Sejak 2010,
Salak selalu menjadi wacana bagi kami berdua, saya dan Lei, teman naik gunung
yang sangat doyan ngopi (dan
akhir-akhir ini, lari). Saya hitung, sudah tiga kali rencana ke sana gagal
sebelum eksekusi, batal sebelum berangkat. Entah dari segi waktu yang tidak
tepat karena tiba-tiba ada keperluan mendadak atau tiba-tiba, entah kenapa,
kami berdua memutuskan untuk mengganti tujuan pendakian ke gunung lain, hehe..
![]() |
| Melewati Jalur yang Longsor. |
Di benak
saya, Salak selalu menjadi gunung yang penuh mitos. Sepertinya saya terpengaruh
dari cerita-cerita yang beredar seperti cerita mistis atau cerita tersesat
karena banyaknya percabangan yang harus dilalui. Horor pokoknya. Mungkin itulah
penyebab ‘pembatalan’ rencana pendakian-pendakian sebelumnya. Tanpa sadar,
benak saya mengatur agar tidak mendaki Gunung Salak. Mungkin saja.
Pada tulisan kali ini saya tidak ingin membahas mengenai bagaimana menuju Gunung Salak dan berbagai jalur yang dapat dilewati, tulisan-tulisan tersebut sudah banyak dkupas. Saya sendiri menggunakan moda kereta api dari Bogor untuk turun di Cicurug, sambung angkot dan ojek ke Cidahu. Ya, saya memilih menggunakan jalur Cidahu yang merupakan ‘jalur nasional’ pendakian Gunung Salak mengingat saya belum tahu jalur pendakian yang hendak dilalui. Jalan setapak di jalur yang paling sering dilalui tentunya lebih jelas dan semoga banyak penunjuk jalan yang tersedia.
Berjalan dalam Gelap Malam
Gara-gara
Kereta Pangrango molor satu jam lebih karena ada perbaikan lintasan di daerah
Sukabumi, kami sampai di Cidahu pukul sepuluh malam. Sempat resah harus memulai
pendakian pada malam hari di jalur yang belum dikenal, kalau saja tiba lebih
awal tentunya masih banyak pendaki yang memulai pendakian sehingga dapat mengekor
di belakang, hehe..
Untungnya
pada jam selarut itu masih ada satu rombongan yang hendak naik, mereka
berdelapan, sementara kami cuma berdua. Sok
kenal sok dekat membuka obrolan dengan tujuan dapat naik bersama. Yeah,
ternyata mereka juga hendak naik saat itu juga, repacking dan makan nasi goreng, baru pukul setengah sebelas kami
memulai pendakian.
Ohya, biaya
masuk ke Kawasan Taman Nasional Gunung Salak ini hanya lima ribu rupiah. Eit, jangan senang dulu, ada biaya
tambahan kalau hendak trekking di
sini sebesar lima ribu rupiah, dan jika kawan hendak berkemah di dalam kawasan
akan dikenai biaya tambahan lima ribu rupiah lagi. Sistem tiket yang aneh,
bukanya kalau hendak trekking atau
berkemah pasti masuk kawasan ya? Pemborosan kertas saja.
Lima belas
menit di awal perjalanan dengan teman rombongan yang baru ketemu tadi kami
masih berjalan bersama. Setelah istirahat untuk mengatur nafas dan membetulkan
tas dan melepas jaket karena panas, mereka meminta kami untuk jalan lebih dulu.
Okelah, karena saiangannya anak-anak muda usia belia yang tentunya berstamina
prima, kami pasti dengan mudah dapat disusul. Dari pos pendakian menuju pintu
masuk hutan masih berupa aspal dan ada warung yang berjualan di beberapa
tikungan.
Setelah
berjalan cukup lama, kami penasaran dengan rombongan di belakang yang tidak
kunjung datang. Sempat kami tungguin lama, namun tidak kunjung datang juga.
Ketika sudah bertemu kembali, eh, kami diminta untuk jalan duluan. Hmm… ini seh
bahasa halus untuk menolak jalan bersama kami. Tidak apalah, bukankah saya dan
Lei sudah sering naik gunung tanpa mengetahui jalur pendakian sebelumnya, hanya
berbekal tanya dan dugaan semata. Jadilah kami berjalan hanya berdua dalam
gelap malam. Terus terang, waktu itu saya sempat was-was, apalagi kalau bukan karena cerita-cerita horror yang saya
dengar dan kebetulan saat itu bertempatan dengan bulan Suro’. Merinding, hehe..
Rencananya
kami akan mendirikan tenda di Bajuri, lokasi yang dekat dengan sumber air
terakhir sebelum mencapai Puncak Salak 1. Jalur dari Pos Pendakian ke sini
enak, masih landai dan lebar. Batu-batu ditata untuk memudahkan para pejalan.
Satu setengah jam kemudian, pada pukul dua belas malam kami sampai di Bajuri.
Saat itu hanya ada beberapa tenda yang bermalam di Bajuri, suasana yang kami
suka, tidak ramai tetapi tidak pula terlalu sepi. Saat mendirikan tenda, tiba-tiba tenda sebelah menawari kopi
hangat, hmm.. rejeki anak soleh neh,
nikmat, hehe..
Sekitar
setengah jam kurang, rombongan yang tadi kami ‘ekorin’ sebagai penunjuk jalan
akhirnya sampai di Bajuri. Tampaknya mereka hanya istirahat sebentar untuk
minum kopi dan lanjut menuju Puncak Salak 1. Mereka sempat meminjam beberapa
gelas kami untuk membuat kopi yang sepertinya sampai pulang kembali ke bawah
lupa untuk dikembalikan. Saatnya istirahat!
Kawah Ratu dan Puncak Salak 1
Kata orang,
belum lengkap kalau ke Salak tetapi belum ke Kawah Ratu. Hal ini sempat jadi
polemik (lebay mode on) karena
ternyata jalur ke Puncak Salak 1 tidak melewati kawah. Bajuri ternyata adalah
persimpangan antara kawah dan puncak, kawah ke kiri, sementara puncak ke kanan.
Tujuan saya mendaki gunung selalu menuju puncak, sementara Lei ingin ke Kawah.
Akhirnya kami mengambil solusi yang menguntungkan kedua belah pihak: pergi ke
Kawah Ratu dulu baru kemudian ke Puncak.
Rencana
berangkat pukul lima pagi buyar karena terlalu nikmat di tenda, pukul enam juga
masih belum bisa move on dari tenda,
baru pada pukul setengah tujuh pagi kami siap pergi. Jalur ke Kawah Ratu
ternyata masih apik dengan batu-batuan yang ditata sepanjang jalan. Landai
walau di beberapa tempat kita harus menyebrang sungai, ada tiga sungai kecil
kalau tidak salah. Dari Bajuri ke Kawah hanya memakan waktu setengah jam.
Bagi saya,
pemandangan di Kawah Ratu biasa saja, masih lebih bagus di Papandayan malah.
Tetapi masih lebih bagus ketimbang di Pulosari. Hanya menikmati suasana
sebentar, mengambil beberapa foto, langsung kembali ke tenda. Sementara si Lei
memilih untuk lari, saya berjalan pelan menikmati suasana pagi. Nikmat sekali.
Pukul delapan
kami memulai perjalanan ke Puncak Salak 1, 2.211 mdpl. Secara total, butuh
waktu empat setengah jam bagi kami berdua untuk menuju puncak. Yah, lebih cepat
setengah jam dari waktu rata-rata yang katanya lima jam. Mungkin karena kami
saat itu tidak membawa beban berat, hanya air, bekal, dan perlengkapan darurat.
Untuk
menggambarkan jalur menuju puncak, kata ‘seru’ mungkin yang paling pas. Jalur
vegetasi yang rapat dan curam. Kaki dan tangan harus selalu siap sedia untuk
melangkah setapak demi setapak menuju puncak. Sebelum puncak bayangan ada satu
bagian jalur yang terkena longsor, cukup berbahaya untuk dilewati.
Alternatifnya dapat melintas di atas pohon rubuh atau turun agak memutar. Kami
memilih yang pertama.
Jika sebelum
puncak bayangan kita cukup menggunakan tangan dan kaki untuk mendaki, pada
jalur terakhir ini kita juga harus menggunakan tali. Bagian ini dikenal dengan Jalur Tebing. Saya
hitung ada enam titik yang sudah dipasangi tali atau webbing. Dari yang setinggi satu meter sampai empat meter harus
kita tempuh dengan bantuan tali secara vertikal. Melihat trek seperti ini saya
hanya berpikir: naik adalah satu hal, dan turun adalah satu hal lain yang
biasanya lebih susah, hehe.. Jalur
menuju Salak 1 benar-benar memacu andrenalin.
Terima kasih
yang tidak terhingga kepada para pendaki sebelum kami yang sudah merelakan tali
webbing untuk memudahkan pendaki
berikutnya.
Pukul
setengah satu kami sampai di titik 2,211 mdpl atau patok 51 dari titik nol di
Bajuri. Artinya lima koma satu kilometer yang ditempuh dalam waktu empat
setengah jam. Lumayan lama dan menguras tenaga. Puncak Salak 1 atau Puncak
Manik bagi saya juga biasa saja, memang kebanyakan gunung di Jawa Barat-Banten
memiliki puncak yang kurang sedap menurut saya. Dan memang pemandangan di
puncak bukan satu-satunya yang saya cari, di Salak saya malah lebih menikmati
jalur menuju Puncak alih-alih Puncaknya sendiri.
![]() |
| Helipad. |
![]() |
| Jalur ke Kawah Ratu. |
![]() |
| Kawah Ratu. |
![]() |
| Jalur ke Puncak Bayangan. |
![]() |
| Jalur Menuju Puncak Bayangan. |
![]() |
| Jalur Tebing. |
![]() |
| Hutan di Puncak. |
![]() |
| Puncak Manik. |
Pukul satu
lewat seperempat kami turun ke bawah melewati jalur yang sama dengan waktu yang
kurang lebih sama, empat jam! Hehe…
biasanya turun akan lebih cepat ketimbang naik, baru di Salak bisa
hampir sama. Sampai bertemu lagi (tidak dalam waktu dekat) Salak. Keep clean, safe, and fun climbing. (dm
28 Oktober 2015)










Lei dan kopi tidak bisa dipisahkan.
ReplyDelete