Melaut ke Pulau Tikus

Berada di bawah lautan bintang saat berada di atas gunung bagi saya sudah biasa, di atas gedung bertingkat, bukit, ataupun pantai pun sudah pernah. Namun baru kali ini pertama kali dapat merasakan di bawah taburan jutaan bintang di langit saat berada di atas perahu nelayan saat tengah malam. Samar-samar dapat melihat pemandangan sekitar, cahaya-cahaya dari pulau di seberang lautan. Di perahu berkapasitas tiga orang ini, saya duduk di paling depan, menerima hempasan angin malam dan deburan ombak yang tidak begitu tinggi. Tedapat sebuah kenikmatan tersendiri.
 
Senja di Pulau Tikus.
Sebenarnya, rencana untuk meninggalkan Pulau Tikus, tempat bermalam kami, akan kami lakukan  selepas subuh. Saat ombak tidak begitu kencang dan matahari sudah keluar dari peraduan. Namun alam berkehendak lain, pukul sebelas malam cuaca memberikan pertanda bahwa sebentar lagi akan datang badai. Ireng, teman nelayan saya sudah menyadarinya dari hawa yang panas karena tidak ada angin dan para nelayan senior lainnya sudah tidak tampak lagi di sekitar pulau. Benar saja, sejam kemudian saat sudah di tengah lautan, awan tebal menghampiri Pulau Tikus.

Saya tidak tahu kenapa pulau kecil ini dinamakan Tikus, sementara saat berada di pulau seharian, tidak satu ekor tikus pun yang terlihat. Atau mungkin itu dari bahasa Banggai, tanya-tanya tidak ada yang tahu juga. Pulau Tikus terletak persis di sebelah barat laut dari Pulau Peling, pulau terbesar di Kabupaten Banggai Kepulauan. Pulaunya kecil, tidak terlalu besar, hanya sepuluh menit untuk mengelilinginya saat surut dan hampir setengah jam saat pasang naik. Pulau Tikus tidak berpenghuni, hanya ada burung, pohon kelapa dan pinus.

Terdapat tiga gubuk tempat nelayan atau para pemetik kelapa beristirahat, satu di sebelah utara dan dua di sebelah selatan. Terdapat pula bekas pondasi bangun dan kamar ganti-bilas yang sudah tidak terpakai lagi. Tampaknya dahulu pulau ini sempat menjadi tempat wisata bagi warga Banggai. Menurut Ireng, kini yang mengunjungi Pulau Tikus hanya wisata mancanegara yang hendak melakukan diving di sekitar pulau. Kadang kala, para ekspatriat dari kilang gas di depan pulau juga suka berkunjung di akhir pekan.

Hari itu saya diajak teman sekantor, Natsir dan temannya Ireng untuk ikut memancing ikan di Pulau Tikus. Rencana kami berangkat minggu pagi dan pulang subuh keesokan harinya agar dapat masuk kerja. Bekal pun kami hanya membawa beras dengan lauk ikan hasil pancingan, jadi kalau tidak dapat ikan berarti kami cuma makan nasi tanpa lauk. Kami mulai melaut pada pukul sepuluh pagi dan sampai di Pulau Tikus dua jam kemudian. Laut terlihat cukup tenang walau mendung dan kadang sedkit hujan gerimis ikut menemani.

Mendekati pulau, kami bertemu kawan sesama nelayan, Ireng rupanya pengertian  sekali dengan suara hati perut saya. Daripada kelamaan harus mancing terlebih dahulu, yang belum tentu dapat, kami meminta tiga ekor ikan untuk lauk makan siang kepada teman sedesa Ireng tersebut. Alhasil, setiba di pulau kami langsung berbenah di gubuk, mencari kayu bakar, dan memasak nasi serta ikan hasil tangkapan (teman). Walau hanya nasi putih dan ikan bakar tanpa bumbu, namun sedap sekali. Apalagi ditambah sambal Ireng yang ekstra pedas. Huh hah.

Kenyang makan siang yang nikmat sekali, natsir dan Ireng mulai menyiapkan alat pancing dan pergi melaut. Sementara saya yang tidak begitu berhasrat untuk mancing lebih memilih tinggal di pulau untuk sedikit jalan-jalan dan tiduran di gubuk sambil membaca buku. Entah kenapa, membaca buku di tengah alam menjadi kebiasaan saya ketika berpergian. Ini yang saya sebut dengan bersantai sesantai-santainya. Seperti saat seharian membaca buku di Danau Segara Anak sementara teman pada asyik memancing ikan.

“Hanya tiga ekor ikan kerapu merah berukuran dua jari tangan?” Haha.. tawa saya mengejek kedua teman dari Kintom ini. Ya, itulah hasil tangkapan mereka dari siang sampai menjelang magrib. Arusnya deras, kilah mereka. Namanya memancing, kadang dapat banyak, kadang sedikit. Dan di tengah canda tawa itu, kami pun menyadari tiga ekor itu adalah lauk makan malam kami.

Untungnya, saat menyiapkan api unggun untuk makan malam, datanglah Pak Ibrahim, bekas guru kedua teman saya ini. Walau berprofesi sebagai guru, bapak satu ini dengan rutin melakukan hobinya untuk memancing di akhir pekan. Pak Guru menawarkan hasil tangkapannya untuk dijadikan lauk. Lima ekor ikan besar-besar dikeluarkan dari boks di perahunya. Tambahan sambal dabu-dabu yang lezat sekali. Ah, hidup itu memang nikmat.

Selepas makan malam, kami melaut kembali, memancing ikan dalam gelap malam sampai pagi. Namun, setelah membuang jangkar yang harus diulang berkali-kali, ternyata arus di bawah permukaan sangat deras, tidak seperti biasanya. Kail yang dilempar pun selalu terbawa arus. Baru sejaman di tengah laut, Ireng memutuskan untuk kembali ke pulau dan tidur saja, percuma karena ikan tidak bakal makan umpan.

Saat itu pukul delapan malam, dan tiga jam kemudian kami sudah pergi melaut lagi, bukan untuk mancing tetapi pulang menghindari badai yang akan datang. Perjalanan pulang berjalan lancar walau memakan waktu satu jam lebih lama. Mungkin karena saat pulang kami tidak melalui jalur seperti waktu berangkat dengan lurus ke arah kilang gas yang bercahaya terang bak kapal pesiar raksasa baru kemudian membelok ke Mendono, Kintom. Membentuk seperti huruf L.
 
Membaca di Pantai.

Ikan Berenang Bebas di Karang.

Gubuk Tempat Kami Bermalam.

Mempersiapkan Pancing.

Bekas Pemandian/Ganti Baju.

Ireng Bersiap Melaut.

Gubuk di Sisi Selatan.

Senja di Pulau Tikus.

Dalam gelap malam yang hanya ditemani taburan bintang di langit kami berlayar dalam diam. Mungkin terlalu lelah atau malas bercakap sambil berteriak demi mengalahkan deru kedua mesin perahu. Dalam hati bersyukur masih bisa menikmati keindahan alam malam itu dengan teman-teman yang baik. (dm 11 Februari 2015)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...