Amboinya Bukit Country

“Mas, ada yang mau ke Country neh, berangkat siang ini, mau ikutan ndak?”, pesan singkat yang masuk ke handphone pagi itu. Pesan yang sudah lama kutunggu-tunggu, sudah lama ingin menjejakan kaki di Country yang katanya mempunyai pemandangan yang aduhai. Padahal, hari itu sudah janjian dengan teman akan pergi ke Banggai Laut. Namun setelah menimang-nimang lagi, rute ke Country lumayan jauh, harus berjalan kaki (katanya) sampai empat jam, ke Banggai Laut dapat kulakukan kapan saja dengan kapal laut. Hmm.. Let’s hike, then!
 
Perjalanan Pulang Lewat Tombang.
Menurut info dari Wawan, ada temannya yang akan kemping di Country dan akan berangkat siang atau sore dari Luwuk. Walau belum kenal dengan teman jalan, tidak masalah, bukan sekali ini jala-jalan atau naik gunung dengan teman yang belum dikenal sebelumnya. Hobi jalan-jalan mengajarkan kita banyak hal dalam mengenal satu sama lain dengan baik. Tidak ingin membuat teman perjalanan menunggu, kupacu kendaraan agar sampai tepat waktu.

Tepat pukul tiga kami sampai di rumah Irvan, junior Wawan di komunitas pencinta alamnya. Ternyata Irvan sedang packing dan masih menunggu teman yang lain. Sambil menghabiskan waktu, kami menikmati teh hangat yang disuguhkan sembari ngobrol dan bercanda. Hampir setengah jam berlalu belum tampak batang hidung orang yang ditunggu-tunggu, kuputuskan untuk membeli logistik terlebih dahulu. Jangan sampai sudah lama menunggu, masih ditambah lagi harus mencari logistik, bisa-bisa harus berjalan di malam hari.

Tepat pukul lima sore, saya dan Ardi sudah standby di Bunga, sebutan untuk pos Dishub di persimpangan jalur provinsi ke arah Palu dan Balantak. Tiga puluh menit berlalu, belum ada tanda-tanda kemunculan si Irvan. Tiga puluh menit lagi berlalu, masih sama, ada hasrat untuk balik kanan dan mengejar kapal ke Banggai Laut seperti rencana kami berdua semula. Hmm... “Tiga puluh menit lagi belum datang juga, fix balik badan ke Pelabuhan Luwuk!”, ucapku yang diiyakan juga oleh Ardi.

Tepat pukul setengah enam, akhirnya datang juga si Irvan. Namun bukanya dengan ‘teman yang lain’, dia datang dengan ‘sepasukan teman yang lain’. Ternyata, si Irvan sedang mengantar pecinta alam-pecinta alam cilik ke Country. Kurang lebih ada dua belas anak SMA yang sebagian besar perempuan berkendara ramai-ramai saling berboncengan. Dan kami berdua akan ikut bersama mereka. Oke... let see how it is going.

Berjalan di bawah Rembulan
Untuk menuju Country, kita dapat melalui dua jalur yang umum dipakai yakni Salodik dan Desa Tombang, Pagimana. Salodik yang membutuhkan waktu lebih lama namun berkontur landai dan Tombang yang lebih pendek tetapi terjal dan mendaki. Tinggal dipilih sesuai selera, dan selera kami jatuh pada Salodik. Selepas menitipkan sepeda motor di warung terakhir pinggir jalan di Salodik arah Pagimana, pukul tujuh malam kami mulai berjalan dalam gelap malam. Ohya, di Salodik banyak menjual sayuran dari ladang sekitar, masih segar dan murah harganya.

Harus kuakui, perjalanan malam kala itu indah sekali. Melewati padang sabana dari yang setinggi lutut sampai leher terasa asyik sekali. “Mirip di film Jurasic Park yang terakhir”, kata Ardi. Walau malam hari, namun pemandangan sekitar dapat terlihat dengan jelas berkat pancaran sinar rembulan yang mendekati purnama. Karena dengan mudah dapat melihat jalan, senter pun kumatikan. Di kiri-kanan terdapat bukit-bukit ilalang membentang sampai sejauh mata memandang. Indah sekali.

Ternyata, pukul sembilan malam kami sudah sampai di lokasi untuk bertenda. Cuma dua jam jalan kaki, dari yang katanya sampai empat jam. Hmm.. terkadang memang info dari orang Luwuk ini suka sedikit hiperbolis, hehe.. Lokasi bertenda kami malam itu diantara rimbunnya pepohonan dengan sebuah sungai kecil yang mengalir di antaranya. Airnya jernih dan tidak begitu deras. Namun yang membuat kaget, olala, ternyata seperti pasar malam saja, ramai sekali dengan muda-mudi Luwuk yang ingin bermalam mingguan di Country. Sudah hampir tidak ada lagi tempat untuk mendirikan tenda.

Setelah santap malam, pukul sebelas malam, rupa-rupanya hanya saya saja yang berniat untuk tidur. Teman-teman seperjalanan dan tenda di kiri-kanan tetap terjaga, ngobrol dan bernyanyi-nyanyi sepanjang malam sampai pagi. Terlalu lelah karena malam sebelumnya tidak tidur, walau tenda sebelah teriak-teriak sambil genjreng-genjreng, tidurku cukup lelap. Tidur malam saat berkemah sangat penting, terutama besok pagi harus summit attact.

Puncak Country
Sebenarnya tempat ini disebut Bukit Lambuyan, namun orang Luwuk lebih mengenalnya dengan sebutan Country. Katanya, pada awalnya para pecinta alam yang pertama kali ke sini semuanya membawa rokok merek country, alhasil sejak itu disebut Country. Entah benar atau tidak. Dari tempat bertenda ke puncak membutuhkan waktu hanya tiga puluh menit. Dekat.

Dari puncak, walau tidak bisa menikmati lautan awan seperti di gunung pada umumnya, namun kita akan disuguhi pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Di sebelah utara kita dapat menikmati Teluk Poh dan lautan yang membentang luas. Sebelah timur, puncak gunung Tompotika dapat kita lihat dengan jelas, berdiri kokoh di kejauhan. Di sebelah barat masih ada puncak bukit Cidaha, dan di selatan ada padang sabana dan hutan. Di puncak Country kita akan menjumpai banyak anggrek yang berwarna merah muda dan putih. Sedap...

Tak lama, mentari terbit dari timur memancarkan semburat keemasan, menambah keindahan pagi itu. Sinarnya yang menghangatkan tubuhku makin membuat hati ini terasa damai. Betah berlama-lama hanya duduk menikmati apa yang disuguhkan oleh Maha Pencipta. Saking betahnya, kami berdua menjadi rombongan yang paling terakhir meninggalkan puncak, hehe..
 
Menuju Puncak Country.

Matahari Terbit dari Country.

Penampakan Bukit Cidaha.

Anggrek Liar.

Teluk Poh.

Tas Millet Merah, Teman Perjalanan.

Di Puncak Country.
Sesampai di tenda, langsung saja membuat roti bakar untuk sarapan dan menikmati agar-agar yang sudah kubuat dari semalam. Pukul setengah sebelas kuputuskan untuk pulang bersama rombongan lain karena harus mengejar waktu pulang ke Batui, sementara Irvan dan teman-temannya rencana pulang sore. Asyiknya lagi, rombongan pulang ini memilih jalur Tombang karena lebih dekat, alhasil bisa menikmati Country dengan dua jalur yang berbeda sekaligus. Time to go home! (dm 7 Febuari 2015)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...