Sebagai
seseorang yang hobi memacu kendaraan beroda dua, aku sering meluangkan waktu di
akhir pekan untuk menyusuri jalanan. Tak terkecuali ketika kebetulan sedang
berada di Luwuk. Jalanan yang membentang di sepanjang pesisir salah satu ujung
Pulau Sulawesi tentu sayang untuk dilewatkan. Target berkendara kali ini yakni
sampai ke Pulau Dua, Balantak, ujung timurnya Sulawesi Tengah.
 |
| Jalan Menuju Pagimana. |
Beruntung,
saat berada di sini aku mempunyai seorang sahabat yang juga doyan menyusur jalanan dengan motor roda
dua. Lebih mantap lagi, sahabatku ini memilih Kawasaki Ninja sebagai
tunggangannya. Jadilah kami seharian menyusur jalanan yang berliku dan menanjak
dengan motor besar itu. Rencana kami hari itu yakni menempuh rute dari
Batui-Luwuk-Balantak-Bualemo-Salodik-Luwuk-Batui. Belakangan cek di google.maps kami menempuh jarak 428 km.
Jarak yang sama seperti Jakarta-Semarang.
Batui – Balantak
Sebagai
start dari perjalanan kali ini saya memulai dari Batui, sebuah kecamatan kecil
yang terletak di jalur trans Sulawesi. Batui pada jaman dahulu kala sejatinya
adalah sebuah kerajaan kecil yang bedampingan dengan Kerajaan Banggai. Di sini
juga terdapat penangkaran burung Maleo yang kini di ambang kepunahan.
 |
| Jalan ke Balantak (1) |
 |
| Jalan ke Balantak (2). |
 |
| Kampung Nelayan. |
Tujuan kami
pagi itu yakni Pulau Dua, Balantak. Jika dilihat di peta, Balantak terletak di
salah satu ujung semenanjung Pulau Sulawesi. Dari Batui kami harus menuju ke
Luwuk terlebih dahulu (55 km). Luwuk sebagai pusat pemerintahan Kabupaten
Banggai terlihat seperti kota yang sedang berkembang. Perlu diperhatikan,
sangat jarang bahkan hampir tidak ada pom bensin di luar Luwuk untuk berkendara
di daerah ini.
Jalur
Luwuk-Balantak (143 km) masih dapat dibilang bagus. Walau di sana-sini terdapat
lubang dan beberapa potong jalan masih belum diaspal. Di sepanjang jalan kita
akan disuguhi perkampungan nelayan, perkebunan sawit, hutan, dan rawa-rawa.
Menurut orang sini, hati-hati, masih banyak buaya yang suka melintasi jalan
pada malam hari.
 |
| Papan Gerbang Rumah. |
 |
| Rumah di Balantak. |
 |
| Pulau Dua. |
 |
| Nelayan Pantai Pulau Dua. |
Setelah
menempuh kurang lebih 4 jam dari Batui, pukul dua belas siang sampai juga kami
di Pulau Dua. Disebut Pulau Dua karena dari pinggir pantai terlihat dua buah
pulau yang berdekatan. Uniknya, di kedua pulau tersebut pada bagian atasnya
hanya ditumbuhi rerumputan. Indah sekali.
Balantak – Luwuk
Ingin
mencoba jalur yang berbeda, kami sedikit memutar pada perjalanan pulang dari
Balantak. Rute yang kami tempuh saat itu yakni:
Balantak-Bualemo-Pagimana-Salodik-Luwuk (174 km). Pada jalur ini pemandangan
akan sedikit bervariasi dengan adanya padang sabana yang di dalamnya banyak
terdapat sapi liar. Di Bualemo jalur menjadi datar dan panjang dengan
pemandangan Gunung Topotika di sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanan kita
masih akan disuguhi lautan lepas yang biru jernih.
 |
| Jalan di Bualemo. |
 |
| Gunung Topotika. |
 |
| Teluk Sulwesi. |
 |
| Tunggangan Kami. (doc. Rifai) |
Keluar dari
Bualemo, jalur kembali bergunung-gunung. Terutama pada jalur ke arah Pagimana,
kita akan menyisir terluk dengan jalur yang aduhai. Sudah berliku-liku, naik
turun, penuh dengan lubang pula. Hanya hutan di sebelah kanan dan laut di kiri.
Pada beberapa ruas jalan terlihat masih dalam tahap perbaikan, sehingga cuma
berupa batu kerikil dan lumpur. Asoy
sekali, kawan!
Dari
Balantak pukul tiga sore, baru empat jam kemudian kami bisa mencapai Salodik.
Dari Salodik jalur sudah mulus mengingat merupakan jalur utama untuk trans
Sulawesi Luwuk-Palu. Untuk menyusuri Ujung Sulawesi ini kami membutuhkan waktu
seharian. Seharian yang menyenangkan. :) (dm 120613)
No comments:
Post a Comment