Menurut info dari Wawan, ada temannya yang
akan kemping di Country dan akan berangkat siang atau sore dari Luwuk. Walau
belum kenal dengan teman jalan, tidak masalah, bukan sekali ini jala-jalan atau
naik gunung dengan teman yang belum dikenal sebelumnya. Hobi jalan-jalan
mengajarkan kita banyak hal dalam mengenal satu sama lain dengan baik. Tidak
ingin membuat teman perjalanan menunggu, kupacu kendaraan agar sampai tepat
waktu.
Tepat pukul tiga kami sampai di rumah
Irvan, junior Wawan di komunitas pencinta alamnya. Ternyata Irvan sedang packing dan masih menunggu teman yang
lain. Sambil menghabiskan waktu, kami menikmati teh hangat yang disuguhkan
sembari ngobrol dan bercanda. Hampir setengah jam berlalu belum tampak batang
hidung orang yang ditunggu-tunggu, kuputuskan untuk membeli logistik terlebih
dahulu. Jangan sampai sudah lama menunggu, masih ditambah lagi harus mencari
logistik, bisa-bisa harus berjalan di malam hari.
Tepat pukul lima sore, saya dan Ardi sudah
standby di Bunga, sebutan untuk pos
Dishub di persimpangan jalur provinsi ke arah Palu dan Balantak. Tiga puluh
menit berlalu, belum ada tanda-tanda kemunculan si Irvan. Tiga puluh menit lagi
berlalu, masih sama, ada hasrat untuk balik kanan dan mengejar kapal ke Banggai
Laut seperti rencana kami berdua semula. Hmm... “Tiga puluh menit lagi belum
datang juga, fix balik badan ke
Pelabuhan Luwuk!”, ucapku yang diiyakan juga oleh Ardi.
Tepat pukul setengah enam, akhirnya datang
juga si Irvan. Namun bukanya dengan ‘teman yang lain’, dia datang dengan
‘sepasukan teman yang lain’. Ternyata, si Irvan sedang mengantar pecinta
alam-pecinta alam cilik ke Country. Kurang lebih ada dua belas anak SMA yang
sebagian besar perempuan berkendara ramai-ramai saling berboncengan. Dan kami
berdua akan ikut bersama mereka. Oke... let
see how it is going.
Berjalan di bawah Rembulan
Untuk menuju Country, kita dapat melalui
dua jalur yang umum dipakai yakni Salodik dan Desa Tombang, Pagimana. Salodik
yang membutuhkan waktu lebih lama namun berkontur landai dan Tombang yang lebih
pendek tetapi terjal dan mendaki. Tinggal dipilih sesuai selera, dan selera
kami jatuh pada Salodik. Selepas menitipkan sepeda motor di warung terakhir
pinggir jalan di Salodik arah Pagimana, pukul tujuh malam kami mulai berjalan
dalam gelap malam. Ohya, di Salodik banyak menjual sayuran dari ladang sekitar,
masih segar dan murah harganya.
Harus kuakui, perjalanan malam kala itu
indah sekali. Melewati padang sabana dari yang setinggi lutut sampai leher
terasa asyik sekali. “Mirip di film Jurasic Park yang terakhir”, kata Ardi. Walau
malam hari, namun pemandangan sekitar dapat terlihat dengan jelas berkat
pancaran sinar rembulan yang mendekati purnama. Karena dengan mudah dapat
melihat jalan, senter pun kumatikan. Di kiri-kanan terdapat bukit-bukit ilalang
membentang sampai sejauh mata memandang. Indah sekali.
Ternyata, pukul sembilan malam kami sudah
sampai di lokasi untuk bertenda. Cuma dua jam jalan kaki, dari yang katanya
sampai empat jam. Hmm.. terkadang memang info dari orang Luwuk ini suka sedikit
hiperbolis, hehe.. Lokasi bertenda kami malam itu diantara rimbunnya pepohonan
dengan sebuah sungai kecil yang mengalir di antaranya. Airnya jernih dan tidak
begitu deras. Namun yang membuat kaget, olala,
ternyata seperti pasar malam saja, ramai sekali dengan muda-mudi Luwuk yang
ingin bermalam mingguan di Country. Sudah hampir tidak ada lagi tempat untuk
mendirikan tenda.
Setelah santap malam, pukul sebelas malam,
rupa-rupanya hanya saya saja yang berniat untuk tidur. Teman-teman seperjalanan
dan tenda di kiri-kanan tetap terjaga, ngobrol dan bernyanyi-nyanyi sepanjang
malam sampai pagi. Terlalu lelah karena malam sebelumnya tidak tidur, walau
tenda sebelah teriak-teriak sambil genjreng-genjreng,
tidurku cukup lelap. Tidur malam saat berkemah sangat penting, terutama besok
pagi harus summit attact.
Puncak Country
Sebenarnya tempat ini disebut Bukit
Lambuyan, namun orang Luwuk lebih mengenalnya dengan sebutan Country. Katanya,
pada awalnya para pecinta alam yang pertama kali ke sini semuanya membawa rokok
merek country, alhasil sejak itu disebut Country. Entah benar atau tidak. Dari
tempat bertenda ke puncak membutuhkan waktu hanya tiga puluh menit. Dekat.
Dari puncak, walau tidak bisa menikmati
lautan awan seperti di gunung pada umumnya, namun kita akan disuguhi
pemandangan yang tidak kalah cantiknya. Di sebelah utara kita dapat menikmati
Teluk Poh dan lautan yang membentang luas. Sebelah timur, puncak gunung
Tompotika dapat kita lihat dengan jelas, berdiri kokoh di kejauhan. Di sebelah
barat masih ada puncak bukit Cidaha, dan di selatan ada padang sabana dan
hutan. Di puncak Country kita akan menjumpai banyak anggrek yang berwarna merah
muda dan putih. Sedap...
Tak lama, mentari terbit dari timur
memancarkan semburat keemasan, menambah keindahan pagi itu. Sinarnya yang
menghangatkan tubuhku makin membuat hati ini terasa damai. Betah berlama-lama
hanya duduk menikmati apa yang disuguhkan oleh Maha Pencipta. Saking betahnya,
kami berdua menjadi rombongan yang paling terakhir meninggalkan puncak, hehe..
![]() |
| Matahari Terbit dari Country. |
![]() |
| Penampakan Bukit Cidaha. |
![]() |
| Anggrek Liar. |
![]() |
| Teluk Poh. |
![]() |
| Tas Millet Merah, Teman Perjalanan. |
![]() |
| Di Puncak Country. |








No comments:
Post a Comment