| Gunung Kerinci dengan view Danau Gunung Tujuh. |
Selama
pendakian kita akan menemui 3 pos dan 3 shelter. Entah kenapa ada yang disebut
pos dan ada yang dinamakan shelter, padahal dari luasnya juga sama saja. Dari
pintu rimba ke pos 3 trek masih terbilang landai walau sedikit menanjak.
Kenikmatan pendakian baru dirasakan dari pos 3 ke atas. Vegetasi hutan yang
rimbun akan menemani kita sepanjang pendakian sampai shelter 3. Dari sini,
jalur berganti dengan kerikil dan pasir seperti umumnya gunung berapi.
Pintu Rimba – Shelter 2
Jalur dari
pintu rimba ke pos 3 masih terbilang landai walau agak menanjak di beberapa
tempat dengan vegetasi masih cukup rapat. Waktu tempuh total dari pintu rimba
ke pos 3 yaitu 2 jam. Di tiap pos terdapat bangunan dari beton dengan atap
seng. Tdak ada sumber air di pos-pos ini.
| Pos Pendakian Gunung Kerinci. |
Shelter 1
dari pos 3 dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, itupun dengan diselingi istirahat
sebentar untuk makan siang. Jalur mulai menanjak dan terjal dengan vegetasi
yang makin rapat. Karena kemarin hujan cukup deras, jalur yang saya lalui kala
itu penuh dengan lumpur. Di shelter 1 terdapat sumber air walau agak jauh. Di
sini dapat menampung 5-8 tenda.
| Shelter 1 Pendakian Gunung Kerinci. |
Jalur ke
sheler 2 makin asoy dengan adanya
tanjakan vertikal setinggi kurang lebih 1 meter pada beberapa bagian. Sehingga
tangan dan kaki sebaiknya dapat bergerak dengan bebas untuk membantu berjalan.
Pohon-pohon tinggi dengan akar yang kokoh sangat membantu kita di sepanjang
jalur. Waktu yang dibutuhkan sampai ke shelter 3 yaitu 3.5 jam. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi
jalur sepanjang perjalanan dapat dilihat pada foto-foto berikut.
| Jalur Pos Shelter 1 ke Shelter 2. |
![]() |
| Jalur Shelter 1 ke Shleter 2. |
Untuk
bertenda saya dan rekan-rekan memutuskan untuk mendirikannya di shelter 2. Di
sini dapat menampung sampai 10 tenda dan terdapat sumber air yang tidak begitu
jauh. Sumber air berupa rembesan dari akar-akaran. Alasan lain kenapa
mendirikan tenda di shelter 2 adalah kondisi medan yang terlindungi dari angin,
berbeda dengan shelter 3 yang terbuka. Sementara shelter 3 yang juga memiliki
sumber air adalah lokasi bertenda yang ideal dari segi view karena tidak
terhalang vegetasi. Yah, tinggal dipilih mau bertenda dimana, sesuai selera dan
kondisi tenda. :)
Shelter 2 – Puncak
Demi berdiri
di puncak saat matahari terbit, kami relakan untuk bangun pukul 3 pagi. Setelah
packing dan sedikit mengisi perut, pukul setengah 3 pagi kami memulai
perjalanan. Sayang, dari 3 anggota tim, 1 orang memutuskan tetap tinggal di
tenda karena kondisi yang kurang fit.
Untuk menuju
shelter 3 saat itu kami menempuhnya dalam waktu 45 menit. Lumayan cepat
mengingat tanpa beban dan setelah beristirahat lama. Jalur menuju shelter 3
inilah trek sesungguhnya dari Gunung Kerinci, asoy tiada tara. Penuh akar-akar yang merintangi dan harus memilih
melewati jalur air yang dalam atau melewati pinggirannya yang terjal. Untuk
lebih jelasnya mungkin dapat dilihat pada foto-foto di berikut.
![]() |
| Jalur Shelter 2 -Shelter 3. |
| Jalur Shelter 3 ke Shelter 2. |
Dari sheler
3 jalur akan berganti dengan kerikil dan pasir mengingat di sinilah batas
vegetasi puncak Andalas. Pasirnya tidak selabil di Semeru, jadi lumayan enak
buat dipijak. Jika kawan pernah mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah, jalur
Gunung Kerinci mirip sekali dengannya. Tanpa hambatan berarti, pukul 6 kurang
10 menit sampailah kami di puncak. Suhu yang sudah dingin bertambah makin dingin berkat angin yang bertiup kencang. Entah
berapa suhu kala itu, yang jelas di shelter 3 saja sempat 5 derajat ungkap
seoarang rekan yang membawa termometer.
Angin dan
kabut yang kencang membuat keinginan untuk menikmati sunrise di puncak sirna sudah. Puncak Kerinci berupa pinggiran
kawah yang lumayan terjal. Jangan bayangkan lapangan luas untuk upacara di
puncak macam di Semeru, tempat datar untuk berpose bagi 10 orang saja tidak
ada.
| Jalur Menuju Puncak. |
Tidak tahan
dengan suhu dingin, setengah jam kemudian kami memutuskan untuk turun. Saat
mendekati shelter 3, kabut mulai hilang dan di kejauhan di sebelah kiri, DanauGunung Tujuh tampak jelas. Menggoda hati ini untuk merengkuh jernihnya air
danau tertinggi se Asia Tenggara itu. Setelah sarapan, kami melanjutkan
perjalanan turun dan pukul 4 sore kami sudah menginjakan kaki di Pintu Rimba
kembali.


bang dhani, mw tanya dong.travel padang - kersik tuo/sungai penuh brp tiketnya? punya no kontaknya ga ? bisa langsung turun di kersik tuo ? trims
ReplyDeleteada di chapter sebelum ini. :)
Deletemantapp, trims ya bro--informatif
ReplyDeleteterima kasih bro...
Delete