Orang Luwuk
menyebut pantai itu dengan nama Kilo Lima. Cukup berkendara kurang lebih lima
menit dari pusat kota, kita sudah dapat menikmati keindahan pantai ini.
Pantainya pun terletak persis di sepanjang jalan utama Luwuk-Toili. Di
sepanjang bibir pantai banyak warung berjualan pisang goreng, jagung rebus, dan
kelapa muda.
Asyik Menikmati Keindahan Terumbu Karang
Hal pertama
yang membuatku sangat terkesan akan pantai ini adalah kejernihan airnya. Ketika
pertama kali berkunjung, tanpa pikir panjang aku langsug menceburkan diri ke
laut. Asyik sekali berenang di pantai sejernih ini. Agak sedikit ke tengah,
kurang lebih sepuluh meter dari bibir pantai, terdapat hal kedua yang membuatku
makin terheran-heran lagi. Tak kusangka di pantai pinggiran kota, aku bisa menyaksikan
terumbu karang yang masih apik, tidak terinjak-injak, dan cukup bervariasi.
| Jernihnya Air Pantai Kilo Lima. |
| Asyik Berenang dengan Pelampung Ban Bekas. |
Jika kawan tidak
memakai peralatan selam atau snorkeling,
memang agak susah jika ingin menikmati terumbu karang. Tetapi tidak perlu
kuatir, hal tersebut tidak berlaku di Kilo Lima. Jangan banyangkan pantai
dengan ombak yang bergulung-gulung. Pantai Kilo Lima hampir tidak berombak, sehingga
kita seperti berenang di kolam renang dengan terumbu karang yang indah di
dasarnya.Oleh karena itu, cukup gunakan pelampung ban bekas yang banyak
disewakan di pinggiran pantai.
Asyik sekali
berdiam diri di ban bekas sambil menikmati keindahan terumbu karang dengan
ikan-ikan yang bersliweran tanpa perlu menyelam. Air laut yang jernih
memungkinkan hal tersebut. Syaratnya cuma satu, jangan banyak bergerak sehingga
menimbulkan riak di permukaan. Andai saja aku mempunyai kamera underwater untuk mengabadikan keindahan
terumbu karang ini.
Mie Goreng [Pakai] Kuah
Setelah
asyik berenang, perut menjadi lapar. Entah berapa pisang goreng yang kusantap
untuk mengisi perut yang keroncongan. Uniknya, Orang Luwuk menyajikan pisang
goreng dengan sambal. Ya, dengan sambal untuk makanan manis seperti pisang
goreng! Penasaran, kucoba juga mengoleskan pisang goreng ke sambal. Errgghhh… gak enak! Maklum, lidah Jawa tulen,
hehe…
| Warung di Pinggir Pantai. |
| Pisang Goreng dengan Sambal. |
Tak lama,
seorang teman menawari mie goreng. Karena masih lapar, langsung saja aku pesan
mie kuah. Pikirku, tentu lebih enak menyantap mie yang berkuah panas dari pada
mie goreng. Maklum, badan menjadi sedikit kedinginan gara-gara kelamaan
berenang.
Ketika
pesanan sudah datang, aku sedikit curiga dengan penampakannnya. Disamping
kuahnya sedikit, wujudnya pun tidak seperti mie kuah pada umumnya, lebih mirip
mie goreng. Dan benar saja, saat mie gak
jelas tersebut bertemu lidah, baru ketauan kalau itu sebenarnya mie goreng.
Sebagai penggemar mie instan kelas berat, tentu tak sulit membedakan mana mie
kuah dan mana mie goreng.
“Bos, ini
kok rasanya kayak mie goreng?”, tanyaku ke teman yang memesan tadi.
“Memang mie
goreng.”, jawabnya tanpa dosa.
“Loh, kan
aku pesen mie kuah.”
“La iya, itu
mie goreng pakai kuah. Kan tadi aku nawarinnya mie goreng. Trus kamu bilang
pakai kuah. Ya kupesenin mie goreng
pakai kuah.”, jawabnya sambil ketawa keras tampak puas sekali.
“Ergghhh….
-_____-”
| Kota Luwuk di Malam Hari. |
Emang, teman
sekaligus bosku ini kocak orangnya. Yah, karena lapar, habis juga itu mie
goreng-pakai-kuah. Lumayan enak juga, hehe…
Haha memang pantai yang luar biasa... lama2 kangen juga sama luwuk, tapi tenaang.. masih ada satu project lagi disana... so we'll be back on stage again... hehe...
ReplyDeleteeits... tapi saya ndak di sini lagi kan? #ngarepsambildoatujuhmalam
Delete