| Jalur Pendakian Merbabu. |
Selo adalah
sebuah desa yang terletak persis di tengah-tengah Gunung Merbabu dan Merapi. Ke
kiri Merapi, ke kanan Merbabu. Setelah mengurus perizinan di basecamp yang
tidak jauh dari jalan raya dan re-packing, maka saatnya menyiksa kedua kaki
dengan rute Selo yang terkenal curam itu.
Hanya berdua
dan hanya sedikit membawa barang bawaan membuat kami berjalan santai tetapi
cepat. Pos demi pos kami lewati dengan enaknya. Kalau di Merbabu banyak
tersedia sumber air, mungkin kami bakal berjalan lebih cepat karena berat
bawaan bisa berkurang hampir separuh. Tak terasa juga sampailah kami ke Pos 3
Batu Tulis. Dari sinilah tanjakan sebenarnya dimulai. Dari sinilah kita perlu
ekstra hati-hati.
Dengan
kemiringan antara 45-70 derajat membuat tangan harus ikut andil. Andrenalin pun
makin terpacu pada beberapa bagian yang rawan longsor. Di jalur inilah aku hampir
menemui ajal. Jadi ceritanya ketika sudah mulai jenuh melewati jalur yang
menanjak terus, tiba-tiba terlihat di sebelah kanan terdapat jalur yang lumayan
landai. Bekas jalan dan bentuk jalan yang jelas benar-benar menggoda imanku.
| Edelweis Merbabu. |
Pada saat
itulah tiba-tiba kaki terpeleset. Jantung serasa mau copot, langsung terpikir
bakal terjungkal ke bawah!
Untungnya
tangan kanan masih memegang ilalang kering. Hanya pada ilalang kering itulah
saat itu nyawa ini tertambat. Langsung saja tangan kiri menggapai apapun yang
ada di sekitar dan kedua kaki mencari-cari yang bisa dipijak. Kejadian tersebut
memang hanya berlangsung selama tidak lebih dari 5 detik, tetapi rasanya
seperti berjam-jam. Setelah merasa aman, kuputuskan untuk istirahat cukup lama.
Bukan mengistirahatkan kaki, tetapi lebih mengistirahatkan jantung, hehe…
| Gunung Sumbing dari Merbabu. |
Kebetulan,
hanya kami berdua pendaki yang bertenda di Savana 1 sehingga banyak pilihan
tempat yang tersedia. Setelah tenda berdiri dan semua beres, saatnya santap
malam. Menu kami malam itu cukup istimewa: Ayam bakar utuh seorang satu, oseng
sayuran, dan krupuk serta secangkir kopi panas. Nikmat sekali. Kejadian tadi
sore membuatku makin bersyukur masih
dapat menikmati hidangan selezat ini.
Keesokan
harinya kuteruskan mencapai puncak. Cuaca yang bersahabat tanpa kabut menyambut
kedatanganku di puncak. Matahari pun tanpak malu-malu keluar pagi itu. Terima
kasih Tuhan aku masih dapat menghirup udara pagi lagi. Pesan berharga yang
kuperoleh pada pendakian kali ini yakni: Ikuti jalur yang sudah ada, tak
selamanya yang landai itu enak. Keep
safe, clean, and fun climbing. (dm 040913)
periksa masa kadaluarsa makanan yg kita beli
ReplyDeletehahaha,... betul om. :)
Delete