| Orang Ndarung. |
| Surfer di Pantai G-Land. |
Ketika
hendak pulang, terlihat seperti sebuah jalan mirip gua yang terbentuk dari
rimbunnya pohon bambu. Pikir saya, kenapa tidak? Saya pun menyusuri jalan
tersebut. Ternyata di ujung satunya saya menjumpai sebuah “perkampungan” kecil
dengan gubuk-gubuk kecil berbentuk setengah lingkaran di bawah rindang pohon
bambu, inilah tempat tinggal Orang Ndarung.
| Pintu Masuk ke Perkampungan Ndarung. |
Suasana
“perkampungan” itu membawa saya kembali ke masa kecil dulu. Kala saya dan
teman-teman gemar membuat jalanan buatan dari seserakan dedaunan yang tebal di
kebun belakang rumah lengkap dengan pom bensin dan rumah-rumahan. Di
“perkampungan” tersebut juga sama, ada semacam jalan-jalan kecil dibawah
rindangnya pohom bambu. Cuma bedanya “rumah” Orang Ndarung ini dibuat semi
permanen berbentuk setengah lingkaran mirip tenda darurat ICRC.
Ketika kami
berdua datang, mereka dengan ramah menawari kami untuk beristirahat sejenak
sambil menyantap singkong rebus. Tanpa malu-malu kami pun langsung mengiyakan
tawaran mereka dan melahap singkong rebusnya, hehe.. Melalui singkong rebus
ini, rasa penasaran ini sedikit demi sedikit mencair. Mereka menjawab rasa
ingin tahu kami dengan lugas dan ramah.
| Tempat Tinggal Kaum Ndarung. |
| Jaring Kaum Ndarung. |
Kata darung
sendiri secara harfiah berarti mencari hasil laut, karena itulah mereka
mendapat julukan Wong Ndarung (wong: orang). Orang-orang ini bisa tinggal
seminggu atau lebih di sini, tergantung hasil tangkapan dan seminggu lagi di
rumah asli mereka di pinggiran hutan Alas Purwo, salah satunya yaitu Desa
Kutoharjo. Ndarung telah menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Mungkin
mereka bisa disamakan dengan para commuter di ibukota yang berangkat pagi dari
daerah luar Jakarta dan malam pulang lagi ke rumah. Bedanya mereka berpergian
untuk jangka waktu seminggu. Jika mereka tidak kesini, maka mereka tidak bisa
membelikan baju baru bagi anaknya. Saat itu cuma 8-10 orang yang sedang ndarung
di sini. Tetapi ketika mendekati lebaran, satu desa bisa pindah ke sini. “Nek
duwe sawah mah ora mrene aku mas.”, (Kalau punya sawah saya tidak kesini mas) kata
salah satu dari mereka dengan pilu.
Untuk
ndarung mereka harus membawa bekal sendiri dari rumah, jadi persediaan bekal
juga menentukan bisa berapa lama mereka di sini. Sedangkan air minum bisa
didapatkan di Pantai Pancur yang berjarak 9 kilo dari G-Land atau homestay
sebelah yang berjarak kurang lebih setengah kilo.
| Jungle Taxi Pantai G-Land. |
Segala jenis ikan, cumi-cumi, dan bahkan lobster
dapat mereka peroleh dapatkan di sini. Untuk lobster sendiri banyak ditemukan
pada bulan 8-9 tiap tahunnya dimana seekornya dapat dihargai 150 ribu rupiah,
murah sekali. Gara-gara asyik ngobrol, tak terasa sudah hampir 3 jam kami di
sini, ngobrol ngalor-ngidul dan menikmati suasana tempat tinggal kaum
Ndarung ini. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi cerita dengan mereka, jauh
di dalam hutan Alas Purwo. (dm 03.07.13)
No comments:
Post a Comment