[25-26 Desember 2010]
Sudah lama Pulau Sempu menjadi headline di obrolan kami, empat buruh pabrik yang jenuh dengan segala rutinitas produksi tetapi belum punya cuti. Dan akhirnya rencana kami bisa terlaksa ketika suatu hari libur nasional jatuh di hari sabtu, ya SABTU, bukan jumat atau senin. Sudah banyak artikel terkait yang mengulas keindahan pulau satu ini, karena itu disini saya ingin share tenang betapa gilanya perjalanan kami kala itu. Travelling isn’t about the destination, but the journey, is it?
Sudah lama Pulau Sempu menjadi headline di obrolan kami, empat buruh pabrik yang jenuh dengan segala rutinitas produksi tetapi belum punya cuti. Dan akhirnya rencana kami bisa terlaksa ketika suatu hari libur nasional jatuh di hari sabtu, ya SABTU, bukan jumat atau senin. Sudah banyak artikel terkait yang mengulas keindahan pulau satu ini, karena itu disini saya ingin share tenang betapa gilanya perjalanan kami kala itu. Travelling isn’t about the destination, but the journey, is it?
Plan
kami sederhana, berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen untuk
dilanjut dengan moda aspal ke Pantai Sendang Biru, tempat penyebrangan ke
Lokasi Cagar Alam ini. Sementara untuk pulang, tiga teman saya memilih jalur
udara dari Surabaya dan saya dengan Matarmaja lagi menuju Jakarta. Let see our
plans goes.
[12/24
11.30] Bolos, eh izin maksud saya, ehem, demi mengejar kereta Matarmaja arah
Malang, maafkan kami Pak Bos, hasrat kami bukan mengejar-ngejar hasil produksi,
hehe… Berkat packing yang lama dan satu teman masih tertahan di kantor,
Matarmaja pun tinggal kenangan. Putar haluan ke Plan B: Kertajaya, turun di Surabaya
lanjut naik bus sampai Malang. Bisa dipastikan pula kami tidak mendapat tempat
duduk, kereta api kala itu masih getol sekali menjual tiket berdiri walau
seluruh gerbong sampai kamar mandi sudah overload.
[12/25
07.00] Setelah merasakan kereta ekonomi yang nikmat tiada tara sampailah kami
di Surabaya. Bertemu dengan rekan bonek satu kantor yang kemarin tertahan di kantor,
ternyata dia berangkat naik kelas bisnis dengan harga setengah tiket ekonomi
kami dan sampai Surabaya lebih dulu! Arrghh… rasanya kek beli steak dapat
kentang, sementara dia beli kentang dapat steak!
[12/25
12.00] Lumpur Lapindo membuat perjalanan Surabaya-Malang molor gak karuan. Mana
harus pindah kelas, dari bus AC ke bus non AC yang suempek. Baca di artikel
angkutan dari Pasar Turen ke Pantai Sendang Biru terakhir pukul 3, sementara pukul
12 siang kami masih stuck di Lapindo. Panik!
“Kita
naik taksi aja ya dari Arjosari ke Pasar turen?”, kata teman saya, sang Mr. GPS.
Tanpa babibu, oke, jawab kami. Padahal plan A kami yaitu naik angkot dari
Terminal Arjosari ke Terminal Gadang baru lanjut ke Pasar Turen, tentunya jauh
lebih murah daripada taksi.
Sekali
lagi kami menikmati “nikmatnya” angkutan Indonesia. Mobil berkapasitas 9 orang
itu, saudara-saudara, diisi 23 orang plus barang bawaan yang seabreg! Dari
kursi ekstra yang jelas tidak ergonomis sampai atap ikut dipakai, bahkan, sang
supir pun rela dipangku demi menambah ekstra 15ribu rupiah. Itupun ditambah
jalanan yang lumayan bikin dag dig dug plus hujan lebat. Mantap Jaya!
[12/25
16.00] Sampai juga di Sendang Biru. Saatnya bagi tugas antara ngurus logistik
dan packing barang dengan ngurus perizinan dan carteran perahu buat nyebrang.
Setelah sedikit adu mulut dengan rombongan rese yang mau menang sendiri soal
ongkos nyebrang dan sewa guide sejam kemudian kami sudah menjejakkan kaki di
Sempu! Horraay!
[12/25
17.00] Setelah perjalanan dengan kopaja-kereta-bus-taksi-angkudes-perahu,
sekarang saatnya dengan alat angkutan paling hebat: our own foot! Tetapi
sebelum itu isi perut dululah dengan lontong pecel yang tadi dibeli di pantai.
Karena bukan tempat wisata, di Sempu tidak ada yang menjual makanan, oleh
karena itu jangan sampai lupa membawa logistik.
Ketika
orang menyebut Sempu, pasti yang dimaksud adalah lagunanya. Dan dari titik
penurunan perahu membutuhkan waktu 3 jam untuk menuju kesana. Kondisi medan
yang harus dilalui berupa jalan setapak berlumpur dan berbatu, ditambah lagi kami
harus menempuhnya di malam hari ditemani hujan dan ketonggeng di sepanjang
jalan.
[12/25
20.30] Finnally, we make it! Yeaahh! Sampai juga kami di tujuan kami selama
ini: Lagoon of Sempu Island!
Mencari
tempat tenda yang aman dari pasang dan angin ternyata susah juga, but finally
we found a place. Setelah ganti pakaian kering dan makan, tampaknya semua sudah
tidak bernafsu untuk chit chat, langsung menuju alam mimpi.
[12/26
11.00] Tak terasa hari sudah siang, setelah gila-gilaan main air dan pecah
semangka, ya kami membawa semangka utuh saat itu. Tak terasa pula suasana yang
tadinya hingar bingar oleh pengunjung lain menjadi sepi sekali, nampaknya kami
adalah rombongan terakhir yang masih tinggal. Sempu telah melenakan kami.
[12/26
19.00] Menyelusuri perjalanan yang sama seperti kemarin, pukul 7 malam kami
baru bisa menjejakan kaki di Malang kembali. Pupus sudah rencana naik
Matarmaja, naik bus juga tidak yakin bakal sampai Jakarta tepat waktu,
tampaknya moda udara menjadi pilihan yang paling bijak. Karena itu saya
putuskan ikut ketiga teman saya ke Surabaya.
Perjalanan
ke Bandara Juanda juga bikin hati deg-degan, pesawat berangkat pukul 10 malam,
sementara pukul 7 masih di Malang. Mana tidak ada bus yang mau memungut kami
kala itu. Berpacu dengan waktu, kami putuskan untuk mencarter angkot dari
Malang sampai Bandara Juanda, Surabaya. Doa kami kala itu cuma satu: semoga di
Lapindo tidak macet.
[12/26
21.30] Berkat Pak Supir yang baik hati, beliau memacu angkotnya demi kami
berempat hingga tiba di bandara tepat waktu. Tak berlama-lama kami langsung
check in dan saya hunting tiket ke Jakarta. Sialnya tiket buat hari ini dan
besok habis dan gondoknya penerbangan malam itu delay 2 jam, haha..
Tak lama
setelah melepas kepergian ketiga teman saya, langsung saya mencari tempat buat
tidur. Untungnya Bandara Juanda mempunyai ruangan yang luas bagi para pengantar
di lantai dua. Mendapatkan tempat yang strategis dekat colokan listrik, buka
SB, langsung terlelap.
[12/27
06.00] Pagi-pagi saya sudah standby di area depature dengan pasang muka bingung
agar didatangi calo tiket. Hehe.. ini trik kalau semisal kawan kehabisan tiket
pesawat dan harus berangkat hari itu juga. Saya sudah mempraktekannya 3-4 kali
dan selalu berhasil, harga pun tidak terpaut jauh malah kadang lebih murah. So,
dengan atas nama Ms. Linda Mariati saya meninggalkan Kota Pahlawan untuk
kembali ke rutinitas kantor.
Pada
perjalanan kali ini kami hampir menggunakan semua moda transportasi. Dari kopaja,
kereta, bus kelas bisnis, turun level ke kelas ekonomi. Dari taksi sampai
sampai angkutan pedesaan yang tidak mengenal definisi kata nyaman. Dari perahu
dengan solar sampai pesawat terbang dengan avtur. Life is a journey, isn’t it?
(dm 4/13)


No comments:
Post a Comment