Kalau baca di artikel-artikel,
Papandayan itu gunung buat pemula mengingat jalurnya yang jelas dan tidak
begitu ngetrack kalau anak gunung
sering bilang. Sumber air melimpah ruah, pun saya kesana bersama seorang teman
yang notabene asli daerah situ dan anak gunung tulen. Tapi tak dinyana,
disanalah saya merasakan menerobos ilalang setinggi 2 meter, naik pohon untuk
mencari jalur, bahkan turun dari tebing yang terjal.
| Perjalanan menuju Pondok Salada. |
Oke, mari cerita dari awal. Secara
garis besar jalur Papandayan memang landai. Dari Basecamp ke Pondok Salada,
tempat yang lazim dipakai pendaki untuk berkemah, dapat ditempuh dalam 2 jam.
Di sepanjang perjalanan, pertama-tama kita akan melewati kawah putih luas
dengan bau belerang yang menyengat, so pastikan bawa slayer/masker. Selepas
kawah kita akan disuguhi jalan setapak dengan tetumbuhan di kiri-kanan, jalur
jelas walau ada sebagian yang terkena longsor.
Pondok Salada sendiri berupa
hamparan rumput yang luas dengan banyak sumber air. Di sini kita sudah bisa
menjumpai bunga eidelweis. Jadi memang lokasi yang tepat buat berkemah,
bayangkan pagi-pagi di depan tenda, memasak sarapan sambil bercengkrama
kemudian disuguhi pemandangan eidelweis. Bah, nikmat sekali kawan!
| Edelweis Pagi Hari di Pondok Salada |
| Perjalanan Melewati Hutan Mati. |
Tujuan berikutnya adalah Tegal
Alun, hamparan eidelweis yang jauh lebih indah daripada Pondok Salada. Untuk
menuju kesana kita akan melewati hutan mati, enaknya seh jangan jalan pas malam
karena view hutan mati ini sayang dilewatkan ama jepretan kamera, plus model
pastinya, hehe.. Kurang dari 2 jam Tegal Alun sudah dapat kita jamah. Biasanya
pendaki hanya sampai disini, karena puncak Papandayan yang sesungguhnya cuma
berupa jalur yang dikelilingi pohon-pohon. Macam kalau ke Argopuro, orang lebih
sering hanya ke Puncak Rengganis ketimbang puncak sebenarnya.
Berhubung penasaran dan perasaan
“masak seh gak nyampe puncak”, kami gak berhenti di Tegal Alun. Lanjut puncak
kawan!
Jika kawan memutuskan ke puncak,
bisa meninggalkan peralatan di Pondok Salada atau seperti kami –yang nanti
silahkan putuskan sendiri tepat atau nggak– membawa seluruh peralatan sekalian
langsung ke Basecamp. Jalur ke “puncak” cukup jelas, diawali dengan sabana
kecil, kemudian dilanjut dengan ilalang setinggi 2 meter lebih, baru perjalanan
dilanjut dengan pepohonan yang rimbun. Di sepanjang jalur “puncak” kita bisa
melihat kawah di sebelah kiri, jadi sebenarnya kalau ke puncak kita cuma
memutari pinggiran kawah Gunung 2.665 mdpl tersebut.
Selepas jalur menanjak yang lumayan
landai perjalanan dilanjutkan dengan jalur turun yang lumayan terjal. Menukik
turun terus sampai kita dapat melihat menara pandang di basecamp. Nah, dari
sinilah perjalanan indah itu dimulai.
| Tegal Alun. |
| Edelweis di Tegal Alun. (Foto by Beta Handa) |
Ketika menemukan persimpangan ke
arah basecamp dengan acuan menara pandang (kebetulan yang tau jalan di
belakang) langsung saja saya ikuti. Ambil garis lurus saja, ikutin jalur yang
ada sampai… damn, buntu! Rimbunnya ilalang setinggi 2 meter lebih menghalangi
jalan, membuat saya dan teman merangkak, melompat, bahkan menerobos. Sempat
juga memanjat pohon untuk sedikit mencerahkan orientasi karena tidak bisa lagi
melihat menara pandang, acuan kami saat itu.
Lega setelah berhasil keluar dari
ilalang cuma berlangsung semenit karena melihat jalan buntu lagi: pinggiran
sungai sedalam 3 meter. Pilihannya cuma dua, balik arah atau lanjut. Yah,
namanya juga anak muda, masak suruh balik arah seh, hehe.. Setelah menilik
medan lebih seksama, sepertinya bisa dibuat turun, sedikit beresiko seh, tapi
bisalah! Berpegangan pada rumput kering dan batuan labil “meluncur” juga kami
sampai bawah. Fiuh, finally!
| Jalur ke Puncak. |
| Tunas yang Baru Tumbuh di Sepanjang Jalur Puncak. |
Sampai di basecamp pukul 5 sore,
hampir 4 jam perjalanan dari Tegal Alun. Kalau dipikir-pikir sama saja kalau
kita balik lagi lewat Pondok Salada, bisa lebih cepat malah mengingat jalurnya
landai. Yah, tapi turun lewat jalur “puncak” juga gak buruk-buruk amat kok.
Ohya, untuk menuju Papandayan bisa dari Kampung
Rambutan-Garut 35k, turun di Terimal Guntur lanjut elf arah Cisurupan 10k. Ntar
berhenti di Simpang Cisurupan, dari sini harus naik pick up (nyarter) atau
ojek. Harga pick up 100-200k bisa diisi sampai 10 orang, ojek 30k. (dm 04/13)
keyen..
ReplyDeletemakasie. :)
Deletekeyen..
ReplyDeletefotoku cakep ya.. mm kenapa gak ada yang zoom muka sih :*
ReplyDeletesory Bet, di bagian FAQ ada keterangan "forbiden" itu foto kategori itu. :P
ReplyDelete