Memacu Andrenalin di Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Saya hitung, sudah dua kali berkesempatan menginjakan kaki di Kota Balikpapan dan dua kali pula tidak sempat menjelajah di kotanya atau tempat menarik di sekitarnya. Sayang sekali, pikir saya, sehingga pas ketiga kali saya ke sana, saya niatkan betul untuk mencoba menjelajah sedikit keindahan alamnya. Memang tidak banyak tempat yang menarik minat saya, kebanyakan adalah pantai yang terlihat biasa saja di mata saya. Yah, memang pada dasarnya saya tidak begitu suka dengan pantai, hehe..

Bangkirai Canopy Bridge.
Keluarlah foto jembatan kanopi yang menarik mata saya, Bangkirai Canopy Bridge namanya. Sekitar dua atau tiga jam dari pusat kota, tidak terlalu jauh. Teringat pula dulu sempat dipameri foto wisata Bukit Bangkirai oleh teman saat di Banjarmasin, makin menguatkan untuk pergi ke sana. Utak-atik jadwal kerjaan di Balikpapan dan ketebalan dompet, hari kedua di Balikpapan akhirnya saya berangkat juga Kawasan Wisata Bukit Bangkirai.

Dengan mencarter mobil taksi langganan teman saya, selasa siang saya menuju Bangkirai, yakni ke melewati jalan raya ke arah Samarinda. Kebanyakan jalannya lurus dan datar, kas jalan di Pulau Kalimantan. Ketika baru saja keluar dari kota, kanan kiri jalan banyak sekali tempat makan dengan nama daerah dari Pulau Jawa seperti: Wonogiri, Semarang, Lumajang, Madiun, Jogya, dan lain sebagainya. Ohya, saya memutuskan mencarter karena terbatasnya waktu dan tiadanya akses ke dalam lokasi wisata yang masih masuk jauh ke dalam dari jalan raya.

Kira-kira setelah satu jam berkendara di jalan raya, kami berbelok ke kiri di pertigaan arah Samboja. Dari sini jalan aspal mulai berkurang kualitasnya, tampak di sana-sini mulai berkelupas. Hampir tidak menjumpai rumah penduduk, digantikan hutan dan perkebunan. Setelah setengah jam berkendara kami melewati jalur hauling truk pengangkut batu bara, rupanya di dekat sini terdapat tambang batu bara. Pastikan jalan sedang tidak ada hauling truck melintas, truk besar dengan kecepatan tinggi tentu sangat berbahaya.

Tidak lama, kita akan menjumpai gapura Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai yang artinya sudah masuk ke dalam kawasan wisata. Saya ke sana saat hari kerja sehingga tidak begitu ramai, malahan hanya ada dua pengujung selain saya. Itupun saat saya datang mereka hendak pulang, hmm.. perasaan mulai terasa tidak enak.

Saking sepinya, saat saya datang, petugas tiket juga tidak siap sedia di tempat, rupanya sedang beristirahat di tempat lain. Tidak aneh memang. Namun saya berharap ada petugas yang selalu siap sedia di canopy bridge, tujuan utama saya hari itu. Seram juga membayangkan melewati jembatan kayu di ketinggian 20 meter lebih hanya sendirian tanpa satupun orang lain. “Nanti tunjukan tiket ini ke petugas yang jaga di canopy bridge, ya, Pak.”, ucapan mbak penjaga tiket yang langsung membuat saya lega.

Untuk menuju Pohon Bangkirai tempat jembatan kanopi dibuat, kita harus berjalan kurang lebih 500 meter. Lumayan jauh memang, dan di sepanjang jalan kita dapat menikmati kicauan burung dan rimbunnya pepohonan. Nikmat sekali rasanya. Yah, walau agak sedikit horor karena saat itu hanya saya sendirian yang berjalan di sana.

Sesampai di lokasi, saya kaget sekali karena ternyata petugas jaga yang dijanjikan mbak penjaga loket tidak ada di tempat. Entah sedang beristirahat atau kabur ke mana. Sempat gamang juga ketika mau naik, tapi okelah, siapa tau beliau menunggu di atas. Saya pun mulai manapaki tangga kayu naik ke atas. Tangga yang seakan tidak ada habis-habisnya yang saya duga dibuat dari kayu ulin yang terkenal kuat itu.

Sesampai di atas, masih tidak terlihat penjaga yang bertugas mengarahkan atau mengawasi pengunjung. Tidak ada satupun orang. Ragu-ragu dan takut hendak menginjakan kaki di canopy bridge yang hanya ditopang wirestring jauh di atas tanah. Beberapa kali hendak turun ke bawah lagi. Beberapa kali mikir kembali, saying sekali sudah jauh-jauh datang tetapi tidak mencoba.

Argghh… hidup hanya sekali, saya pun memberanikan diri melewati canopy bridge sendirian. Yakin dengan hasil perhitungan para teknisi yang sudah membuatnya.

Rasanya lega luar biasa ketika sudah berhasil lewat satu jembatan, sialnya tangga turun hanya ada di awal dan ujung jembatan yang artinya minimal saya harus melewati minimal 3 jembatan! Lupa sudah hendak selfie di tengah jembatan, hehe..

Setelah asyik berfoto di atas (bukan di tengah jembatan tentunya), saya turun dengan perasaan kagum. Kagum dengan kekuatan desainnya dan keindahan alam sekitar. Sayang sekali saya hanya sendirian kala itu, tidak ada teman yang bisa diajak bercerita atau bergantian memoto ketika di tengah jembatan, teuteup…
 
Jalur Hauling Truck.

Tiket Masuk.

Pose di Gapura Selamat Datang.

Ukiran.

Jalan Setapak.

Papan Penunjuk Jalan.

Tangga Turun.

Canopy Bridge #3.

Tangga Naik.

Awas!

Semut.

Trek II.


Secara keseluruhan, Kawasan Wisata Alam Bukit Bangkirai dapat dikatakan terawat. Terlihat bersih dan banyak papan penunjuk jalan yang sangat membantu pengujung. Selain Canopy Bridge, di sini juga banyak kegiatan lain yang dapat kita lakukan seperti beraneka outbond game, jungle trekking, atau mengarungi sungai dengan kano. Sepertinya memang di sini sering digunakan untuk kegiatan outdoor, baik itu instansi pemerintah, perusahaan, atau sekolah. Asyik memang tempatnya, ingin rasanya lain kali mencoba jungle trekking di sini. (dm 13 September 2017)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...