Seperti
kedua gunung lain yang saya daki di Provinsi Sumatera Barat, pendakian Gunung
Talang juga saya lakukan di sela-sela kunjungan pekerjaan ke Padang. Itulah
kenapa pendakian tidak bisa dilakukan berlama-lama, hanya berangkat pagi dan
sore sudah kembali di bawah. Kebetulan juga gunung-gunung di sini tidak
membutuhkan waktu lama untuk sampai ke atas.
![]() |
| Bagai di Tengah Salju. |
Bagi saya, dibutuhkan waktu empat setengah jam untuk sampai ke puncak gunung 2597 mdpl ini, tiga jam untuk sampai ke lokasi ‘camp’ dan satu setengah ke puncak. Bagi yang sudah pernah mendaki Gunung Merapi di Jawa Tengah, tidak perlu heran karena jalurnya mirip sekali yakni jalur pendakian tanah bebatuan biasa disambung Camp yang sangat mirip Pasar Bubrah baru jalur puncak. Asyiknya lagi, di puncak terdapat Hutan Mati yang mirip dengan Hutan Matinya Papandayan.
Gunung Talang sendiri berada di Kabupaten Solok yang berjarak kurang lebih dua jam dari Kota Padang, cukup dekat untuk perjalanan satu hari. Namun sayangnya informasi atau papan penunjuk jalan menuju basecamp pendakian belum terpapang dengan jelas.
Sempat kami
terlewat dan beberapa kali menanyakan arah ke bapak-bapak baik hati. Patokan yang
kami ingat, ketika sudah terlihat Gunung Talang, sebelum ketemu Danau Atas Bawah,
sebelum padang ilalang terlewati, belok kiri di SMP 4, kemudian tanyalah agar
tidak tersesat.
Sebelum
memasuki kebun teh, terdapat pos kecil untuk lapor dan membayar biaya
seikhlasnya. Biasanya di sini tempat untuk menitipkan sepeda motor, namun
sebenarnya jalur pendakian masih dapat dilalui sepeda motor bahkan kendaraan
beroda empat. Hanya saja di dekat pintu rimba, tempat di mana dua tiga warung
untuk melepas lelah, tidak terdapat tempat untuk parkir. Dari Pos Lapor sampai
ke Pintu Rimba cukup ditempuh dalam sepuluh menit dengan roda dua, mungkin
sekitar setengah jam jika harus berjalan kaki.
Jalur Perpaduan Gunung Merapi dan
Papandayan
Setelah warung
di pintu rimba, jalur pendakian berupa jalan tanah yang lumayan lebar kemudian
berganti dengan jalan setapak yang licin. Jalur lumayan menanjak namun tidak
berbatu-batu, hanya akar pohon yang enak untuk dijadikan pijakan mengingat
jalur akan menjadi licin setelah turun hujan.
Dengan kaki
dan perut saya, dibutuhkan tiga jam untuk menuju lokasi berkemah atau oleh
pendaki setempat disebut Camp. Bentuk kontur dari bawah, kemudian sampai di
Camp, dan dilanjut menuju Puncak sangat mirip dengan kontur Gunung Merapi di
Jawa Tengah. Camp ini dapat disamakan dengan Pasar Bubrah yang memang menjadi
tempat berkemah sebelum menuju Puncak Merapi.
Hati-hati! Jalur dari Camp ke Puncak
sangat terjal, pada beberapa sisi hanya berupa tebing tanah tanpa tempat berpegangan,
tanpa pohon atau bebatuan. Bagi saya pribadi, sempat senam jantung untuk
meneruskan melangkah ke Puncak. Tidak ada pegangan, hanya pijakan yang terjal. Harus
yakin, tidak boleh ragu-ragu untuk terus melangkah.
Pada tanjakan
terjal terkahir sebelum jalur berubah landai, sempat saya bingung karena tidak
menemukan pijakan yang mantap untuk terus. Mendaki di hari kerja, membuat
gunung terasa sepi dan nikmat untuk didaki namun bingung juga ketika sendirian
saat itu. Panik, mulailah saya memanggil teman di depan untuk meminta tolong
ditarik ke atas. Sepertinya teman saya sudah jauh di depan, turun ragu, naik
pun ragu. Memantapkan hati dan tidak banyak berpikir, entah bagaimana saya
pijakan juga kaki ke depan. Agak lebay memang, tapi itulah yang saat itu saya
rasakan, hehe..
Setelah tanjakan
berakhir, kita akan menjumpai Hutan Matinya Gunung Talang. Walau tidak berada
di area yang luas, namun mirip dengan Hutan Matinya Gunung Papandayan di Jawa
Barat. Pada sisi kiri Puncak, di sela-sela Hutan Mati dapat kita jumpai ilalang
yang tumbuh subur namun begitu mendekati area kawah yang terus-terus
mengeluarkan asap belerang, kita akan melihat Hutan Mati yang bagai diselimuti
salju, indah sekali.
Ohya, ketika
mendaki ke Puncak, sekali-kali tengoklah ke belakang untuk melihat pemandangan
yang khas Gunung Talang: Danau Talang, Danau Atas, dan Danau Bawah. Disebut
Danau Atas karena memang permukaan airnya lebih tinggi daripada Danau Bawah
yang terletak memang di bawahnya, hehe..
Asyik berfoto
dan menikmati Puncak, kami segera turun karena matahari tepat bersinar di atas
ubun-ubun (yang menyebabkan beberapa hari kemudian saya mengalami sunburn, hiks..). Butuh waktu hampir
empat jam untuk turun ke pintu rimba dari Puncak Talang.
| Warung di Pintu Rimba. |
| Jalur Tanah. |
| Gunung Talang, |
![]() |
| Hehe.. Nebeng Foto. |
![]() |
| Hutan Mati di Puncak. |
![]() |
| Tiga Danau di Kejauhan. |
![]() |
| Puncak Gunung Talang. |
![]() |
| Kebun Teh. |
![]() |
| Hutan Mati Talang. |
Mengenai masalah
air, di Camp terdapat sungai kecil yang mengalir namun tetap lebih aman jika
membawa sendiri air dari bawah. Belum sempat mencicipi, namun di pinggiran sungai
kecil tersebut terdapat jejak belerang walau sedikit. Bagi yang ingin tetap
eksis dan tersambung ke kantor untuk urusan kerja (#curhat) tidak perlu kwatir
karena sampai puncak signal masih dapat diakses dengan cukup mudah.
Pukul empat
sore kami sampai kembali di Pintu Rimba, beristirahat sejenak sambil minum teh
panas dan meluruskan kaki yang pegal-pegal di warung. Ah nikmatnya kabur
sebentar untuk naik Gunung... (dm 18 Februari 2017)







No comments:
Post a Comment