Sisi Lain Pantai G-Land

Tiga jejaka berbadan tegak dan dua dara berparas cantik dibalut bikini hitam berjalan melewati saya. Dengan tubuh tinggi dan rambut kemerahan khas ras kaukasoid, kelima pemuda tersebut  menenteng papan selancar yang besar dengan entengnya. Di sudut lain sepasang kekasih yang saya tebak berasal dari Australia jika mendengar logatnya, asyik duduk berdua mengobrol di pinggir pantai. Saya yang berpostur pendek rambut hitam khas ras Melayu ini serasa menjadi orang asing saja, padahal saat itu saya sedang berdiri di tanah Jawa, tepatnya di Pantai G-Land, Taman Nasional Alas Purwo.

Orang Ndarung.
 Seorang teman pernah bilang kalau ombak di G-Land itu tertinggi nomer dua setelah Hawai, entah benar atau tidak yang jelas mayoritas wisatawan kesini memang untuk berselancar, berburu ombak setinggi 6 meter. Karena tidak bisa dan tidak berminat berselancar kala itu, saya memutuskan menyusuri pantai sampai kaki lelah melangkah.

Surfer di Pantai G-Land.
Ketika hendak pulang, terlihat seperti sebuah jalan mirip gua yang terbentuk dari rimbunnya pohon bambu. Pikir saya, kenapa tidak? Saya pun menyusuri jalan tersebut. Ternyata di ujung satunya saya menjumpai sebuah “perkampungan” kecil dengan gubuk-gubuk kecil berbentuk setengah lingkaran di bawah rindang pohon bambu, inilah tempat tinggal Orang Ndarung.

Pintu Masuk ke Perkampungan Ndarung.
Suasana “perkampungan” itu membawa saya kembali ke masa kecil dulu. Kala saya dan teman-teman gemar membuat jalanan buatan dari seserakan dedaunan yang tebal di kebun belakang rumah lengkap dengan pom bensin dan rumah-rumahan. Di “perkampungan” tersebut juga sama, ada semacam jalan-jalan kecil dibawah rindangnya pohom bambu. Cuma bedanya “rumah” Orang Ndarung ini dibuat semi permanen berbentuk setengah lingkaran mirip tenda darurat ICRC.

Ketika kami berdua datang, mereka dengan ramah menawari kami untuk beristirahat sejenak sambil menyantap singkong rebus. Tanpa malu-malu kami pun langsung mengiyakan tawaran mereka dan melahap singkong rebusnya, hehe.. Melalui singkong rebus ini, rasa penasaran ini sedikit demi sedikit mencair. Mereka menjawab rasa ingin tahu kami dengan lugas dan ramah.

Tempat Tinggal Kaum Ndarung.
Jaring Kaum Ndarung.
Kata darung sendiri secara harfiah berarti mencari hasil laut, karena itulah mereka mendapat julukan Wong Ndarung (wong: orang). Orang-orang ini bisa tinggal seminggu atau lebih di sini, tergantung hasil tangkapan dan seminggu lagi di rumah asli mereka di pinggiran hutan Alas Purwo, salah satunya yaitu Desa Kutoharjo. Ndarung telah menjadi sumber mata pencaharian mereka.

Mungkin mereka bisa disamakan dengan para commuter di ibukota yang berangkat pagi dari daerah luar Jakarta dan malam pulang lagi ke rumah. Bedanya mereka berpergian untuk jangka waktu seminggu. Jika mereka tidak kesini, maka mereka tidak bisa membelikan baju baru bagi anaknya. Saat itu cuma 8-10 orang yang sedang ndarung di sini. Tetapi ketika mendekati lebaran, satu desa bisa pindah ke sini. “Nek duwe sawah mah ora mrene aku mas.”,  (Kalau punya sawah saya tidak kesini mas) kata salah satu dari mereka dengan pilu.

Untuk ndarung mereka harus membawa bekal sendiri dari rumah, jadi persediaan bekal juga menentukan bisa berapa lama mereka di sini. Sedangkan air minum bisa didapatkan di Pantai Pancur yang berjarak 9 kilo dari G-Land atau homestay sebelah yang berjarak kurang lebih setengah kilo.

Jungle Taxi Pantai G-Land.
Segala jenis ikan, cumi-cumi, dan bahkan lobster dapat mereka peroleh dapatkan di sini. Untuk lobster sendiri banyak ditemukan pada bulan 8-9 tiap tahunnya dimana seekornya dapat dihargai 150 ribu rupiah, murah sekali. Gara-gara asyik ngobrol, tak terasa sudah hampir 3 jam kami di sini, ngobrol ngalor-ngidul  dan menikmati suasana tempat tinggal kaum Ndarung ini. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi cerita dengan mereka, jauh di dalam hutan Alas Purwo. (dm 03.07.13)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...