama, akhirnya datang dua pendaki yang juga dari Jakarta. PDKT, sok kenal, saya mencoba mengajak ngobrol dan mencoba bergabung untuk naik ke atas. Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Akhirnya saya mendapatkan teman mendaki untuk ke atas.

Sendirian ke Puncak
Dari basecamp ke Pos 1 kami masih berjalan bersama, ritme berjalan mereka cukup cepat. Untungnya kaki saya yang sudah menua ini masih sanggup mengikuti. Sampai di warung-warung terakhir sebelum tanjakan, persis di air terjun, kami berhenti cukup lama. Menyiapkan tenaga untuk jalur yang mulai terjal dari situ. Menunggu cukup lama, dua kawan sependakian mempersilahkan saya untuk jalan duluan. Entah kenapa, saya iyakan saja.

Alhasil dari situ saya berjalan sendirian menembus gelap malam. Dari Pos 1 ke Pos dua jalur memang terjal, bebatuan dengan kemiringan hampir 70 derajat, maka tidak jarang tangan harus ikut membantu memudahkan pendakian. Tidak sadar atau terlalu asyik berjalan, dua kawan pendaki tertinggal jauh di belakang. Anggap saja saya egois, namun sepertinya mereka agak enggan bersama saya. Mungkin perasaan saya saja.

Sampai di Pos 3, beristirahat sebentar, saya langsung melanjutkan ke Puncak 1 Guntur, hari sudah mulai terang. Matahari sudah keluar dari peraduannya.

Berjalan pelan-pelan dari sisi sebelah kanan yang tidak terlalu berpasir, saya benar-benar menikmati pendakian kala itu. Tidak terasa, puncak 1 kian dekat dan tidak seberat pada pendakian sebelumnya. Kurang lebih hanya dua jam saja, saya sudah sampai di Puncak 1. Tenaga masih cukup untuk mencapai puncak selanjutnya. Tapi saya putuskan untuk berhenti cukup lama, beristirahat, sarapan pagi, dan menikmati pemandangan sekitar yang sungguh menawan mata. Nikmat sekali.

Saat hendak menuju Puncak 2, saya berjumpa lagi dengan dua kawan pendaki yang bersama saya dari bawah. Tampaknya mereka juga hendak ke Puncak 2. Santai saja kami berjalan, berfoto-foto dan menikmati pemandangan sekitar. Kami berjalan dari sisi sebelah kiri, di samping kawah Gunung Guntur yang sudah tidak aktif lagi.

Puncak yang Lain
Kurang lebih setengah jam perjalanan kami sampai di Puncak 2. Dari situ saya kaget karena ternyata Puncak 2 bukanlah puncak tertinggi Gunung Guntur walau di situ ada tugu triangulasi. Agak sedikit jauh terlihat jalur yang jelas untuk menuju Puncak 3. Sial. Sepertinya saya harus mengulangi mendaki gunung ini lagi.

Sedikit menjengkelkan bagi saya jika mendaki gunung namun belum sampai ke puncak tertinggi yang bisa dicapai secara aman. Bagi saya itu artinya harus diulang lagi. Mengingat saya saat itu sendirian, okelah, kali itu cukup Puncak 2 saja seperti target semula.
 
Jalur Turun yang Berkabut.

Menuju Puncak 2 Guntur.

Lereng Guntur.

Menuju Puncak 1 Guntur.

Puncak 2 Guntur.

Pose dengan Latar Puncak 3 Guntur.

Berfoto-foto dan beristirahat sejenak, saya langsung turun ke bawah dari sisi sebelah kanan saat naik yang berpasir. Lebih cepat turun lewat jalur berpasir karena kita bisa berjalan seperti ketika menggunakan sepatu roda. Itulah kenapa dari Puncak satu ke Pos 3 juga saya memilih melewati jalur pasir di sisi kiri (saat naik ke puncak) karena lebih cepat. Di sisi lain juga mengingatkan mendaki Gunung Semeru, ah, nostalgik sekali.

Sampai jumpa lagi Guntur, saya pastikan akan ke sini lagi lain waktu! Stay safe, clean, and fun climbing. Dm 6 Januari 2019.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...