| Ruffy dan Shank Berpose Bersama. |
Di samping
itu, ketika hari sudah berganti malam, kita dapat memuaskan nafsu kuliner masakan
Jawa yang gurih dan manis. Silahkan datang ke emperan Mall Blok M, tepatnya di
Pintu Berlian, di situ banyak berjejer warung lesehan yang menyajikan gudek
lengkap dengan krecek serta menu khas Jawa lainnya. Harganya pun ramah di
kantong. Karena hal inilah, emperan Blok M menjadi semacam basecamp bagiku dan
teman-teman untuk bertemu. Ngobrol
ngalur-ngidul sambil membahas trip perjalanan selanjutnya sampai dini hari,
asyik sekali. :D
![]() |
| Makan di Lesehan Blok M. |
| Festival Kebudayaan Jepang. |
Kembali ke
cerita Little Tokyo. Menariknya, berkat suasana gang-gang pertokoan yang mirip
dengan ibukota negara matahari terbit tersebut, di sini sering diadakan
festival kebudayaan Jepang. Beruntung aku berkesempatan mengikuti salah
satunya.
Di festival
tersebut, fantasi kita akan kehidupan dan kebudayaan akan Jepang dapat sedikit
terobati. Bagi yang suka manga dan anime, banyak dijual figure action tokoh idaman. Acara cost play dan pertunjukan band J-Pop
maupun J-Rock pun tak ketinggalan.
Untuk penggemar kuliner, banyak pilihan menu khas Jepang yang dapat kita
nikmati. Sebut saja dorayaki, takoyaki, mocha, dan tentunya ramen.
| Penjaja Takoyaki. |
| Matsuri. |
Persis di
emperan Blok M, berdiri sebuah panggung yang di dalamnya terdapat sebuah
genderang yang lumayan besar atau bedug menurut istilah kita. Nantinya
genderang tersebut akan diarak keliling ‘kota’ sambil ditabuh dengan penuh
semangat sesuai rangkaian acara matsuri.
Matsuri menurut
ajaran agama Shinto berarti upacara persembahan dari kami. Tetapi seiring waktu
festival ini juga diadakan oleh penganut Budha dan, bahkan, diadakan tanpa ada
hubungan dengan agama sekalipun.
Ada juga
stan yang memperkenalkan sumo yakni olahraga nomer satu di negeri asal samurai
tersebut. Stan lain menjual pernak-pernik yang khas dengan harga bervariasi.
Sayangnya, setelah memutari semua stan, ternyata tidak ada stan yang
mengenalkan sejarah Jepang di jaman keshogunan. Padahal sudah gatal lidah ini
ingin berdikusi dengan warga Jepang tentang betapa hebatnya Musashi sang ronin
legendaris, Oda si Bodoh Besar, Togugawa yang penyabar, atau si Monyet
Hideyoshi.
Untuk
menikmati malam itu, tak lupa aku mampir di stan penjual mie ramen. Setelah
memilih menu yang tanpa daging babi, aku memesan semangkuk. Ternyata, rasanya
berbeda sekali seperti yang kubayangkan selama ini. Keras dan tajam. Tidak
cocok dengan lidah Jawaku ini.
| Suasana Blok M. |
| Mie Ramen. |

No comments:
Post a Comment