Bagi saya,
Kebumen adalah kabupaten kecil di pesisir pantai selatan Jawa yang biasa saja.
Tidak pernah sekalipun terlintas untuk mengkhususkan menjadikan kabupaten ini
sebagai destinasi wisata. Yah, di samping jarak yang lumayan jauh, waktu cuti
juga terbatas. Maklum, karyawan kantoran yang kudu kejar setoran, hehe..
![]() |
| Benteng Merah. |
Oleh karena
itu, ketika ada jeda di tugas kantor di Cilacap, langsung saja merencanakan
untuk singgah di Kabupaten yang sudah berdiri sejak 1677 ini. Melihat beberapa
postingan instagram teman, tempat yang paling ingin kusinggahin adalah Benteng
Van Der Wijck dan Pantai Menganti. Memang tidak salah pilih, kedua tempat ini
memiliki landscape yang sayang untuk dilewatkan.
Sebenarnya masih banyak tempat menarik lainnya yang dapat kita kunjungi di Kebumen, seperti Pantai ayah dan deretan ‘pantai baru’ dari Pantai Logending sampai Karang Bolong yang menawarkan beragam spot foto yang tentunya instagramable banget. Ada juga Waduk Sempor di Gombong dan beragam destinasi lainnya. Karena terbatasnya waktu, hanya kedua tempat itu saja tujuan kami, tentunya agar dapat lebih menikmati dan tidak hanya cuma numpang foto dan kejar setoran seabrek tempat wisata.
Pantai Menganti
Berjarak
kurang lebih satu jam dari pusat kota, pantai satu ini menawarkan keindahan
yang tidak kalah dengan pantai di Gunung Kidul bahkan Bali. Saya sempat
terkesan dengan pengelolaan yang baik, mulai dari pengaturan tempat parkir,
adanya ‘shuttle pick up’ gratis untuk mengantar ke spot utama, dan penataan
tempat wisata yang apik.
Jalan untuk
menuju ke sini juga sudah cukup baik, sempat khawatir juga saat teman saya
mengaku beberapa tahun silam sempat kesusahan untuk menuju ke sini dengan roda
dua. Bahkan sempat terjatuh dari sepeda motor karena kondisi jalan yang jelek,
apalagi kalau dengan kendaraan roda empat ya? Tetapi kekhawatiran kami
tampaknya tidak beralasan karena akses sudah bagus sampai bibir pantai.
Terdapat
banyak titik wisata yang dapat dikunjungi dengan papan navigasi yang sudah
cukup jelas. Pada salah satu titik di bawah Mercusuar, dibangun gubuk-gubuk
kecil yang berdiri di tebing yang lumayan terjal. Gubuk itu disewakan dengan
harga sepuluh ribu rupiah per sekali pakai, asyik sekali buat bercengkarama
dengan kekasih sambil memandang lautan lepas Samudra Hindia.
Lapar ingin
bersantap ikan bakar? Atau mungkin haus setelah asyik menikmati keindahan
pantai? Jangan khawatir, banyak warung yang menjajakan seafood dan es kelapa
muda di sini. Harganya pun masih lumayan terjangkau. Cuma sayang, shuttle bus
untuk kembali ke tempat parkir mobil tidak berada pada titik yang sama dengan
saat menurunkan pengunjung, kami harus berjalan sekitar dua ratus meter
menuruni turunan yang lumayan curam yang sepertinya sengaja dibuat begitu agar
melewati deretan warung makan. Hmm…
Benteng Van der Wijck
Tujuan kedua
kami yakni benteng peninggalan pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Benteng Van
Der Wijck. Sudah sejak lama saya tertarik mengunjungi tempat satu ini ketika
melihat postingan teman di Instagram dan beberapa lembar foto perjalanan
jelajah Pantai Selatan Jawa. Terlihat unik dengan warna merah terangnya.
Benteng tua
ini sangat dekat dari pusat pemerintahan Kabupaten Kebumen yang sekarang. Yah,
karena dulu tentunya sempat menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda, tentunya
berada di lokasi yang strategis. Dengan kendaraan, paling lama lima belas menit
sudah sampai.
Walau hari
minggu, Benteng satu ini terlihat tidak begitu ramai dikunjungi. Dan setelah
melihat harga tiket, baru kutahu alasannya: harga tiket dua puluh lima ribu
rupiah (2016) tentunya terlalu mahal untuk sebuah benteng tua. Memang harga
tersebut sudah termasuk area kolam renang dan kereta atas benteng. Namun
alangkah bijaknya jika kedua area tersebut dapat dibuat dalam tiket yang
terpisah, karena tidak semua orang hendak bermain air ataupun naik kereta atas
benteng yang hanya dinaiki selama lima menit paling lama.
Memang
benar, benteng satu ini memiliki desain yang masih terjaga sekali keutuhannya.
Menarik sekali menikmat setiap sudutnya yang masih otentik. Oleh karena itu,
tidak heran jika beberapa adegan laga seperti RAID 2 menggunakan Benteng Van
der Wijck sebagai salah satu lokasi di filmnya. Di salah satu ruangan, terdapat
beberapa foto proses pembuatan film tersebut.
![]() |
| Kaki Kusam. |
![]() |
| Pantai Menganti. |
![]() |
| Karcis Masuk Pantai Menganti. |
![]() |
| Puncak Mercusuar. |
![]() |
| Tanjung Karangbata. |
![]() |
| Area Tunggu Shuttle Pick Up Truck. |
![]() |
| Tiket Masuk Benteng Van der Wijck. |
![]() |
| Benteng Van der Wijck. |
![]() |
| Narsis Berjamaah. |
![]() |
| Turun... |
![]() |
| Berlabuh... |
![]() |
| Tanjung Karangbata. |
Setelah puas
menikmati keindahan benteng dan berfoto dengan gaya alay, tidak terasa waktu
sudah menunjukan pukul dua belas siang, sudah saatnya memberi makan
cacing-cacing kelaparan di dalam perut. Setelah beradu argumen hendak makan apa
(seperti biasa, pasti bingung mau makan apa?) kami memutuskan untuk makan Soto
Purbalingga yang berarti 45 km dari Kebumen melewati Waduk Sempor. Fuih…
Sampai
bertemu lagi Kebumen. (dm 25 November 2016)














No comments:
Post a Comment