Tidak
selamanya trip berjalan lancar dan menyenangkan. Tidak selamanya pula kita
mendapat pengalaman indah yang patut dikenang. Pada trip saya ke Phi phi Island
salah satu contohnya, ketika keinginan dan rencana bertemu dengan kondisi alam
yang tidak bersahabat mengakibatkan hampir seluruh rangkaian perjalanan tidak
bisa dilaksanakan karena dipaksakan tetap jalan.
![]() |
| Susana di Kapal Saat Menuju Phi phi. |
Saat
jalan-jalan ke Thailand, Phi phi Island menjadi salah satu tujuan destinasi
kami, apalagi kalau bukan film yang diaktori Leonardo de Caprio, the Beach.
Membaca dari berbagai sumber dan rekomendasi teman baik, kami memutuskan untuk
menyebrang dari Krabi. Kalau melihat di peta, Krabi memang berjarak tempuh
lebih dekat dibanding dari Phuket, tentunya bertarif lebih murah pula, hehe..
Ketika menggunakan moda transportasi laut, kata mahal tentu selalu terngiang apabila kita hendak berpergian secara eksklusif. Pilihan paling realistis tentu saja ikut paket tour yang banyak ditawarkan oleh berbagai agen tour. Tidak begitu susah mencarinya, karena biasanya mereka siap sedia di kios kecil atau nebeng ke toko souvenir atau tempat makan di pusat keramaian tempat wisata.
Singkat
cerita, saya mendaftar pada salah satu agen tour untuk paket Phi phi Island
yang termasuk mengunjungi salah satu pulau kecil, ke Phi phi Dom untuk makan
siang dan dilanjutkan snorkeling, serta tentu saja menu utama mengunjungi Maya
Beach yang terkenal itu. Saya membayar 800 bath untuk satu orang. Cuaca sehari
sebelum pemberangkatan terik menyengat, pertanda baik semoga besok pun ikut
cerah, harapan saya saat itu.
Sayang
seribu sayang, keesokan harinya hujan mengguyur dengan derasnya sedari pagi.
Sampai pukul sembilan ketika kami menunggu mobil jemputan di hotel pun masih
belum ada tanda-tanda akan berhenti. Sepasang pejalan dari jerman yang
kebetulan juga hendak ke Phi phi membatalkan paketnya. Terbersit niat untuk
melakukan hal yang sama, namun tidak jadi karena harapan semu siang nanti bakal
cerah. Sambil menunggu waktu, iseng mengajak ngobrol dengan pejalan keluarga
yang ternyata hendak ke Phi phi juga dan sangat antusias ketika kami bilang
berasal dari Indonesia, ternyata mereka sering dan sangat menyukai Indonesia.
Senang mendengarnya.
Setelah tiba
di dermaga, baru kusadari ternyata banyak sekali wisatawan yang hendak
menyebrang ke Phi phi, dan semuanya tetap memaksa pergi. Agen-agen tour yang
banyak berjualan di pinggir jalan hanya sebagai penyalur dan semuanya berkumpul
di sini untuk dibagi dalam kelompok sesuai kapasitas perahu. Guide kami saat itu
bernama T-A-N, pemuda tinggi yang bersuara sangat lantang.
Remuk Redam Saat Naik Kapal
Kami diberi
sticker yang bertuliskan nomor kelompok agar memudahkan untuk mendata dan
diminta untuk mengingat dengan baik nomor dan bentuk kapal yang dinaiki agar
tidak salah kapal. Pantas saja diorganisir sedemikian rupa, karena ternyata ada
puluhan kapal yang hendak berangkat dengan tujuan yang berbeda-beda.
Tidak lama
kami naik kapal penumpang dengan tempat duduk menyandar ke samping yang
membentuk huruf U serta beberapa kursi di bagian tengah. Karena terlambat naik,
kami duduk di samping agak belakang yang ternyata sangat tidak nyaman. Kapal
berjalan sangat cepat menerjang lautan yang masih dilanda hujan bahkan badai.
Sial. Tubuh kami tergoncang-goncang tidak karuan. Mana tidak ada pegangan yang
nyaman. Beberapa kali tubuh terkena muntahan air laut yang masuk ke kapal.
Ketidaknyaman ini harus dijalani selama kurang lebih satu jam.
Terus
menerus tergoncang di dalam kapal menyebabkan istri saya pusing dan mual bukan
main, sehingga ketika sampai di pulau kecil pertama, kami tidak kepikiran lagi
untuk menikmati suasana pulau yang indah dengan laut biru – catatan, sampai
pulau hujan masih mengguyur dengan deras! Yang kami cari hanya teh panas manis
untuk memulihkan tubuh yang kedinginan dan mual. Untuk saja ada yang jual walau
dengan harga yang hmm… jangan tanya deh.
Pemberitauan
untuk naik kapal serasa himbauan masuk ke bilik siksaan. Tujuan kami
selanjutnya Phi phi Dom untuk makan siang dan snorkeling, untungnya hanya memakan
waktu sekitar 30 menit dan tidak dihantam ombak sekeras tadi, kami antri paling
pertama masuk kapal agar bisa duduk di tengah yang tentunya lebih nyaman,
hehe..
Setelah
makan siang yang lumayan nikmat dan teh panas, badan serasa lebih segar. Namun,
mendung dan gerimis masih setia menemani. Snorkeling pun terasa tidak begitu
nikmat. Apalagi yang dilihat juga tidak bagus-bagus amat, mungkin karena saya
sudah pernah mencoba di Karimun Jawa dan Togean sehingga panorama yang
disajikan saat itu serasa tidak ada apa-apanya, memang Indonesia masih lebih
indah.
Batal ke Maya Beach
Setelah
semua peserta kembali ke kapal dari snorkeling yang cuma ‘sekejap’, kami
diberitahu oleh Tan bahwa kapal tidak bisa melanjutkan ke destinasi utama, Maya
Beach karena air laut yang terlalu dangkal kalau melewati sela-sela pulau dan
ombak terlalu tinggi kalau harus
memutar. Sial! Kenapa tidak diinformasikan dari awal kalau tidak bisa ke Maya
Beach, tentunya mereka sudah paham sekali jika kondisi cuaca seperti itu tidak
bisa ke sana.
Banyak
wajah-wajah kecewa mendengar informasi tersebut. Padahal Maya Beachlah yang
sebenarnya mereka dan kami idam-idamkan. Menyembunyikan informasi agar para
wisatawan tidak membatalkan tripnya seperti tindakan penipuan saja. Sungguh
menyesal tidak membatalkan sejak pagi saja. Mana badan menjadi remuk redam
begini, tidak bisa kesampaian pula ke tujuan utama.
![]() |
| Tempat Berkumpul Sebelum Berangkat. |
![]() |
| Kelompok 19! |
![]() |
| Koh Mai Pai. |
![]() |
| T-A-N. |
![]() |
| Phi phi Dom. |
![]() |
| Sepasang Pasang Kaki. :D |
![]() |
| Goa di Phi phi Dom. |
![]() |
| Phi phi Island. |
![]() |
| Snorkeling. |
![]() |
| Pelabuhan Pemberangkatan Kapal dari Krabi. |
Dengan berat
hati kami kembali ke Krabi, langit masih mendung dan hujan gerimis masih setia
menemani. Sesampai di hotel, badan kami lemas bukan main, menggerakan badan
untuk beranjak dari tempat tidur saja seperti tidak kuat. Walau sudah mandi air
hangat, namun tetap saja terasa sakit semua. Saking lelahnya, kami tertidur
pulas sampai keesokan harinya, lupa untuk makan malam.
Trip kali ini
menjadi pelajaran berharga untuk lebih bertoleransi dengan alam, tidak
memaksakan kehendak ketika tanda-tanda sudah jelas di depan mata. (dm, 20 Maret
2016)












No comments:
Post a Comment