Tingginya
cuma 792 mdpl, mungkin lebih cocok jika disebut bukit kali ya. Bersama Gunung Bonggok
dan Parang, gunung ini terletak di sekitaran Waduk Jatiluhur. Lokasi persisnya
berada di di Kampung Panunggal, Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani,
Purwakarta, Jawa Barat. Akses ke sini cukup mudah, tinggal keluar tol
Purwakarta dan ambil arah kanan. Set GPS atau tanya warga lokal, pasti banyak
yang tahu.
![]() |
| Gunung Lembu. :D |
Saya sendiri
waktu itu hanya ngikut teman yang juga ngikut temannya (entah temannya juga
ngikut temannya lagi atau tidak, hehe..). Kami janji bertemu sepulang kerja di
Kampung Rambutan pukul sepuluh malam untuk dilanjut bus arah Purwakarta yang
lama sekali baru nongol, perasaan biasanya ada banyak sekali, entah kenapa pas
dicari kok malah tidak ada sama sekali. Sekitar pukul sebelas lebih, akhirnya
bus yang dinanti datang juga dan dimulailah jalan-jalan santai kami.
Temannya Temannya Teman
Sekitar
pukul satu pagi kami tiba di Purwakarta, turun di pintul keluar tol suasana
sudah sepi sekali. Hanya ada satu pedagang minuman dingin dan panas serta
beberapa penumpang yang menunggu jemputan. Tujuan kami selanjutnya adalah
mampir ke ‘Rumah Singgah’ dari temannya temannya teman saya. Semoga Bapak Ibu
Pembaca sekalian tidak bingung dengan soal pertemanan ini karena saya sendiri
sebenarnya juga bingung, hehe..
Karena hanya
ikut-ikutan saat lagi bosen dan diajak, saya manut saja saat diajak naik angkot kea rah Purwakarta Kota. Hanya
ada tiga orang penumpang angkot tersebut termasuk kami berdua, di tengah
perjalanan, tinggal kami berdua bersama Bapak Supir. Horor juga naik angkot
berdua jam setengah dua pagi.
Sampai di
perempatan Kota Purwakarta yang ada tugunya, kami ganti naik ojek. Sudah tidak
jauh lagi katanya, cari Gang Beringin Jalan Veteran, lurus terus, ketemu
perempatan masih lurus, nanti ketemu masjid di sebelah kanan pas perempatan
masih lurus, kemudian ada toko roti di sebelah kiri, nah rumah singgahnya ada
di belakang toko roti, masuk gang dikit. Haha… benar-benar Indonesia kan ngasih
petunjuk arahnya? Anehnya, kami sampai juga di rumah singgah tersebut.
Ternyata,
yang disebut rumah singgah yakni rumah tidak terpakai dari kakeknya temannya
temannya teman saya yang sudah tinggal di Jakarta. Rumah ini sering dipakai
berbagai komunitas yang hendak berwisata di Gunung Bongkok, Parang, atau Lembu.
Kebetulan saat itu sudah ada teman-teman dari Komunitas Tektok, komunitas yang
hobinya naik gunung secara tektok, naik pagi turun sore pada hari itu juga.
Hmm.. cara menikmati pendakian yang belum saya pahami betul dimana asyiknya
yang kebetulan nanti pagi akan saya lakukan untuk pertama kalinya,tektok naik
Gunung Lembu.
Saat itu
sudah pukul dua pagi namun ternyata masih lumayan rame kondisi rumah tersebut.
Sialnya lagi, niatnya mau langsung tidur sepertinya tidak bisa karena saking
banyaknya orang, sudah tidak ada cukup tempat untuk merebahkan badan, di lantai
sekalipun. Dan rupa-rupanya, mereka yang ada di situ juga belum kenal satu sama
lain, hanya dipersatukan oleh kekuatan media sosial melalui temannya temannya
teman!
Dari Rumah
Singgah kami diarahkan untuk naik mobil bak terbuka secara carter. Sialnya
karena temannya temannya teman saya hendak ke Gunung Parang semua, kami
terpaksa (lebih tepatnya dipaksa) membayar biaya tambahan 100k berdua.
Sementara biaya borongan sewa mobil yang senilai 500k dibagi rata 10 orang.
Belakangan saya ketahui ternyata jarak Rumah Singgah dan basecamp cukup jauh
dan jarak antara Basecamp Gunung Parang dan Lembu hanya terpaut beberapa ratus meter
saja, dekat sekali! Hmm… benar-benar komersil, masih lebih murah naik jeep dari
Tumpang ke Ranupane yang memakan waktu 3 jam melewati jalur yang curam.
Tektok Gunung Lembu
Kata teman
saya, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai di puncak sehingga kami
hanya membawa sebotol minum 1.5 liter untuk berdua. di Basecamp harus mendaftar
terlebih dahulu seharga 6k per orang. Dari sini,
jarak ke atas kurang lebih 2,1 km yang ditempuh dalam waktu 2-3 jam kalau
baca-baca di internet. Lumayan buat mengobati kangen akan gunung.
Berkat
berangkat dari Rumah Singgah yang sudah lumayan siang, kami memulai pendakian
juga menjadi lumayan siang pula, yakni pukul sepuluh pagi. Trek awal lumayan
menyiksa dengan jalur menanjak yang licin (saat itu kemaru, apalagi musim
penghujan) dan sedikit tempat berpegangan. Pemandangan sekitar dihiasi deretan
rumpun bambu yang lumayan rimbun. Kurang dari satu jam kami sudah sampai di Pos
1 yang berupa tempat lapang dengan beberapa warung yang menjajakan makanan dan
minuman ringan sampai kelapa muda. Hmm… jadi serasa piknik, hehe..
Dari Pos 1
ke Pos 2 di awal-awal lumayan landai, kemudian mulai berbatu dan sedikit curam,
hati-hati karena bebatuannya ada yang labil. Karena cuaca yang cukup terik,
saya pun mengeluarkan payung andalan saya, hehe.. Pos 2 ke Pos 3 kemudian
Puncak jalurnya sudah lumayan rindang. Kita juga akan melewati sebuah
pesanggrahan yang rupa-rupanya masih lumayan sering dikunjungi oleh warga
Purwakarta. Secara total, dari Pos 1 ke Puncak kami tempuh dalam waktu setengah
jam saja, sehingga total perjalanan dari basecamp satu setengah jam.
Puncak Lembu
cuma tanah lapang dengan pepohonan yang teduh ditambah plang bertuliskan puncak
yang terbuat dari kayu. Spot foto yang banyak beredar di dunia maya berada di
belakang batu besar, agak naik sedikit kemudian turun. Dari situ kita dapat
menikmati Waduk Jatiluhur dari ketinggian. Terlihat dengan jelas bentuknya yang
seperti amoeba dengan keramba-keramba yang hampir memenuhi seluruh
permukaannya. Tentunya lebih indah pada saat fajar atau senja.
![]() |
| Pintu Masuk Gunung Lembu. |
![]() |
| Jalan Naik. |
![]() |
| Pos 1. |
![]() |
| View dari Pos 1. |
![]() |
| Rehat Sejenak. |
![]() |
| Waduk Jatiluhur. |
![]() |
| Menuju Pos 3. |
![]() |
| Pos 3. |
![]() |
| Dwi and Umbrella. |
![]() |
| Minum Dulu. |
Sampai jumpa lagi Lembu, semoga ada kesempatan mengunjungi dua gunung ‘saudara’nya. DM 8 Maret 2016.












No comments:
Post a Comment