Sebenarnya, rencana untuk meninggalkan
Pulau Tikus, tempat bermalam kami, akan kami lakukan selepas subuh. Saat
ombak tidak begitu kencang dan matahari sudah keluar dari peraduan. Namun alam
berkehendak lain, pukul sebelas malam cuaca memberikan pertanda bahwa sebentar
lagi akan datang badai. Ireng, teman nelayan saya sudah menyadarinya dari hawa
yang panas karena tidak ada angin dan para nelayan senior lainnya sudah tidak
tampak lagi di sekitar pulau. Benar saja, sejam kemudian saat sudah di tengah
lautan, awan tebal menghampiri Pulau Tikus.
Saya tidak tahu kenapa pulau kecil ini
dinamakan Tikus, sementara saat berada di pulau seharian, tidak satu ekor tikus
pun yang terlihat. Atau mungkin itu dari bahasa Banggai, tanya-tanya tidak ada
yang tahu juga. Pulau Tikus terletak persis di sebelah barat laut dari Pulau
Peling, pulau terbesar di Kabupaten Banggai Kepulauan. Pulaunya kecil, tidak
terlalu besar, hanya sepuluh menit untuk mengelilinginya saat surut dan hampir
setengah jam saat pasang naik. Pulau Tikus tidak berpenghuni, hanya ada burung,
pohon kelapa dan pinus.
Terdapat tiga gubuk tempat nelayan atau
para pemetik kelapa beristirahat, satu di sebelah utara dan dua di sebelah
selatan. Terdapat pula bekas pondasi bangun dan kamar ganti-bilas yang sudah
tidak terpakai lagi. Tampaknya dahulu pulau ini sempat menjadi tempat wisata
bagi warga Banggai. Menurut Ireng, kini yang mengunjungi Pulau Tikus hanya
wisata mancanegara yang hendak melakukan diving
di sekitar pulau. Kadang kala, para ekspatriat dari kilang gas di depan pulau
juga suka berkunjung di akhir pekan.
Hari itu saya diajak teman sekantor,
Natsir dan temannya Ireng untuk ikut memancing ikan di Pulau Tikus. Rencana
kami berangkat minggu pagi dan pulang subuh keesokan harinya agar dapat masuk
kerja. Bekal pun kami hanya membawa beras dengan lauk ikan hasil pancingan,
jadi kalau tidak dapat ikan berarti kami cuma makan nasi tanpa lauk. Kami mulai
melaut pada pukul sepuluh pagi dan sampai di Pulau Tikus dua jam kemudian. Laut
terlihat cukup tenang walau mendung dan kadang sedkit hujan gerimis ikut
menemani.
Mendekati pulau, kami bertemu kawan sesama
nelayan, Ireng rupanya pengertian sekali
dengan suara hati perut saya. Daripada kelamaan harus mancing terlebih dahulu,
yang belum tentu dapat, kami meminta tiga ekor ikan untuk lauk makan siang kepada
teman sedesa Ireng tersebut. Alhasil, setiba di pulau kami langsung berbenah di
gubuk, mencari kayu bakar, dan memasak nasi serta ikan hasil tangkapan (teman).
Walau hanya nasi putih dan ikan bakar tanpa bumbu, namun sedap sekali. Apalagi
ditambah sambal Ireng yang ekstra pedas. Huh
hah.
Kenyang makan siang yang nikmat sekali,
natsir dan Ireng mulai menyiapkan alat pancing dan pergi melaut. Sementara saya
yang tidak begitu berhasrat untuk mancing lebih memilih tinggal di pulau untuk
sedikit jalan-jalan dan tiduran di gubuk sambil membaca buku. Entah kenapa,
membaca buku di tengah alam menjadi kebiasaan saya ketika berpergian. Ini yang
saya sebut dengan bersantai sesantai-santainya. Seperti saat seharian membaca
buku di Danau Segara Anak sementara teman pada asyik memancing ikan.
“Hanya tiga ekor ikan kerapu merah
berukuran dua jari tangan?” Haha.. tawa saya mengejek kedua teman dari Kintom
ini. Ya, itulah hasil tangkapan mereka dari siang sampai menjelang magrib. Arusnya
deras, kilah mereka. Namanya memancing, kadang dapat banyak, kadang sedikit.
Dan di tengah canda tawa itu, kami pun menyadari tiga ekor itu adalah lauk
makan malam kami.
Untungnya, saat menyiapkan api unggun
untuk makan malam, datanglah Pak Ibrahim, bekas guru kedua teman saya ini.
Walau berprofesi sebagai guru, bapak satu ini dengan rutin melakukan hobinya
untuk memancing di akhir pekan. Pak Guru menawarkan hasil tangkapannya untuk
dijadikan lauk. Lima ekor ikan besar-besar dikeluarkan dari boks di perahunya.
Tambahan sambal dabu-dabu yang lezat sekali. Ah, hidup itu memang nikmat.
Selepas makan malam, kami melaut kembali,
memancing ikan dalam gelap malam sampai pagi. Namun, setelah membuang jangkar
yang harus diulang berkali-kali, ternyata arus di bawah permukaan sangat deras,
tidak seperti biasanya. Kail yang dilempar pun selalu terbawa arus. Baru
sejaman di tengah laut, Ireng memutuskan untuk kembali ke pulau dan tidur saja,
percuma karena ikan tidak bakal makan umpan.
Saat itu pukul delapan malam, dan tiga jam
kemudian kami sudah pergi melaut lagi, bukan untuk mancing tetapi pulang
menghindari badai yang akan datang. Perjalanan pulang berjalan lancar walau
memakan waktu satu jam lebih lama. Mungkin karena saat pulang kami tidak
melalui jalur seperti waktu berangkat dengan lurus ke arah kilang gas yang
bercahaya terang bak kapal pesiar raksasa baru kemudian membelok ke Mendono,
Kintom. Membentuk seperti huruf L.
![]() |
| Ikan Berenang Bebas di Karang. |
![]() |
| Gubuk Tempat Kami Bermalam. |
![]() |
| Mempersiapkan Pancing. |
![]() |
| Bekas Pemandian/Ganti Baju. |
![]() |
| Ireng Bersiap Melaut. |
![]() |
| Gubuk di Sisi Selatan. |
![]() |
| Senja di Pulau Tikus. |
Dalam gelap malam yang hanya ditemani taburan bintang di langit kami berlayar dalam diam. Mungkin terlalu lelah atau malas bercakap sambil berteriak demi mengalahkan deru kedua mesin perahu. Dalam hati bersyukur masih bisa menikmati keindahan alam malam itu dengan teman-teman yang baik. (dm 11 Februari 2015)









No comments:
Post a Comment