Setelah puas
menikmati keindahan alam di asal muasal Orang Batak, hari kedua saya rencanakan
untuk menikmati sedikit kenyamanan di Tuktuk. Seperti banyak daerah wisata lain
yang ramai dikunjungi turis mancanegara biasanya terdapat satu kawasan, lumrahnya
berupa jalan, yang kanan kirinya banyak terdapat hotel dan tempat makan/minum,
di Danau Toba Tuktuklah tempatnya.
| Air Terjun Sipiso-piso. |
Sepintas
Tuktuk mirip dengan Kuta di Bali atau Prawirotaman di Jogya, namun dalam skala
yang lebih kecil. Banyak terdapat hotel di kanan kiri jalan, baik sebuah kamar
yang mirip kosan sampai hotel mewah yang menghadap langsung ke Danau Toba.
Banyak pula terdapat tempat makan yang menawarkan menu andalan seperti pizza
dan lasagna. Pub pun tidak ketinggalan meriahkan kawasan Tuktuk di malam hari.
Karena saya dari Pangururan, saya naik angkot menuju Tomok, dari jalan ‘besar’ Tomok – Pangururan, kita harus berhenti di pertigaan yang tidak jauh dari Tomok. Apes, tidak ada angkutan dari pertigaan tersebut ke dalam sehingga mau tidak mau saya mengayunkan kaki kurang lebih satu kilo jauhnya. Lumayan jalan sore sehabis pagi tadi nanjak ke Pusuk Buhit. Jalan aspal yang saya lewati dalam kondisi yang baik, kanan kiri terdapat rindang pepohonan dan tidak lupa makam bertingkat khas orang Batak.
Karena memang
tidak mempunyai jadwal yang pasti, saya belum memesan hotel di Tuktuk. Berbekal
info dari internet, saya singgahi hotel yang kira-kira low budget tapi
menghadap langsung ke danau. Setelah dua kali masuk ke loby hotel, pilihan saya
jatuhkan di Hotel Carolina. Dengan harga tiga ratusan, saya mendapat satu kamar
yang langsung menghadap pantai. Kamarnya pun lumayan bersih walau tidak ada air
panas. Penting sekali kamar hotel menghadap danau, soalnya sudah berencana
menikmati sore membaca novel sambil menikmati keindahan Danau Toba di kala
petang. Ah.. sedap tentunya...
Di Tuktuk
banyak persewaan sepeda ataupun sepeda motor, sempat terbersit keinginan untuk
rental sepeda sambil menjelajah keindahan Pulau Samosir, namun sekali lagi
karena saya tidak mempunyai rencana yang pasti, niat rental sepeda saya
urungkan. Lihat besok pagi hendak kemana kaki melangkah. #lebay
Menikmati
malam di Tuktuk, saya sedikit berjalan-jalan sambil melihat toko-toko
cinderamata yang banyak menjamur. Sekalian juga menentukan tempat makan mana
yang hendak saya singgahi. Mungkin karena saat itu bulan puasa, sehinggga
Tuktuk tampak tidak begitu ramai, kebanyakan turis-turis asing daripada turis
dalam negeri.
Akhirnya ke Sipiso-piso
Ya, akhirnya
pagi itu saya putuskan untuk mampir ke Sipiso-piso berkat informasi teman
blogger yang cantic jelita, Lintang (dinilintangsari.blogspot.co.id). Rutenya
pun saya sesuaikan dengan perjalanan dia kala itu. Kebetulan lain, dia juga
ternyata menginap di Hotel Carolina, what a coincidence!
Untuk menuju
Sipiso-piso, saya harus melewati rute yang berbeda ketika datang kemarin via
Tomok. Rute yang dipakai Lintang yakni: Hotel Carolina – Pangururan – Menara
Tele – Simpang Tiga Merek – Sipiso-piso – Taman Alam Lumbini (Pagoda) – Medan.
Bedanya, Menara Tele saya skip karena sudah menikmati keindahan Danau Toba dari
ketinggian Pusuk Buhit.
Meski
kelihatannya mudah, namun saya harus bolak-bolak moda angkutan sepanjang jalan.
Dari hotel saya naik ojek ke Simpang Tomok untuk lanjut kembali lagi ke
Pangururan dengan angkot! Dari Pangururan sambung dengan mobil elf Raja Napogos
menuju Simpang Merek. Perjalanan ‘keluar’dari kawah Gunung Raksasa Toba
benar-benar nikmat sekali. Kita akan disuguhi pemandangan yang indah sekaligus
ngeri-ngeri sedap membayangkan mobil yang ditumpangi terperosok ke jurang.
Setelah keluar
dari kawah raksasa, perjalanan hanya monoton dataran tandus luas Tanah Karo. Seperti
berpindah ke negeri entah berantah setelah disuguhi keindahan Pulau Samosir. Sebenarnya
elf ini langsung menuju Medan, namun saya turun di Simpang Merek untuk dilanjut
naik bentor ke Air Terjun Sipiso-piso. Dengan ketinggian 120 meter, dibutuhkan
ekstra tenaga dan waktu untuk sampai ke dasarnya yang mana tidak saya punyai
saat itu, petang itu juga saya harus sudah tiba di bandara. Sehingga cukuplah
memuaskan diri sampai ke pertengahan tangga menuju dasarnya saja.
Puas
menikmati keindahannya, kembali saya naik bentor yang sudah saya sewa untuk
perjalanan pulang pergi karena tidak ada bentor yang mangkal di situ
(untunglah). Dari Simpang Merek saya ambil angkot ke arah Berastagi, turun di
pertigaan yang entah apa namanya itu untuk dilanjut ke angkot ke arah Taman
Alam Lumbini. Btw, Berastagi lumayan dingin, pemandangannya pun mirip dengan
Bandungan atau Lembang.
Kurang
beruntung, sedang ada acara peribadatan di dalam Pagoda sehingga bagi pengujung
yang tidak hendak beribadah dilarang masuk. Yah, namanya juga berwisata di
tempat ibadah, kita harus tetap menghormati dan mematuhi pemakai tempat ibadah
tersebut. Kucukupkan dengan berjalan-jalan di sekitaran pagoga dan taman yang
ada di situ.
Pulang ke
jalur utama dari pagoda lumayan susah, jalan memang tidak begitu jauh mungkin
ada dua kilo dan angkot terakhir katanya sudah lewat. Pasang muka gedek, saya
minta izin ke mobil pick up untuk nebeng di bak belakang sampai ke jalan utama.
Hahaha… senang rasanya bisa merasakan keasyikan jalan-jalan seperti ini.
Moda terakhir
yang saya pakai ke Medan yakni mobil elf semi bus tiga perempat yang selalu
penuh sesak dan si sopir selalu teriak ‘kosong.. kosong..’, ternyata ucapan itu
untuk merujuk atap elf yang juga difungsikan sebagai tempat duduk. Alamak,
belum ada keberanian untuk ikut duduk di sana, terpaksalah berdesakan di dalam
elf yang sudah sesak. Berdiri di sebelah pintu berpegangan sekenanya.
| Bersantai.. |
| Membaca Novel. |
| Simpang Tiga Menuju Tuktuk. |
| Hotel Carolina. |
| Berbagai Moda yang Saya Naiki. |
| Hehe.. Mejeng. |
| Pagoda Taman Alam Lumbini. |
| Menikmati Keindahan dari Luar. |
| Berani? |
Dengan lama
perjalanan kurang lebih dua jam melewati jalur naik turun yang aduhai
(bagaimana dengan penumpang yang di atas ya?), pukul lima sore saya sampai di
Medan. Lanjut dengan grabbike ke Stasiun Medan dan naik raillink ke bandara,
saya mengakhiri solotrip kali ini. Sampai jumpa lagi Samosir, lain kali
sepertinya hanya ingin bersantai di Tuktuk barang dua tiga hari. (dm 9
September 2017)
No comments:
Post a Comment