| Tugu Triangulasi. |
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya saya naik gunung sendirian. Sebelumnya saya selalu berpegang naik gunung jangan sendirian karena tidak aman, gunung bukanlah tempat berwisata. Kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita di atas sana. Biasanya memang saya selalu berdua atau bertiga. Saya berani memutuskan naik gunung sendiri karena sudah pernah tahu jalurnya, gunungnya selalu ramai di akhir pekan, dan berdoa saya bertemu teman baru di pendakian ini.
Sebenarnya
saya mengajak Juan, pendaki asli Garut yang tempo hari mengantar saya mendaki
Guntur dan sukses nyasar ke gunung sebelah, namun karena dadakan, Juan karena
satu dan lain hal tidak bisa menemani. Sudah kepalang tanggung ingin naik
Guntur lagi, saya memberanikan diri berangkat sendirian dari Jakarta. Sampai di
Pom Bensin Tanjung sudah pukul sepuluh malam. Agak kemalaman memang.
Sampai di
basecamp, tidak yang seperti saya harapkan ternyata sepi pendaki. Tanya penjaga
yang keheranan saya sendirian saja, beberapa rombongan pendaki sudah naik tadi
sore sampai petang. Berharap ada pendaki yang berniat sama seperti saya, saya
tunggu beberapa saat di basecamp sambil packing ulang barang bawaan. Tidak
banyak sebenarnya, karena kali ini juga saya berniat tek tok saja.
Setelah
menunggu lama, akhirnya datang dua pendaki yang juga dari Jakarta. PDKT, sok
kenal, saya mencoba mengajak ngobrol dan mencoba bergabung untuk naik ke atas.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Akhirnya saya mendapatkan teman mendaki untuk ke
atas.
Sendirian ke Puncak
Dari
basecamp ke Pos 1 kami masih berjalan bersama, ritme berjalan mereka cukup
cepat. Untungnya kaki saya yang sudah menua ini masih sanggup mengikuti. Sampai
di warung-warung terakhir sebelum tanjakan, persis di air terjun, kami berhenti
cukup lama. Menyiapkan tenaga untuk jalur yang mulai terjal dari situ. Menunggu
cukup lama, dua kawan sependakian mempersilahkan saya untuk jalan duluan. Entah
kenapa, saya iyakan saja.
Alhasil dari
situ saya berjalan sendirian menembus gelap malam. Dari Pos 1 ke Pos dua jalur
memang terjal, bebatuan dengan kemiringan hampir 70 derajat, maka tidak jarang
tangan harus ikut membantu memudahkan pendakian. Tidak sadar atau terlalu asyik
berjalan, dua kawan pendaki tertinggal jauh di belakang. Anggap saja saya
egois, namun sepertinya mereka agak enggan bersama saya. Mungkin perasaan saya
saja.
Sampai di
Pos 3, beristirahat sebentar, saya langsung melanjutkan ke Puncak 1 Guntur,
hari sudah mulai terang. Matahari sudah keluar dari peraduannya.
Berjalan
pelan-pelan dari sisi sebelah kanan yang tidak terlalu berpasir, saya
benar-benar menikmati pendakian kala itu. Tidak terasa, puncak 1 kian dekat dan
tidak seberat pada pendakian sebelumnya. Kurang lebih hanya dua jam saja, saya
sudah sampai di Puncak 1. Tenaga masih cukup untuk mencapai puncak selanjutnya.
Tapi saya putuskan untuk berhenti cukup lama, beristirahat, sarapan pagi, dan
menikmati pemandangan sekitar yang sungguh menawan mata. Nikmat sekali.
Saat hendak
menuju Puncak 2, saya berjumpa lagi dengan dua kawan pendaki yang bersama saya
dari bawah. Tampaknya mereka juga hendak ke Puncak 2. Santai saja kami
berjalan, berfoto-foto dan menikmati pemandangan sekitar. Kami berjalan dari
sisi sebelah kiri, di samping kawah Gunung Guntur yang sudah tidak aktif lagi.
Puncak yang Lain
Kurang lebih
setengah jam perjalanan kami sampai di Puncak 2. Dari situ saya kaget karena
ternyata Puncak 2 bukanlah puncak tertinggi Gunung Guntur walau di situ ada
tugu triangulasi. Agak sedikit jauh terlihat jalur yang jelas untuk menuju
Puncak 3. Sial. Sepertinya saya harus mengulangi mendaki gunung ini lagi.
Sedikit
menjengkelkan bagi saya jika mendaki gunung namun belum sampai ke puncak
tertinggi yang bisa dicapai secara aman. Bagi saya itu artinya harus diulang
lagi. Mengingat saya saat itu sendirian, okelah, kali itu cukup Puncak 2 saja
seperti target semula.
![]() |
| Menuju Puncak 2 Guntur. |
![]() |
| Lereng Guntur. |
![]() |
| Menuju Puncak 1 Guntur. |
| Puncak 2 Guntur. |
| Pose dengan Latar Puncak 3 Guntur. |
Berfoto-foto
dan beristirahat sejenak, saya langsung turun ke bawah dari sisi sebelah kanan
saat naik yang berpasir. Lebih cepat turun lewat jalur berpasir karena kita
bisa berjalan seperti ketika menggunakan sepatu roda. Itulah kenapa dari Puncak
satu ke Pos 3 juga saya memilih melewati jalur pasir di sisi kiri (saat naik ke
puncak) karena lebih cepat. Di sisi lain juga mengingatkan mendaki Gunung
Semeru, ah, nostalgik sekali.
Sampai jumpa
lagi Guntur, saya pastikan akan ke sini lagi lain waktu! Stay safe, clean, and
fun climbing. Dm 6 Januari 2019.



No comments:
Post a Comment