Munara, Gunung Keramat dari Rumpin

Momen tahun baru memang seksi sekali untuk dijadikan waktu melakukan pendakian gunung. Melihat matahari tenggelam terakhir di tahun ini atau matahari terbit pertama di tahun baru dari puncak gunung tentu momen yang indah untuk dikenang, tentunya caption yang bagus saat posting foto di Instagram, hehe..

Matahari Terbit Terakhir di 2017.
Dulu mungkin masih nikmat, namun sekarang ini sudah tidak nikmat lagi. Di samping cuaca yang seringnya badai karena pada puncak musim penghujan, di sisi lain banyaknya pendaki yang mempunyai pemikiran demikian menjadikan gunung penuh bak pasar malam. Harus kuat bermacet-macet ria saat pendakian ke atas. Hal itulah kenapa saya memilih Gunung Munara, gunung kecil di Bogor yang tidak begitu terkenal untuk melihat matahari terbit terakhir di tahun 2017.


Selain ramai oleh pendaki, banyak juga yang naik gunung ini untuk berziarah karena memang bagi warga sekitar gunung ini dikeramatkan. Mitosnya gunung ini adalah lokasi si Mang Kabayan, lelaki dari tanah pasundan yang cukup terkenal akan kecerdikannya melakukan pertapaan. Di samping itu juga ada petilasan Gadogan Kuda yang mana adalah tempat persinggahan Sultan Maulana Hasanudin. Disebut Gadogan Kuda karena dulu ceritanya lokasi itu digunakan untuk mengikat kuda si Sultan.

Berangkat ke Basecampa naik Grab
Ya, saya melakukan pendakian pada tanggal 30 Desember malam untuk melihat matahari terbit yang terakhir di tahun itu. Gunung dengan tinggi cuma 1.119 mdpl (ada yang bilang cuma 300 mdpl) ini cukup mudah didaki. Sebagian karena puncaknya yang tidak begitu tinggi, di sisi lain karena adanya petilasan di sana sehingga jalurnya sudah tertata rapi dan jelas.

Terletak di Desa Kampung Sawah, Rumpin, Bogor, gunung satu ini cukup mudah diakses. Walau terletak di Bogor, namun kala itu saya menuju ke sana dari Serpong, Tangerang Selatan karena tampaknya lebih dekat dari situ. Setelah ketemuan dengan teman-teman lama di Serpong, saya berdua dengan teman kantor lama menuju ke sana dengan aplikasi Grab, hehe..

Pada siang hari ada lumayan banyak angkot yang lewat, namun pada malam hari sudah tidak beroperasi lagi, sehingga mencarter mobil dengan aplikasi Grab adalah pilhan yang murah dan efisien. Hanya mengandalkan GPS, kami menuju ke sana saat dini hari. Siap-siap pasang lampu yang terang karena jalur Serpong-Parung penuh dengan lubang-lubang besar, jelek sekali jalannya.

Dengan mengandalkan GPS dan tanya ke orang beberapa kali (untungnya masih ada yang bangun di jam satu pagi itu), kami sampai juga di Basecamp Pendakian Gunung Munara. Ramai tempatnya, banyak pendaki dan peziarah yang menitipkan kendaraan di basecamp. Langsung saja kami melakukan pendaftaran dan repacking barang bawaan.

Banyak Warung
Tidak perlu khawatir kelaparan dan tersesat di gunung satu ini. Jalur pendakian yang jelas dan banyaknya warung yang berjualan di beberapa titik jalur pendakian menjadikan pendakian kian mudah. Lapar atau haus, tinggal mampir ke warung. Capek butuh duduk, tinggal mampir ke warung. Di puncaknya pun ada warung yang berjualan. Wisata!

Sebenaranya untuk menggapai puncak Munara tidak memerlukan waktu yang lama, prediksi saya cukup membutuhkan waktu satu jam saja. Namun berhubung rekan pendakian saya sudah lama bahkan hampir tidak pernah naik gunung, kami harus beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan beristirahat. Sampai pada akhirnya dia sudah tidak kuat lagi dan memutuskan untuk menunggu di warung pada pertengahan jalur.

Sayang sekali, padahal sudah tidak jauh lagi. Namun, kondisi tiap orang tentu berbeda-beda dan tidak baik untuk memaksakan diri jika sudah benar-benar tidak mampu. Merasa teman saya sudah baikan, saya tinggalkan dia di salah satu warung dengan penjual yang ramah sekali.

Puncak Gunung Munara biasa saja, yang unik yakni adanya kursi-kursi kayu untuk menikmati matahari terbit yang nyaman sekali. Untung saja saat itu tidak begitu ramai sehingga saya bisa bersantai sejenak menikmati terbitnya matahari terakhir di tahun 2017. Sayang sekali teman saya tidak bisa ikut menikmat indahnya matahari pagi itu.

Hal unik lain dari Gunung Munara adalah Puncak Batu Belah yang cukup menantang demi sampai ke puncaknya. Untuk ke atas, kita harus meniti seutas tali setinggi kurang lebih 10 meter. Asyik sekali karena benar-benar harus meniti tali dan mencari jalur di punggungan Batu Belah yang hampir vertikal tersebut.

Dari Puncak Batu Belah kita dapat melihat pemandangan sekitar tanpa halangan namun berbeda dengan puncak satunya, di sini lokasi puncaknya cukup sempit, cuma dapat menampung kurang lebih sepuluh orang saja.
 
Puncak Munara.

Jalur Pendakian.

Batu Belah.

Situs Gadogan Kuda.

Situs Goa di Gadogan Kuda.

Jalur Pendakian.

Parkiran Basecamp.

Gerbang Gunung Munara.

Mendaki Batu Belah.

Gantungan Kunci KSR Undip.

Papan Penunjuk Jalan.

Pada perjalanan pulang, kami putuskan untuk naik angkot menuju Bogor. Dari Basecamp menuju jalan raya Serpong-Parung, harus ditempuh dengan berjalan kaki yang lumayan jauh, sekitar satu setengah kilometer. Lumayan menguras tenaga. Walau pendek, pendakian gunung satu ini cukup berkesan bagi saya. Sampai jumpa lagi Munara. Stay safe, clean, and fun climbing. Dm 1 Januari 2019.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...